
~Bahkan kerikil sekali pun sangat berguna ketika dia berada di tempat yang tepat~
Jaya menelisik setiap ekspresi yang dua kliennya tunjukkan ketika melihat hasil kerjanya semalaman. Jujur saja, kliennya kali ini agak pelit informasi sehingga dia harus bekerja ekstra. Meskipun begitu, Jaya idak bisa menyalahkan dua orang di hadapannya. Mereka baru kenal dan Jaya bukanlah siapa-siapa. Setidaknya bukan seseorang yang akan dipercaya begitu saja untuk menyelesaikan kasus.
Berdasarkan pencariannya semalam, Jaya menemukan sebuah foto yang diambil Jun dari dalam kereta. Melihat kening Rin yang berkerut dan saling berbisik dengan Edna, Jaya menyimpulkan kalau di antara mereka belum ada yang melihat foto itu. Berdasarkan foto itu, jangkauan pencarian bisa dipersempit. Tidak perlu mencari hingga ke Jogja
“Apa foto ini bisa dipercaya sebagai bukti kalau Jun dalam perjalanan pulang? Lagi pula, dari mana kamu mendapatkan foto ini?” pertanyaan sanksi itu terucap juga dari Rin.
Memang benar, foto yang Jaya jadikan bukti sebagai kepulangan Jun tidak secara gamblang menunjukkan sosok yang mereka cari. Hanya sebuah pemandangan kabur saat kereta mulai bergerak yang diambil dari balik jendela. Tapi jendela itu pula yang membuka mata Jaya semalam.
“Coba kalian perhatikan bayangan di jendela!”
Rin menutupi mulutnya yang menganga ketika berhasil menemukan apa yang Jaya maksud. Pandangan tidak percaya jelas terlihat dari kedua mata gadis itu. Jaya sendiri awalnya tidak yakin dengan apa yang dilihatnya karena sangat samar tapi jika orang yang sangat mengenal Jun pun memberikan eksperesi semacam itu, berarti bayangan yang terpantul di jendela memanglah orang yang mereka cari.
“Kamu nggak mengada-ada, kan? Ini bukan hasil editan, kan?”
Jaya terkekeh mendengar Rin yang masih sanksi dengan hasil temuannya. Memang ada gunanya dia melakukan manipulasi pada foto hasil temuannya? Jika dirinya benar-benar melakukan hal itu, tidak ada lagi yang mempercayai Jaya, bahkan hanya untuk mencari seekor anak kucing yang tersesat.
“Apa untungnya buat saya? Jika saya memanipulasi foto ini dan nantinya terbukti palsu, bukankah itu akan merugikan saya? Itu hanya akan menodai kredibilitas saya,” jawab Jaya dengan pasti.
Jaya tidak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan Rin untuk mempercayai hasil temuannya. Bukankah nama akun yang kini mereka lihat sudah jelas milik Jun?
__ADS_1
“Kamu punya Twitter?”
Rin menggeleng. “Dulu pernah punya cuma udah lama nggak pernah buka. Mungkin sekarang udah non aktif.”
“Jun bukan selebriti jadi kemungkinan adanya akun duplikat itu sempit kecuali kalau dia membuat dua akun. Foto pada profil Twitter ini adalah kakakmu, beberapa tautan yang dia bagikan sama dengan tautan yang dibagikan di media sosialnya yang lain. Bedanya, akun ini tidak seramai media sosial lainnya.”
Rin hanya bisa mendengarkan penjelasan Jaya tanpa banyak berkomentar.
“Saya juga menemukan sebuah posting-an dari Agatha Kamila –tiga kali dalam tiga hari berturut-turut dimulai pada tanggal 26 Oktober tahun lalu. Dia menuduh kakakmu sebagai pencuri hanya saja saya belum tahu apa yang dicuri. Apa kakakmu pernah berselisih dengan orang lain karena memperebutkan sesuatu? Seseorang?” Jaya meneruskan membeberkan informasi yang diperolehnya.
“Entahlah. Dia memang sering menjengkelkan tapi jika sampai berselisih di media sosial sepertinya belum pernah. Tapi kalau berdasarkan posting-an itu, orang yang bernama Agatha pasti benar-benar kesal pada Jun.” Rin hanya bisa angkat bahu. “Ada yang lain?”
“Sebenarnya ini status-status tahun lalu, tepatnya antara bulan Maret sampai April. Jun ada masalah dengan seseorang, masalah hati, patah hati mungkin, tapi tidak pernah sekali pun dia menyebutkan siapa atau masalah apa tepatnya. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan seseorang bernama Agatha tadi? Ada petunjuk mengenai hal itu?”
“Please, jangan terlalu percaya dengan statusnya yang seperti itu. Terkadang dia terlalu mendramatisir sesuatu, she is a drama queen in her own way.”
“So you are,” celetukan Edna dibalas sikutan Rin yang tepat mengenai ulu hatinya.
“Menurutku, status-status itu tidak ada hubungannya dengan kehilangan Jun. Abaikan saja!” sambung Rin. “Mengenai Agatha, bisa tolong cari tahu lebih lanjut?”
“Baiklah. Lalu, bagaimana dengan permintaan saya yang keempat?”
__ADS_1
Meskipun Jaya masih melihat keraguan pada Rin, dia bersiap merekam semua cerita Rin.
“Oh itu, baiklah. Sebenarnya, aku tidak bisa banyak bercerita tentang malam itu karena aku nginep di rumah Edna.” Rin tertunduk kemudian melanjutkan, “Rumah di blokku sedikit, hanya ada empat rumah termasuk rumahku dan malam itu bisa dibilang sangat sepi. Keluarga Kanaya –rumah pojok depan, pergi ke rumah tantenya. Tante Widya, tetangga samping rumah, pergi ikut acara ibu-ibu kompleks keluar kota, acara tahunan –Mama juga ikut. Suaminya tugas di luar negeri, jarang pulang dan anak-anaknya kuliah di luar kota. Mbah Sekar tinggal sendiri –biasanya ada Mbak Suti yang bantu-bantu di rumahnya tapi tidak pernah menginap. Lagi pula Mbah Sekar bukan orang yang suka bergadang jadi kalau pun …” Rin terlihat bergidig ngeri membayangkan hal yang mungkin terjadi. “Kalau pun malam itu …” suara Rani tersendat, “… kalau pun malam itu terjadi sesuatu, tidak akan ada orang yang tahu.”
Jaya menggosok pelipisnya dengan ujung pulpen, urat sarafnya menegang. “Jam berapa ayahmu pulang lembur?”
“Entahlah, katanya lebih dari tengah malam baru sampai rumah.” Rin terlihat mulai lelah menjawab pertanyaan Jaya.
“Petugas ronda?”
“Ada pertandingan bola disiarkan jadi mereka berkumpul di warung Mbak Sri, nonton bareng,” ucap Rin ketus, gabungan antara kesal dan marah.
Kemudian semua terdiam. Jaya menatap catatannya, berharap bisa menemukan sesuatu dari sana. Pasti ada sesuatu di sana tapi dia belum bisa melihatnya.
“Ada yang kamu perlukan lagi?”
Terusik oleh suara Edna, Jaya mengalihkan pandangannya menatap dua gadis yang sekarang memperhatikannya.
“Untuk sekarang cukup. Bila nanti perlu sesuatu, akan saya hubungi.”
“Hubungi aku juga kalau udah ada perkembangan,” ucap Rin.
Kedua gadis itu kemudian berlalu meninggalkan Jaya yang masih termenung menatap ponsel dan catatannya. Biarlah catatan ini ia pelajari nanti, ada yang harus dia kerjakan terlebih dahulu. Mencari tahu siapa Agatha Kamila. Sebuah akun terkunci yang memiliki foto profil kepala teddy bear.
__ADS_1