
~Ketika kau sembunyikan kesalahanmu, maka kecurigaan yang akan menguasaimu selanjutnya~
Eggy tidak mengerti kenapa lelaki di hadapannya malah tertawa terbahak, seandainya tangan lelaki itu tidak membekap mulutnya sendiri, suara tawanya akan mengalahkan suara musik yang mengalun pelan. Ange tidak tahu betapa dia sudah berusaha sangat keras untuk memberanikan diri mengungkapkan hal ini padanya, hari ini. Lebih tepatnya, Eggy tidak pernah menyangka bahwa Ange akan memberikan reaksi semacam ini, menertawakan perbuatan yang selama seminggu ini menghantuinya. Rasanya, Eggy ingin meledak.
Tanpa menunggu Ange menyelesaikan tawanya, Eggy meraih ponsel di atas meja dan beranjak dari atas kursi. Namun sebuah tangan menahan langkahnya. Eggy menatap mata pemilik tangan itu sembari memicing tidak mengerti.
“Lepasin! Kalau emang cuma mau ngetawain aja, lebih baik aku pergi!”
Eggy menghentakkan lengannya supaya terlepas dari genggaman Ange namun genggaman lelaki itu lebih kuat darinya.
__ADS_1
“Maaf, Gy, maaf! Tapi please, duduk dulu!”
Eggy mengikuti permintaan Ange walau dengan wajah ditekuk. Entah apa yang akan dikatakan lelaki itu tapi Eggy berusaha menahan diri untuk tidak segera pergi.
“Mau apa lagi?” Eggy duduk menyampingkan badan, tidak mau menatap Ange yang masih belum melepaskan tangannya.
“Habis kamu itu konyol banget,” Ange berusaha keras berbicara senormal mungkin tanpa tertawa lagi. “Sejak kapan kepentok tembok bisa menyebabkan orang linglung sampai nggak tahu jalan pulang?” lanjut Ange.
Eggy melirik Ange yang kini menatapnya dengan sungguh-sungguh, meyakinkan dirinya bahwa yang terjadi hari itu tidak separah dugaannya. Gadis itu memutar badan, kembali menatap lawan bicaranya.
“Sebenernya, ada satu hal yang perlu kamu tahu Gy, Jun sampai ke rumah. Jadi, apapun yang terjadi antara kamu dan Jun hari itu di stasiun, Jun selamat sampai rumah.”
__ADS_1
Kata-kata Ange terdengar cukup meyakinkan bagi Eggy. Lagi pula, meskipun tidak tahu secara pasti, lelaki di hadapannya ini ikut membantu mencari keberadaan Jun. Itu sebabnya juga, Ange pada akhirnya menghubungi Eggy dan menanyakan hubungan keduanya.
“Syukurlah,” ujar Eggy dengan lebih santai.
“Tapi, ada yang masih bikin aku penasaran. Apa yang sebenernya Jun curi dari kamu?”
Eggy menundukkan wajahnya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Gadis itu tahu, sikapnya saat itu benar-benar kekanak-kanakan. Apalagi itu media sosial. Seluruh penjuru dunia bisa saja melihatnya, entah bagaimana caranya. Emosinya bergerak lebih cepat dari akal pikirannya, itulah kelemahan Eggy.
“Itu cuma kebodohan yang aku perbuat,” ucapnya dengan suara lemah. “Menulis artikel di JalanJalan sudah aku anggap sebagai pekerjaan tetap sampai suatu hari, pihak situs itu tidak memberikan tema tulisan yang harus aku buat. Awalnya aku beranggapan kalau mereka masih mengolah tulisan yang masuk tapi dua minggu berselang, rasa penasaranku pun memuncak. Aku menelepon salah satu kenalanku yang memang pekerja tetap di sana. Darinya aku dapat kabar kalau jatah tulisanku sudah diberikan pada orang lain dan orang itu adalah Jun,” Eggy menyudahi ceritanya dengan tegukan air putih.
Dengan takut-takut, Eggy mencoba menatap Ange yang justru kini menunduk. Eggy meraih tangan Ange yang terkulai lemah di atas meja.
__ADS_1
“Itu bukan salahmu, kamu nggak tahu kalau aku dulu sempet kerja di sana. Itu terjadi sebelum kita deket dan aku tahu hal ini juga baru beberapa hari ini. Jadi, sungguh, kali ini aku nggak ada maksud buat nyalahin siapapun. Aku saja yang terlalu sembrono, reaksi aku terlalu over.” Eggy menggenggam tangan Ange untuk meyakinkan, ia pun kini tersenyum menatapnya. Beban di hati dan pikirannya terangkat setelah ia berhasil menceritakan semuanya. Tidak ada lagi ketegangan yang ia rasakan. “Lalu, gimana kelanjutan pencarian Jun?” tanya Eggy.
“Ada kemajuan yang nggak disangka-sangka,” jawab Ange. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi sedangkan tangan kanannya menyesap kopi yang tidak lagi panas. “Ada alasan kenapa tadi aku bilang kalau Jun pulang dengan selamat sampai rumah karena sepertinya, selama ini, ponsel Jun ada di sekitar rumahnya. Itu bukti terkuat kalau Jun pulang.”