
~Be careful with what you wish~
Malam sudah semakin larut tapi Ina masih belum memejamkan mata. Bukan karena ada pekerjaan rumah tapi dia baru selesai menghubungi ibunya. Perbedaan waktu yang cukup besar antara tempat tinggalnya sekarang dengan tempat ibunya berada mengharuskan Ina menunggu waktu hingga larut baru bisa saling menghubungi.
Setelah menghubungi ibunya, Ina tidak langsung tidur. Tangannya sibuk membalas chat teman-teman dari sekolahnya yang terdulu. Ina baru dua hari tinggal di tempat ini, di rumah neneknya –Mbah Sekar. Tempat tinggal neneknya sepi, apalagi –menurut cerita neneknya, orang-orang di perumahan ini kebanyakan sedang pergi wisata tahunan jadi wajar saja kalau hanya ada sedikit orang.
__ADS_1
Dari hari pertama Ina tiba di sini, Ina belum melihat satu pun tetangga neneknya. Apalagi rumah di blok tempat neneknya tinggal benar-benar sedikit. Sekali pun ada yang menghuni salah satu rumah itu, mereka pasti sudah pergi saat Ina baru membuka mata dan pulang setelah Ina kembali menutup mata. Dulu Ina hanya mendengar hal ini dari temannya yang pernah hidup di kota besar dan sekarang Ina mengalaminya sendiri. Perumahan di kota benar-benar sepi dari pagi hingga malam. Terlebih sebagian besar waktu Ina habiskan di sekolah, ia tidak pernah tahu kapan orang-orang di sini saling bertatap muka. Yang bisa Ina dengar hanyalah bunyi deruman kendaraan di pagi dan sore hari. Rumah neneknya yang berada di awal blok membuat Ina bisa mendengar semuanya itu.
Seperti malam ini, saat suasana benar-benar senyap, Ina bisa dengan jelas mendengar suara sepeda motor yang melintas di jalanan. Seperti dua jam yang lalu, Ina mendengar suara sepeda motor yang belok ke blok tempat tinggalnya. Entah penghuni rumah mana yang baru pulang. Yang pasti bukan penghuni rumah ini karena hanya ada Ina dan Mbah Sekar yang tinggal di sini. Ketika Ina melihat ke jalanan, motor itu sudah masuk ke dalam salah satu rumah.
Untuk kedua kalinya, Ina mendengar suara motor yang berhenti di jalanan depan rumah. Ina melirik jam dinding. Hampir pukul satu dini hari. Ina penasaran siapa lagi yang datang di waktu seperti ini. Melalui celah gorden, Ina mengintip jalanan. Motor yang suaranya tadi Ina dengar sudah berbalik arah meninggalkan seorang perempuan dengan rambut kuncir kuda yang berjalan lurus memasuki rumah seberang.
Ina akhirnya melihat salah satu penghuni rumah di depan. Dua hari belakangan dia hanya mendengar suara motor keluar saat dirinya masih sarapan. Entah pulang dari mana sehingga perempuan itu baru pulang dini hari seperti ini. Jika hal ini terjadi di kampungnya, perempuan itu sudah jadi bahan gunjingan.
__ADS_1
Di bawah sorotan cahaya lampu jalan, Ina bisa melihat wajah perempuan itu bersimbah keringat. Wajahnya memerah, mungkin karena takut. Sesuatu dari dalam tasnya melayang keluar. Sepertinya tas itu mengenai pisau sehingga merobek bagian tertentu dan membuat isinya terbang, begitu pula dengan pisaunya. Cahaya lampu terpantul ketika benda itu melayang lalu jatuh lurus memasuki tempat sampah.
Ina mencengkram erat kain gorden, tubuhnya bergetar hebat. Mungkinkah perempuan itu seorang maling yang mencoba masuk ke rumah-rumah kosong? Ina membekap mulutnya ketika melihat ketiga orang di jalanan sana berlari menjauh, mereka saling berkejaran.
Tidak disangka Ina akan melihat adegan semacam ini secara langsung, bukan dalam adegan sebuah film. Sekali lagi, Ina mengintip jalanan. Belum ada satu pun yang kembali. Rasa penasarannanya mengalahkan rasa takut, Ina mengendap menuruni tangga lalu menyelinap keluar. Ina berhenti tepat di bawah lampu jalan tempat tadi dia melihat perempuan kuncir kuda itu berdiri. Matanya menatap lurus ke titik orang-orang itu menghilang.
Ina tidak mau berlama-lama, ia takut jika ada salah satu di antara mereka ada yang kembali dan memergokinya tengah berdiri di sana. Tepat pada saat itulah matanya menangkap pantulan cahaya dari dekat tempat sampah. Ina memicingkan mata untuk memfokuskan penglihatannya dan yang ia temukan adalah sebuah ponsel dan sedikit bercak darah. Bulu kuduk Ina meremang.
__ADS_1
Suara seorang laki-laki dan perempuan yang berdebat membuat Ina buru-buru memungut ponsel itu. Dia berlari secepat mungkin tanpa menimbulkan suara, karena ketergesaannya tadi dia tidak memakai alas kaki. Beberapa menit kemudian, Ina sudah kembali ke kamar dengan jantung yang berdebar kencang.
Satu hal yang Ina syukuri, dia sudah memadamkan lampu kamarnya sedari tadi jadi tidak ada seorang pun di antara mereka yang tahu kalau dirinya melihat kejadian malam ini.