
~Kebiasaan membuatmu jadi tidak waspada~
Semalam adalah malam yang cukup menegangkan untuk Tiana. Meskipun dia berhasil memberikan kejutan pada kedua orang tuanya karena kedatangan yang tiba-tiba, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kedua orang tuanya jadi permasalahan yang cukup menguras pikiran. Baik Tiana maupun Mario harus meyakinkan mereka kalau kedatangan dia dan suaminya bukanlah tiba-tiba dan tanpa alasan. Mereka harus meyakinkan kalau perjalanan ini sudah lama direncanakan.
Untung saja Dania banyak membantu mereka. Tapi tetap saja, ayahnya terus saja mengajak Mario mengobrol hingga larut. Padahal mereka baru sampai selepas matahari terbenam dan harus pulang lagi pagi ini.
Tiana tidak bisa berlama-lama menghabiskan waktu di rumah orang tuanya. Mario harus menyiapkan diri untuk acara esok pagi. Setidaknya suaminya harus mendapatkan istirahat yang cukup.
Jadi di sinilah Tiana, tengah berhenti di salah satu rest area di jalan tol ketika matahari baru saja menyemburkan semburat hangat di atas bumi. Menunggu suami dan supirnya selesai ke kamar mandi. Sembari menunggu, Tiana membeli beberapa potong gorengan untuk sarapan. Meskipun ibunya sudah membungkuskan makanan untuk mereka tapi perutnya belum mau menerima makanan berat.
__ADS_1
Beberapa gorengan telah memenuhi perut Tiana tapi suaminya belum kembali juga. Untuk membunuh jenuh, dia membuka ponsel dan mengirimi Rin pesan hanya untuk memastikan anaknya itu sudah bangun. Hari Minggu biasanya anaknya itu masih bergumul di atas kasur, apalagi ada Edna yang menemani. Entah jam berapa mereka tidur, bangun pun pasti akan terlambat.
Pikirannya kemudian berkelana memikirkan anak sulungnya yang masih belum ada kabar. Entah harus berapa lama lagi dirinya menunggu. Semua usaha yang dilakukan polisi dan Rin seolah berjalan di tempat, tidak berkembang ke mana-mana. Suaminya sendiri sibuk dengan urusan di kantor, jarang sekali meluangkan waktu untuk sekedar mendengar keluh kesahnya. Malah terkadang Tiana merasa suaminya tidak mengkhawatirkan Jun sama sekali padahal anaknya itu menghilang tanpa kabar. Mario lebih sibuk dengan pekerjannya, atau mungkinkah semua kesibukan itu hanya pelarian?
Terkadang Tiana berpikir, mungkin saja Jun sudah tidak ada di dunia ini meskipun hatinya jelas menolak pemikiran itu. Selama tidak ada jasad, Tiana akan menyingkirkan pemikiran itu jauh-jauh. Tapi sampai kapan? Pertanyaan itu sering kali mengusik. Tanpa terasa, air mata mengalir begitu saja membasahi pipi Tiana. Rasa sesak memenuhi dada namun suara ponsel membuyarkan rasa sedihnya.
Suara nada dering itu bukan miliknya tapi berasal dari ponsel Mario. Tiana harus melongokkan badannya meraih tas di kursi depan. Suara nada deringnya semakin nyaring ketika Tiana mengeluarkan ponsel itu. Ibu Kamila. Nama yang tertulis di layar. Tiana tidak mengenal satu pun orang teman suaminya di kantor yang bernama Kamila. Apa mungkin ini teman barunya di pelatihan kemarin?
Bukannya mendapat jawaban, sambungan itu justru terputus setelah jeda hening beberapa detik. Tiana hanya bisa mengerutkan kening. Apa maksud penelepon ini?
__ADS_1
“Kenapa Ma?” suara Mario mengembalikan kesadaran Tiana yang masih menatap ponsel.
“Ah, ini, tadi ada telepon buat Papa dari Ibu Kamila,” jawab Tiana. Dia menyerahkan ponsel itu kembali pada suaminya.
Tiana mencoba memperhatikan ekspresi suaminya yang terlihat sedikit terkejut ketika dirinya menyebutkan nama Kamila namun tidak bertahan lama. Suaminya hanya berujar ‘oh’ vendek sebagai jawaban.
“Ada perlu apa katanya, Ma?” tanya Mario kemudian.
“Nggak bilang apa-apa. Pas Mama angkat, telponnya ditutup,” Tiana mencoba menjawab dengan senormal mungkin. Namun rasa penasarannya masih tertinggal. “Ibu Kamila itu siapa, Pa? Setahu Mama, di kantor nggak ada yang namanya Bu Kamila.”
__ADS_1
“Itu temen sekolah Papa dulu, beberapa bulan lalu kita saling kontek. Biasalah, nostalgia jaman sekolah,” jawab Mario dengan senyum terurai.
Tiana hanya bisa membalas dengan senyuman meski masih ada tanda tanya besar di benaknya. Kalau memang benar itu teman Mario, lalu kenapa harus memutuskan sambungan? Atau mungkin sinyal di sana yang kurang bagus sehingga sambungan telepon itu terputus? Tentu saja hal itu bisa terjadi, kenapa Tiana harus berpikiran yang tidak-tidak tentang suaminya sendiri. Ya pikirannya memang agak kacau belakangan ini.