
~Lepaskan!~
Pagi tadi, setelah beberapa minggu berlalu semenjak kedatangannya, neneknya mengusulkan Ina untuk bertandang ke rumah tetangga sekitar rumah. Berkenalan, itu kata neneknya. Tapi kemudian neneknya menambahkan, beliau meminta Ina mengunjungi Tante Tiana, tetangga depan rumahnya.
“Kedatangan kamu mungkin bisa menghibur,” itu katanya.
Tapi bukan usulan neneknya yang Ina khawatirkan melainkan anak Tante Tiana yang kemarin menghabiskan pagi di teras rumah. Untungnya, ketika tadi Ina berangkat sekolah sosok yang dikhawatirkan kehadirannya itu tidak terlihat di teras depan rumahnya. Hal yang ia bisikan dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri adalah perempuan bernama Rin itu mungkin sudah mendapatkan apa yang dia cari. Tapi jelas, itu hanya sekedar kata-kata penghibur karena apa yang Rin cari masih ada di tangannya. Hari ini Ina bahkan membawanya ke sekolah.
Matanya sering kali melirik ke tempat benda itu berada sehingga menimbulkan tanya pada teman-teman sekelas. Apalagi setelah kejadian kemarin, saat konsentrasinya benar-benar buyar, pertanyaan yang terlontar bukan hanya satu dua.
Sampai saat ini, Ina masih memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan. Jika ia serahkan ponsel itu pada Rin, pertanyaan yang selama ini ia hindari akhirnya akan terlontar. Sayangnya, mentalnya belum siap. Ia takut apa yang akan diceritakannya nanti membawa bencana lain. Bencana yang lebih parah dari sekedar kehilangan salah satu anggota keluarga.
Lagi pula, dia seorang anak sekolah menengah yang belum mengerti permasalahan –entah apapun itu, yang sebenarnya dihadapi keluarga depan rumah neneknya. Sejauh yang bisa Ina lihat, mereka seperti keluarga yang harmonis tanpa permasalahan berarti. Tapi lagi-lagi, suara kecil dalam hatinya mengingatkan. Ina hanyalah anak kecil yang belum mengerti permasalahan orang dewasa. Ujung-ujungnya, helaan napas berat terdengar dari mulutnya.
Dengan memikirkannya saja membuat otak Ina berdenyut dan kepalanya melorot, tenggelam di balik buku tugas. Untung saja dirinya memilih bangku yang berjauhan dengan teman-temannya yang lain sehingga di jam pelajaran terakhir ini tidak ada yang mengganggunya dengan pertanyaan. Buku-buku yang berjejer di kanan kiri pun menjadi tameng, penghalau dari siapa saja yang ingin mendekatinya.
“Ina, mau nginep di sini?” celetukkan seorang temannya yang tiba-tiba membuat buku di sisi kanannya berjatuhan.
__ADS_1
Ina menatap satu per satu dari tiga orang temannya yang berdiri menatap Ina penuh tanya. Kenapa mereka menanyakan hal itu padahal pelajaran belum selesai.
“Bel pulang udah bunyi dari tadi, Na,” tambah temannya yang berkacamata.
Ina menatap sekitarnya yang ternyata sudah sepi. Hanya ada dirinya, ketiga temannya dan Pak Cipto, pengurus perpustakaan yang sedang merapikan buku-buku di rak. Pikirannya tadi benar-benar hanya terpusat pada apa yang ada di luar sana sehingga tidak menyadari keadaan sekitarnya.
“Tugasnya?” tanya Ina masih dengan tatapan kosong.
“Kita kumpulin bareng-bareng ke ruang guru,” temannya yang berkuncir menarik Ina keluar dari tumpukan buku sedangkan temannya yang menegur tadi membawakan tasnya.
“Buku-bukunya?”
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Ina. Mereka menyeretnya hingga ke hadapan Pak Cipto.
Meski pada awalnya Pak Cipto geleng-geleng kepala dengan kelakuan empat murid ini tapi akhirnya lelaki paruh baya itu mengiyakan.
“Tapi inget, besok harus bantu Bapak!”
“Siap, Pak!”
__ADS_1
Ketiga teman Ina menjawab dengan kompak lalu memberi hormat tapi Ina hanya mengangguk dan tersenyum canggung, merasa tidak enak hati karena meninggalkan buku-bukunya begitu saja. Perasaannya semakin tidak enak dengan memikirkan kemungkinan saat pulang nanti ada Rin yang menanti. Ina berdoa berkali-kali, berharap Rin ada kuliah atau ada keperluan di luar sana sehingga Ina tidak perlu bertatap muka dengannya.
Ina membiarkan kakinya mengambil langkah-langkah kecil, hatinya masih enggan untuk pulang. Di saat seperti ini, ia bersyukur jarak dari gerbang depan perumahan hingga rumah neneknya cukup jauh sehingga itu menjadi alasan lain untuknya berlama-lama di jalan. Padahal biasanya ia lebih memilih naik ojek *onlin*e dari sekolah tetapi hari ini dia memilih angkot dan dilanjut dengan berjalan kaki.
Usaha menghindar yang dilakukannya sedari tadi ternyata tidak bisa membuat sosok yang kini berdiri di hadapannya menghilang. Ina mematung beberapa detik. Kakinya hampir bergerak mundur satu langkah namun langsung berhenti. Ia ingin melanjutkan langkah tapi hatinya berat bahkan untuk mengangkat pandangan menatap wanita di depannya.
“Hai, kamu Ina cucunya Mbah Sekar, kan?” sapaan perempuan itu terdengar ramah.
Ina hanya mengangguk pelan. Ujung matanya mengintip Rin yang menatapnya dengan mata berbinar dan senyuman yang merekah lebar.
“Mmm, oh ya namaku Rin,” ucap Rin seraya menunjuk rumahnya. “Aku tahu kamu belum terlalu lama di sini, biar makin akrab, mungkin kapan-kapan kita bisa keluar bersama. Sore nanti, mungkin?”
Seingat Ina, tidak pernah ada orang dewasa –jika umur awal duapuluhan bisa disebut dewasa dan jelas Rin lebih tua darinya, yang mengajak seorang anak kecil menghabiskan waktu bersama. Lagi pula, mereka berdua tidak akrab sama sekali sehingga akan menghabiskan waktu bersama di suatu senja hanya untuk bercakap-cakap. Tentu saja tidak akan ada, kecuali jika ada sesuatu yang mereka butuhkan darinya.
“Maaf Kak, lain kali aja.” Ina hampir mengambil langkah seribu namun langkahnya terhenti saat Rin mengikuti arah Ina melangkah.
“Kalau besok gimana?”
Orang di hadapan Ina masih belum menyerah, begitu juga dengan Ina.
__ADS_1
“Aku pikir-pikir dulu, Kak!” Ina tidak mau peduli lagi walaupun Rin kembali menghadangnya.
Dengan wajah tertunduk, Ina melangkah mantap. Sekali pun pundaknya bersentuhan dengan lengan Rin, dia tidak berhenti untuk meminta maaf. Hanya satu yang ia inginkan saat ini: tempat tidurnya yang nyaman.