
~Luka yang paling menyakitkan bukanlah yang terlihat tapi ia yang tersembunyi dalam dan tidak tertembus pandangan~
Malam sudah larut, kebanyakan orang biasanya sudah bersembunyi di balik selimut dan bergelut dengan mimpi. Berbeda halnya dengan Mario. Dia masih asyik mengobrol dengan wanita yang diajaknya pulang bersama setelah selesai rapat. Wanita itu masih mengenakan make up penuh, berkemeja putih dipadu dengan rok span hitam selutut. Blazer-nya ia sampirkan di sandaran sofa.
“Sayang, ternyata kamu nakal juga. Di kencan kedua kita ini, kamu udah berani ngajak aku ke rumahmu,” ucap wanita itu dengan manja. Dia menyandarkan tubuhnya pada Mario yang sedang mengupaskan buah apel untuknya.
“Demi bisa berdua denganmu lebih lama, mana mungkin aku melewatkan kesempatan langka semacam ini,” ucap Mario dengan senyuman. Tangan Mario menyuapkan potongan apel pada wanita itu. “Apa suami kamu menghubungi lagi?”
Wanita itu mengecek ponselnya lalu angkat bahu. “Sepertinya dia sudah tertidur karena menunggu terlalu lama,” ucapnya dengan acuh.
“Baguslah. Jadi, Kamila sayang, tidak ada lagi orang yang akan mengganggu kita,” Mario menjawil dagu wanita itu sehingga membuat wajahnya bersemu merah. Keduanya lalu saling berpelukan.
“Pa?”
Mario kenal dengan suara itu tapi dia tidak tahu kalau pemilik suara ini akan pulang hari ini. Baik Rin maupun Tiana tidak mengatakan apa-apa mengenai masalah ini padanya. Ataukah itu karena kelalaiannya yang tidak mengecek chat di grup keluarganya sendiri? Suasana di sekitarnya mendadak terasa panas namun justru keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya. Ia memutar kepala, menoleh ke sumber suara. Di sana berdiri anak sulungnya yang terlihat kaget dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
“Siapa wanita itu? Apa yang dia lakukan di rumah kita malam-malam? Apa yang sedang Papa lakukan dengan wanita itu?” Jun mencecarnya dengan pertanyaan.
Mario langsung gelagapan menghadapi semua pertanyaan itu, begitu pula Kamila. Wanita itu bersembunyi di balik tubuh Mario.
“Siapa dia, Mario? Bukankah kamu bilang anakmu menginap di rumah temannya?” bisik Kamila dengan suara yang amat pelan.
Mario mengabaikan pertanyaannya, dia lebih waspada terhadap apa yang akan dilakukan Jun yang berjalan semakin mendekat. Wajah anaknya itu mulai memerah. Jelas ia sangat marah.
__ADS_1
“Selama ini aku diam karena Papa sudah berjanji. Waktu itu Papa bilang kalau Papa khilaf, Papa tidak akan melakukan perbuatan semacam ini lagi. Papa bilang itu pertama dan terakhir kalinya Papa mengkhianati Mama,” teriakan Jun menggema ke seluruh penjuru rumah. Jika orang-orang di luar rumah benar-benar memasang telinga, mereka bisa mendengar semua yang dikatakannya.
Mario mengambil pisau yang tadi digunakannya untuk mengupas apel lalu mengarahkannya pada Jun yang bersiap menghampiri Kamila. Jun mendelik tidak percaya dengan apa yang dilakukan Mario padanya.
“Jangan Jun, menjauhlah darinya!” Mario berjalan maju menghampiri Jun yang bergerak mundur. Ia bisa melihat anaknya menatap tidak percaya atas perbuatannya ini. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya untuk menjauhkan Jun dari Kamila hanyalah pisau yang ada di tangannya. “Ini semua salah Papa, Papa yang memulainya.” Mario bergerak semakin maju dan Jun bergerak menjauh.
“Papa lebih memilih melindungi dia?” mata Jun memicing, dia mundur teratur hingga mendekati pintu keluar. “Kalian berdua tidak tahu malu!” teriak Jun.
“Pelankan suaramu, Jun!”
Kamila mengikuti keduanya dengan tatapan ketakutan. “Mario, dia anakmu. Jangan sakiti dia!” ucapnya dengan suara bergetar.
Jun melayangkan tasnya menghalau Mario yang mendekatinya. “Jangan coba-coba mendekat atau aku akan berteriak lebih keras biar siapa pun yang ada di sini mendengar! Ah!”
“Jun, maafkan Papa!”
Mario berlari menyusul anaknya dan Kamila mengekor di belakangnya. Jun tidak menghentikan langkahnya meskipun Mario berkali-kali memintanya untuk berhenti. Di hadapannya Jun jatuh tersungkur karena kedua kakinya yang tidak bergerak sinkron sehingga saling bertubrukan dan membuatnya jatuh. Jun berusaha berdiri tapi tenaga dan perasaannya yang terkuras membuatnya tidak mampu untuk berdiri kembali. Kepala Jun tertunduk, isakan pun terdengar.
“Jun, kamu tidak apa-apa?” tanya Mario. “Maafkan Papa karena melukaimu,” ucapnya penuh kekhawatiran.
“Tetap di sana! Jangan coba-coba mendekat,” ucapnya dengan tajam.
“Sebaiknya kita kembali ke rumah, kita obati lukamu, ya?” Kamila ikut bersuara. Meskipun ragu, dia berusaha mendekati Jun.
“Jangan coba-coba mendekatiku!” ulang Jun dengan lebih tegas, ia menghentakkan tangannya ke jalanan membuat lukanya kembali mengeluarkan darah.
__ADS_1
Kamila mundur kembali ke sisi Mario, Mario menggenggam tangannya menenangkan. Ia menatap wanita itu seolah berkata biar aku yang urus.
“Jun, dengarkan Papa! Kita kembali ke rumah dan bicarakan semuanya di sana. Lukamu juga harus diobati,” ucap Mario dengan suara yang lembut. Dia berjalan perlahan mendekati Jun tapi tangan anaknya itu terangkat memintanya untuk berhenti.
Jun bangun dengan susah payah. Tasnya yang tergeletak di aspal dia ambil dengan kasar. Tangannya yang tidak terluka mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipi. Kepalanya kemudian menoleh menatap Mario dan Kamila bergantian. Kemarahan, kekecewaan dan kesedihan masih jelas tergambar di sana. Bukannya berjalan menghampirinya Mario, Jun justru berjalan ke arah berlawanan. Mario dan Kamila otomatis bergerak mengikuti langkahnya.
“Jangan ikuti aku!” kata-kata Jun membuat keduanya langsung berhenti. “Kalian lebih baik urus urusan kalian, jangan anggap aku pernah ada untuk melihat semua kejadian ini. Dan …” tatapan tajam Jun membuat Mario menelan ludah, “jika Papa benar-benar menyesal seharusnya Papa tahu apa yang harus dilakukan dan jangan pernah minta maaf padaku, bukan aku yang Papa khianati.”
Setelah mengatakan semua itu, Jun melanjutkan langkahnya. Mario hanya menatap kepergian Jun. Dia tidak lagi melarang kepergian anaknya atau pun berusaha menghentikan langkahnya. Menurutnya, membiarkannya pergi adalah keputusan terbaiknya saat ini.
“Ayo kita kembali!”
Kamila ternganga mendengar perkataan Mario. Ia tidak percaya laki-laki di sampingnya itu membiarkan anaknya pergi begitu saja di tengah malam seperti ini.
“Mario, kenapa kamu biarkan dia pergi. Kejar dia!” Kamila menarik lengan Mario tapi lelaki itu mengabaikan usahanya. Mario terus berjalan kembali ke rumah. “Dia terluka, Mario. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya selama perjalanan?”
“Dia sudah terbiasa dengan hal itu. Tidak akan terjadi apa-apa padanya,” jawab Mario dengan suara dingin.
“Kamu gila, tetap saja dia anak perempuan,” Kamila berkeras membujuk.
“Tidak bisakah kamu diam sebentar saja?” suara Mario mulai meninggi.
“Tidak, tidak bisa. Selama kamu belum membawa anakmu kembali!”
Ia mengabaikan semua perkataan Kamila. Mario terlalu sibuk menenangkan dirinya sendiri. Dia yakin Jun akan baik-baik saja. Dia anak yang tangguh. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya.
__ADS_1