
~All helping hand is needed~
“Rin, Rin, udah lama banget ya kita nggak ketemu. Tahu-tahu kamu udah segede gini. Kalau bukan kamu yang nyapa duluan, mana Mas tahu kalau ini si anak bawel yang suka ngintilin Jun kalau mau main,” ucap Ange sembari tertawa lepas.
Wajah Rin bersemu merah, tersipu malu dengan ucapan Ange. Gadis itu tertunduk menatap lantai. “Mas Ange masih inget aja, aku malah udah hampir lupa. Ayo Mas, masuk! Mama pasti seneng ketemu lagi sama Mas Ange.”
Ange mengikuti langkah Rin memasuki rumah. Suasana rumah itu sangat sunyi seolah aura kehilangan telah menyelimuti bangunan ini.
“Ma, coba liat siapa yang Rin bawa!” teriakan Rin menggema di seluruh penjuru rumah. Ange sampai berjinjit kaget mendengar teriakan yang tiba-tiba itu.
Ange mengedarkan pandangan menyisir bagian rumah yang bisa ditangkap indera penglihatannya. Setelah bertahun-tahun keluarga ini pindah, ini adalah kunjungan pertamanya ke rumah Jun. Jika bukan karena kabar yang diterimanya kemarin, entah kapan Ange akan punya waktu atau meluangkan waktu untuk berkunjung.
“Ange?”
Suara Tante Tiana menarik perhatian Ange. Dia berusaha menyunggingkan senyum lebar menyambut uluran tangannya. Meski sudah tidak bersisa, Ange melihat dengan jelas kedua mata Tante Tiana bengkak, ditambah ada lingkaran hitam yang menghiasinya.
“Apa kabar, Tante?” tanya Ange berbasa-basi.
“Ya, bisa kamu lihat sendiri Nge. Tante baik. Kamu sendiri gimana kabarnya? Sibuk apa sekarang? Keluarga kamu sehat?”
Secercah cahaya kegemberiaan terlukis di wajah Tante Tiana yang tadi terlihat bermuram durja. Ange merasa tersanjung karena kedatangannya bisa sedikit mengobati rasa kehilangan Tante Tiana.
__ADS_1
“Baik Tante, orang rumah juga sehat. Sekarang aku udah jadi kuli tinta di tabloid olahraga, Tan. Lumayan bisa sekalian jalan-jalan,” kelakar Ange.
“Sekarang kan kamu udah tahu rumah Jun yang baru, kapan-kapan main ke sini lagi, ya?” Ange selalu bisa melihat kesungguhan di balik kata-kata Tante Tiana. Sejauh ini, Tante Tiana adalah orang yang paling baik hati yang Ange kenal. Apalagi dia selalu sabar menghadapi tingkah kedua anaknya –juga gerombolan teman-temannya, yang seringkali bikin geleng kepala.
“Siap Tante!” Ange mengacungkan kedua jempolnya.
“Tante tinggal dulu, kalian lanjutin ngobrolnya, ya? Oh ya, ada sedikit cemilan, siapa tahu nanti lapar,” tambah Tante Tiana sebelum berlalu.
Suasana kembali hening ketika Tante Tiana meningglkan mereka berdua. Ange sebenarnya merasa sungkan untuk mengajukan pertanyaan ini tapi bagaimana pun dia punya tanggung jawab kepada teman yang lain. Mau tidak mau, Ange harus menanyakannya.
“Rin, sebenernya Mas Ange mau nanyain soal Jun,” ucap Ange ragu.
“Ada urusan apa Mas Ange sama Jun? Apa ada masalah?”
“Sebenernya, Jun punya hutang.” Meskipun Ange sudah mengatakannya dengan sangat perlahan, dia bisa melihat kata-katanya barusan membuat Rin kalang kabut. “Bukan hutang seperti yang kamu pikirin kok, Rin. Relax!”
Ucapan syukur dan hembusan napas lega meluncur dari mulut Rin. Ange tersenyum kecut menyadari ucapannya yang kurang tepat. “Kalau gitu hutang apa, Mas?” tanyanya.
“Hutang tulisan. Kata temen Mas, bosnya udah nagih-nagih terus dan belum ada kejelasan dari kakak kamu itu. Tapi kayaknya kalau bosnya itu udah tahu kalau Jun hilang, mungkin dia akan memberi sedikit kelonggaran. Lalu, gimana perkembangan pencariannya?” tanya Ange antusias.
“Masih gitu-gitu aja, Mas. Ada beberapa orang yang sempat menelepon tapi tidak ada yang benar-benar memberi informasi. Malahan ada yang iseng-iseng nggak jelas. Lapor sama yang berwajib juga belum banyak kemajuan. Apa mungkin Mas Ange punya informasi?” Rin menatap Ange penuh selidik, mencari kemungkinan dirinya menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
“Nggak juga, sih. Apa bener Jun pergi ke Yogja?” tanya Ange.
“Iya, Mas. Ada kerjaan katanya di sana,” jawab Rin cepat. “Sebenernya ada apa, Mas?”
“Nggak cuma keingetan sesuatu aja. Oh ya, setahu Mas, Jun punya hutang tulisan tentang kegiatan di Yogya dan beberapa wilayah di sekitar sana. Mas udah coba hubungi beberapa orang teman yang mungkin melakukan peliputan yang sama. Ketika di lokasi, ada yang sempat melihatnya walau cuma sekilas. Habis itu, ya udah. Lagian, katanya, nggak ada kejadian yang berarti selama di sana,” cerita Ange.
“Jadi kemungkinan Jun hilang di Yogya bisa dieliminasi, soalnya foto tiket udah dia kirimkan sebelum naik kereta,” ujar Rin walau lebih mirip gumaman untuk dirinya sendiri.
“Kemungkinan itu bisa dihilangkan tapi bisa juga dipertahankan tergantung dari jadwal kereta dan kapan foto itu diambil,” Ange melirik Rin yang kini tertegun tengah memikirkan sesuatu. Ange menyimpulkan sembarang, ada kemungkinan waktu ketika foto itu diambil dan jadwal keberangkatannya memiliki jarak waktu yang cukup jauh, setidaknya berjarak hitungan jam.
“Sebenernya, Jun ngirimin foto itu sehari sebelum jadwal kepulangannya,” Rin menggigit bibir bawahnya seolah merasa bersalah karena tidak menyadarinya sejak awal membuat Ange ikut tertegun. Lagi-lagi, gadis itu bergumam tidak jelas.
“Jangan salahkan diri sendiri. Dalam keadaan kacau seperti ini, hal-hal kecil seperti itu memang terkadang terlewatkan,” Ange menepuk pundak Rin sebagai dukungan. “Ah ya, boleh tahu kemana aja Jun pergi selama di sana? Siapa tahu info itu bisa berguna, mungkin ada informasi kecil yang terlewatkan lagi, biar Mas bantu cari,” Ange mencoba menawarkan bantuan yang langsung disambut dengan anggukan.
“Tentu saja, Mas. Bantuan sekecil apapun itu sangat berarti. Boleh minta nomor handphone Mas Ange? Biar nanti Rin kirim aja langsung ke sana!”
Rin menyambar ponsel Ange lalu menuliskan nomornya dengan cepat. Beberapa pesan dia kirimkan.
“Makasih infonya ya, Rin. Seneng juga bisa ketemu kalian lagi. Mas Ange pamit dulu, udah malem. Titip salam aja sama Tante Tiana, ya?”
“Iya, Mas. Aku juga makasih banget sama Mas Ange udah mau bantuin nyariin Jun. Thanks, ya Mas!”
Ange mengangguk sembari tersenyum. Setelah helmnya terpasang, ia memacu motornya meninggalkan Rin yang mengucapkan hati-hati sambil melambaikan tangan. Sebenarnya ada sebuah kata mengganggunya sejak tadi meski kemarin dia pun telah mendengarnya tapi detail perjalanan Jun yang telah Rin kirimkan padanya tadi membuat sebuah tanya muncul di kepalanya. Mungkinkah?
__ADS_1