
~Man’s word, man’s deed~
“Maaf,” hanya kata itu yang bisa Mario ucapkan.
Air mata Tiana yang disertai isakan semakin deras ketika dia menyudahi ceritanya. Mario berusaha menenangkan istrinya tapi wanita itu selalu mundur ketika dia mendekat.
“Papa nggak pernah bermaksud melukai Jun,” lanjut Mario. “Semua kejadian itu tidak disengaja.”
Mario tidak tahu apalagi yang harus dia perbuat supaya Tiana setidaknya mau ia dekati. Ia kemudian berlutut, tangannya dengan cepat meraih tangan Tiana yang tidak sempat menghindar. Mario tidak bisa mengurai air mata untuk meluluhkan hati Tiana tetapi setidaknya ia bisa merajuk dan membujuk agar isterinya mau mendengarkan dan memaafkan perbuatannya.
__ADS_1
“Tolong, katakanlah sesuatu.”
Tiana melepaskan tangannya dari genggaman Mario yang melonggar. Dia mengusap pipinya yang sudah bersimbah air mata lalu membiarkan dirinya luruh di atas pembaringan. Ia palingkan wajahnya.
“Kamu berselingkuh dan bukan untuk pertama kalinya. Melukai putrimu sendiri demi melindungi wanita selingkuhanmu. Kamu berharap aku mengatakan apa?” Tiana memandang Mario dengan tatapan tajam.
Mario menundukkan kepalanya. Ia kemudian duduk di samping Tiana yang beringsrut menjauh. “Ya, Ma. Aku salah!”
“Maaf”
“Aku tahu, aku tidak secantik siapapun itu selingkuhanmu. Mereka bisa mengurus diri sehingga bisa tampil dengan sempurna. Mereka bisa memanjakan diri setelah seharian bekerja karena mereka memiliki apa yang tidak kumiliki. Tidak pernahkah kamu berpikir aku pun ingin sekali saja seperti mereka, memanjakan diri dan terbebas dari rutinitas yang melelahkan ini?” tanya Tiana dengan suara serak.
__ADS_1
“Maafkan aku, Ma.”
“Apa hanya itu yang bisa kamu katakan? Maaf?” Tiana menatapnya dengan mata yang merah dan berair.
Mendapat tatapan seperti itu membuat Mario menundukkan wajahnya. “Ya, apa lagi yang bisa kukatakan selain maaf?”
“Tidak ada dan tidak perlu. Tidak ada yang perlu kamu ucapkan dan kamu tidak perlu mengucapkan apapun lagi.” Tidak ada lagi panggilan sayang dan hormat keluar dari mulut Tiana. “Yang diperlukan darimu hanyalah tindakan, pembuktian. Kenapa kamu meninggalkan anakmu sendirian di sana? Di tengah malam. Kamu seorang ayah, setidaknya kamu harus memastikan anakmu baik-baik saja sebelum meninggalkannya seorang diri di tengah jalan,” isakan Tiana terdengar kembali. “Seharusnya, kamu membawanya pulang bukan meninggalkannya.”
Tiana menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Air mata yang tadi sempat berhenti mengalir lebih deras dari sebelumnya. Mario ingin memeluk Tiana tapi tangan isterinya itu menghalaunya. Mario pun bungkam seribu bahasa.
“Kamu menganggap dirimu seorang pecinta wanita tapi apa yang kau pahami dari seorang wanita?” Tiana berucap dengan susah payah. “Ternyata dua kali berselingkuh tidak mengajarkanmu apa-apa, memiliki dua orang puteri tidak membuatmu mengerti bagaimana cara memperlakukan mereka dengan baik dan pernikahan yang hampir tiga puluh tahun ini tidak membuatmu menghargai sebuah hubungan.”
__ADS_1
Setelah selesai dengan kata-katanya, Tiana pergi meninggalkan Mario yang masih tertegun. Ia tidak menyangka isterinya mengatakan semua itu. Memang benar selama hampir tiga puluh tahun dirinya menikah dengan Tiana banyak hal yang masih ia coba lakukan untuk menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Tapi sering kali ia terkalahkan ego dan naluri lelakinya yang ingin dipuja banyak wanita. Kesalahannya selama ini hanyalah ia terlalu tunduk pada ego dan nafsu dan semua ini berujung pada prahara dalam kehidupannya.