
~Ceritakanlah! Setidaknya kamu akan merasa lega~
12 Februari
Jef <3
Udah laporannya?
11.29
Udah
Tapi nyebelin banget!
Rese tuh petugas yang nerima laporan kita
11.29
Jef <3
Rese gimana?
Nggak mau terima laporannya karena udah kelamaan?
11.30
Bukaaaan…
Petugasnya ngeledekin gitu
Dia kayaknya nganggep kita kurang perhatian gitu sama keluarga
Dianya aja yang ga tahu kalau Jun tuh sering ngilang-ngilang nggak jelas
11.30
Jef <3
Sabar bu!
Emang petugasnya keluargamu
11.31
:( ikutan deh!
11.31
Jef <3
Iya, iya becanda
Jangan ikut emosian
Terus mau kayak gimana?
11.31
Pokoknya besok aku bakal balik lagi
Awas aja kalau laporannya belum diapa-apain
11.32
Jef <3
Terus Mama kamu gimana?
11.32
Baru kali ini liat Mama nangis sampe segitunya
__ADS_1
Biasanya, Mama nangis di kamar dan sok sok tegar
Walau kenyataannya, aku tahu Mama nangis
Matanya suka sembab dan hidungnya merah kalau udah nangis
Mama kira aku nggak tahu
11.37
Jef <3
Mungkin kamu pun akan sekhawatir itu jika nanti anak kita menghilang
11.37
Jeeeeffff
11.38
Jef <3
Ya, sayang?
11.38
Becanda aja!
11.38
Jef <3
Biar nggak stres dong
Menurut kamu, kakakmu itu ngilang ke mana?
11.39
Kalau tahu, nggak bakal aku bersusah payah bikin selebaran sama lapor polisi
11.39
Jef <3
Ok, ok, my bad
Pertanyaanku yang salah, kira-kira apa yang terjadi sama kakak kamu?
Apa mungkin dia kecelakaan?
Btw, ke mana dia pergi?
11.41
I’ve told you many times, dia ke Jogja
Mau bikin tulisan Chinese festival di daerah sana katanya
Entahlah, kalau emang ada apa-apa harusnya ada beritanya, ada kabarnya, ada orang yang menghubungi orang rumah
Tapi nggak ada kabar sama sekali juga aneh, kan?
Dia emang sering nyebelin, tapi ngilang kayak gini gak ada lucu-lucunya
11.43
Jef <3
Mungkin dia berubah haluan dan pergi ke suatu tempat
Mungkin ponselnya mati jadi dia belum sempat memberi kabar
11.43
__ADS_1
Kita sudah cukup lama ber-positive thinking
Itu juga alasan kenapa baru diputusin melapor hari ini
Kalau sampai harus menunggu lagi, mungkin tidak ada lagi yang akan mencoba mencarinya selain kita sendiri, and it won’t be enough
Babe, kita sambung lagi entar ya
Dania nelpon
11.45
Jef <3
Dania sepupu kamu itu?
Yah … padahal aku masih kangen nih
11.46
Dia nggak bakal nelpon kalau nggak penting-penting amat
11.46
Jef <3
Ok, ok,
I miss you
Miss you too, bye
“Halo, Dania! Ada apa?”
“Kak, Nenek telpon Tante Tiana,” jawab Dania tergesa.
“Apa? Terus gimana? Nenek udah tahu?” Jantung Rin berdegup kencang. Jika neneknya sampai tahu masalah ini, Rin tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan neneknya nanti. Hanya ambulans dan rumah sakit yang terlintas di pikirannya.
“Untungnya nggak. Tante Tiana kayaknya ngasih alasan bagus jadi Nenek nggak nanya lebih jauh.”
“Syukurlah!” Rin langsung bernapas lega, setidaknya ada yang membantu dirinya mengamankan masalah ini. “Kamu pastikan jangan sampe Kakek atau Nenek mendengar kabar ini, biar mereka cuma mikirin satu masalah aja.”
“Siap, Kak. Tapi, apa udah ada kabar tentang Kak Jun?”
Rin menekuk bibirnya. Memang tidak salah orang-orang bertanya hal itu, tapi ia jengkel karena dirinya tidak bisa memberi jawaban yang diharapkan. Dia sendiri berharap bisa mendapat kabar. Entah itu baik atau pun buruk.
“Belum, Dan. Semoga aja dengan bantuan polisi pencarian ini akan lebih cepat.” Semoga mereka benar-benar membantu.
“Ya udah, Kak. Aku cuma mau bilang itu aja. Salam buat Tante Tiana, semoga dia tetep sehat dan kuat, ya.”
“Thanks, ya, Dan. Jagain juga Kakek dan Nenek. Dan pastikan mereka tetap tidak tahu.”
Rin meletakkan ponsel di atas meja, menjauhkannya dari jangkauan sedangkan dia sendiri merebahkan diri di atas sofa. Dalam hatinya dia hanya berdoa semoga tidak ada lagi orang yang menanyakan hal yang sama. Yang sangat dia harapkan saat ini bukannya pertanyaan, melainkan kabar keberadaan kakaknya. Benarkah tidak ada seorang yang mengetahui keberadaannya? Rin benar-benar frustasi memikirkannya.
Sayangnya, harapan Rin sirna dalam hitungan menit. Ponselnya bergetar kua, membuat suara gaduh saat berbenturan dengan meja kaca. Dia membiarkannya bergetar cukup lama hingga berhenti. Beberapa saat kemudian ponsel itu kembali bergetar, layarnya berkedip menampilkan nomor yang sama. Pikirannya berkecamuk. Haruskah ia abaikan atau diangkat saja? Bagaimana kalau telepon itu memberikan kabar keberadaan kakaknya, bukannya sekedar menanyakan keberadaan Jun?
Dengan berat, diangkatnya panggilan tersebut. “Halo?”
__ADS_1