She is Missing

She is Missing
Chap 36: 24/02 [1]


__ADS_3

~Katakanlah, meskipun itu pahit~


 


Rin masih menelungkup di atas kasur. Sekujur tubuhnya ia tutupi selimut. Matanya sudah terbuka sedari tadi tapi dia enggan untuk beranjak dari sana. Seluruh badannya lemas tidak bertenaga.


Semalam, Rin tidur tidak lebih dari satu jam. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan perkataan Ina sehingga ia melupakan rasa kantuknya. Terlebih lagi, setiap kali ia memejamkan mata otaknya secara otomatis memutar kembali adegan yang Ina ceritakan. Ina memang tidak tahu kejadian seutuhnya tapi jelas ayahnya yang menjadi penyebab hilangnya Jun dan dia sedang bersama wanita lain di dalam rumah, di tengah malam! Ada amarah yang bergemuruh setiap kali Rin mengingat hal itu.


Berbagai pertanyaan kemudian muncul di benaknya. Kenapa ayahnya bisa melakukan hal semacam itu? Apa yang harus ia katakan kepada ibunya? Bagaimana juga dia harus menghadapi ayahnya setelah ini? Haruskah ia katakan semuanya atau tidak usah sama sekali?


“Turun, yuk! Mumpung lagi pada keluar,” ajak Edna.


Ajakannya tidak mempan, Edna menarik paksa Rin keluar dari cangkangnya. Tarikan itu hanya mampu membuat Rin terduduk. Edna menariknya lagi hingga Rin benar-benar bangkit dari atas kasur. Rin berjalan bagai zombie yang dituntun menuruni tangga hingga dapur. Rin akan masih terus berdiri jika saja Edna tidak mendudukannya di atas kursi.

__ADS_1


“Pagi, Rin!”


Rin menoleh ke sumber suara. Ibunya Edna datang dari halaman belakang dengan satu keranjang sayuran segar –beberapa butir tomat, cabai merah dan cabai hijau juga sawi. Mereka tidak benar-benar sendiri. Rin memutar kepalanya kembali menatap apa yang ada di hadapannya. Rin tidak tahu apa yang ibu dan anak itu bicarakan, telinganya seolah tuli pada suara di sekitarnya. Pikiran dan jiwanya masih tertinggal di hari kemarin, di kelas kosong itu.


“Rin, makan dulu ya!” sentuhan lembut di lengan Rin sedikit mengembalikan kesadarannya.


Rin mengangguk kecil. Tangannya menyendok bubur ayam, mulutnya menyuap tapi lidahnya tidak benar-benar mencecap setiap rasa yang mampir di sana. Pandangan Rin masih kosong. Hembusan napas berat beberapa kali keluar dari mulutnya. Butuh waktu tiga puluh menit bagi Rin untuk menghabiskan semangkuk bubur.


“Terima kasih, Tante. Maaf Rin jadi ngeropotin,” ucap Rin sungkan.


“Kalau malam ini kamu masih mau nginep Tante ijinin. Tapi janji satu hal sama Tante, besok pulanglah! Orang tuamu akan khawatir kalau kamu terlalu lama meninggalkan rumah tanpa tujuan yang jelas, ya?” ujar Tante Anggun dengan sneyuman yang masih melekat erat di bibir mungilnya.


“Terima kasih, Tante!” Rin menggenggam erat tangan Tante Anggun sebagai tanda terima kasih.

__ADS_1


“Istirahatlah supaya tenagamu bisa pulih kembali! Biarkan mangkuk ini duduk di tempatnya, nanti Tante yang urus.” Tante Anggun mendorong Rin perlahan.


Edna menggandeng tangan Rin dan menggiringnya kembali ke kamar atas. Seperti anak penurut, Rin melangkah ke mana pun Edna membawanya. Sesampainya di atas, Rin memang tidak kembali tiduran tapi dia duduk terdiam di sana sambil memeluk kedua lututnya. Edna membiarkan Rin mengambil waktu sebanyak-banyaknya untuk menenangkan diri dan berpikir.


“Na, bagaiamana jadinya Mama kalau tahu masalah ini?” tanya Rin. Mata merahnya menatap Edna penuh tanya tapi sangat hampa.


“Apa kamu mau menyimpannya sendirian?” Pertanyaan Rin dibalas pertanyaan.


Rin menolehkan kepala menatap ponselnya. Setelah mengabari keberadaannya kepada ibunya semalam, Rin langsung mematikan ponselnya. Bagaimana cara menyampaikan kabar ini kepada ibunya?


-----


Kira-kira, bagaimana reaksi ibunya Rin saat mengetahui kebenaran dari hilangnya Jun?

__ADS_1


Selamat menikmati bab-bab terakhir "She is Missing"


Terima kasih atas seluruh like, favorite, share dan tips yang kalian berikan


__ADS_2