She is Missing

She is Missing
Chap 22: 19/02 [2]


__ADS_3

~Seperti halnya batu, semakin ditumpuk semakin berat~


 


Berkali-kali Eggy membulak-balikkan badan mencoba mencari kenyamanan di atas kasur tapi hati dan pikirannya belum juga tenang. Matanya menatap jauh ke atas meja di mana tadi dia meletakkan ponselnya. Berhari-hari Eggy mencoba menjauhkan dari benda itu hanya untuk menjauhkan dirinya dari satu orang.


Eggy sebenarnya tidak tega mengabaikan Ange sampai berhari-hari tanpa kabar. Tapi saat ini ia belum siap memberikan penjelasan dari pertanyaan yang mungkin akan dilontarkannya. Pada kenyataannya, sejauh ini Ange belum menanyakan pertanyaan apapun yang dikhawatirkan Eggy. Ange hanya bertanya seputar kabar dan kesibukannya. Seperti biasa. Semua ketakutan akan pertanyaan itu bersarang di kepalanya, Menguasai pikirannya. Membuatnya frustasi sendiri.


Mata Eggy bergerak menatap keluar pintu kamar yang terbuka, lurus ke arah pintu kamar kakaknya yang tertutup. Kakaknya sudah berangkat dari setengah jam yang lalu sehingga tidak ada siapapun yang bisa membantunya saat ini. Meskipun kakaknya sering usil tapi sedikit masukan darinya akan sangat membantu. Seaneh apapun itu. Sayangnya, kakaknya sendiri belum tahu masalah yang dia simpan rapat-rapat ini. Tidak ada yang mengetahui masalah ini kecuali dirinya.


Eggy bangun dan menenggelamkan kepalanya dalam bantal. Kepalanya menggeleng dengan cepat. Dari balik bantal dia berteriak sekencang mungkin namun yang terdengar hanyalah suara yang teredam. Ia mengangkat wajah kusutnya lalu tertegun. Eggy melirik lagi mejanya. Haruskah ia hubungi laki-laki itu sekarang?

__ADS_1


Eggy beringsrut dari atas kasur, menarik sprei hingga terlepas dari porosnya. Ditatapnya meja itu lekat-lekay. Keraguan masih bercokol dalam hatinya. Sembari mendengus kecil, ia meraih ponselnya. Eggy duduk di lantai kamarnya yang sudah tidak berbentuk sembari memandangi layar ponsel. Tangannya bergerak dengan perlahan, ragu dengan apa yang harus ia tuliskan. Lalu tangannya mendadak bergerak cepat ketika menekan tombol hapus. Eggy terdiam sesaat sebelum mulai kembali mengetikkan beberapa kalimat di layar. Ia mengambil jeda beberapa detik hanya untuk menghapusnya kembali.


“OK. You can do it better,” gumamnya pada diri sendiri.


Ia meletakkan ponsel kembali ke atas meja kemudian beranjak menuju kamar mandi. Sedikit guyuran air akan mendinginkan kepala. Ia tidak langsung kembali ke kamar tapi langkahnya terhenti di dapur. Perutnya yang keroncongan tidak berhenti berbunyi semenjak dia beranjak dari atas kasur.


Tidak banyak yang tersisa di dalam kulkas. Hanya ada kaleng kornet yang setengahnya sudah mereka makan dan telur yang tinggal dua butir. Belum sampai akhir bulan tapi persediaan sudah semakin menipis. Eggy mengambil salah satu telur dan mencongkel sebagian kornet untuk campuran telurnya.


Wajah Eggy terlihat serius memikirkan apa yang akan dituliskannya. Dengan hati-hati, jari jemarinya mulai mengetikkan satu persatu pesan untuk Ange. Jempolnya terangkat cukup lama dan matanya bergerak cepat membaca kembali kalimat yang selesai ditulisnya. Setelah cukup yakin dengan pesan itu, Eggy menekan tombol kirim sembari memejamkan mata.


Aku harap kamu mengerti.

__ADS_1


Tidak perlu menunggu lama, jawaban dari Ange muncul beberapa detik kemudian. Eggy sampai tersedak ketika mendengar suara pesan masuk dari ponselnya. Ia meletakkan piring dan menatap ponsel yang kini tergeletak di lantai. Eggy tidak berani membuka balasannya.


Eggy bergerak menjauh dari ponselnya lalu menaiki kasur. Ujung jari tangan kirinya perlahan membuka pesan masuk. Ia berdiri, bertumpu pada kedua lututnya untuk membaca pesan itu. Tapi ia menyerah. Eggy membungkukkan badanuntuk bisa membaca pesan itu lebih jelas.


Ange


As you wish


Tapi jangan lama-lama ;)


09.54

__ADS_1


Eggy menghembuskan napas lega lalu merebahkan diri menatap langit-langit. Kapan sebaiknya aku beritahu dia?


__ADS_2