
~Antara mengetahui dan ketidak-tahuan, keduanya bisa membunuhmu~
Tiana menatap daun pintu kamar Rin yang menutup perlahan lalu menghela napas. Anaknya terlihat sangat kesal. Meski tidak terlalu jelas, dia mendengar suara nyaring Lala di luar sana. Blok ini sedang menjadi tempat favoritnya menghabiskan sore. Semenjak kehadirannya juga, Tiana jadi malas untuk keluar walau hanya untuk bertegur sapa dengan tetangganya yang lain. Karena hal ini juga terkadang ia merasa kesepeian.
Saat suaminya pergi ke kantor, saat anak bungsunya menghabiskan waktu di kampus dan dirinya hanya bisa menghabiskan waktu di rumah. Setelah tidak ada hal yang bisa ia lakukan, pikirannya selalu mengajaknya berkelana, berandai-andai anak sulungnya tiba-tiba menerobos masuk melewati pintu rumah mengenakan tas ranselnya. Tapi pemikiran itu menguap dengan cepat secepat kenyataan yang datang menghampirinya. Tidak ada apa-apa di sana, di balik pintu itu hanya ada keheningan. Dirinya bahkan tidak bisa berbagi cerita ini kepada ibunya.
“Kenapa Ma, ngelamun aja? Papa ketuk pintu berkali-kali sampe nggak kedengeran.”
Tiana menoleh mendapati suaminya sudah duduk di sofa. Tiana bergegas mengambil tas kerja suaminya dan menyimpannya ke kamar. Ia kemudian menuju ke dapur untuk membawa segelas air.
__ADS_1
“Nggak Pa, cuma kasian aja sama Rin. Dia pasti kelelahan ke sana kemari untuk cari kabar Jun. Belum lagi kuliahnya lagi padat dan ada tugas-tugas yang harus dia selesaikan. Apa besok Papa bisa bantu? Cari kabar ke kantor polisi, minta bantuan apapun yang perlu dari mereka, ya?”
Tiana memohon dengan sangat kepada suaminya. Dia tahu, beberapa hari ini suaminya pun tengah sibuk. Dalam beberapa hari ke depan akan ada audit dan penilaian pekerja di kantornya. Bukannya dia tidak pernah melakukannya sendiri, pergi menemui para polisi itu. Mereka menyuruhnya untuk menunggu karena polisi pun sedang mengusahakannya. Ia pun mencoba bersabar menunggu kabar. Hanya satu hal yang masih bisa ia lakukan dan berharap itu bisa membantu, menghubungi ponsel Jun. Tidak pernah sekali pun Tiana melewatkan untuk mengirimi pesan, berharap salah satunya terbaca. Entah oleh anaknya atau mungkin oleh orang yang menemukan ponsel itu. Tapi akankah ada orang yang membaca pesan-pesannya? Mengembalikan ponsel anaknya? Setidaknya melaporkannya ke polisi untuk dikembalikan ke pemiliknya?
Berdasarkan pengalamannya, ketika suami dan anaknya –Rin, kehilangan ponsel, tidak ada satu pun yang kembali. Padahal Mario –suaminya, kehilangan ponsel di kantor dan dia bergegas kembali ke ruangan terakhir yang didatanginya namun ponsel itu sudah tidak ada di sana. Dia bertanya pada rekan sekantor dan office boy yang bertugas membersihkan ruangan itu, tapi tidak ada yang menemukannya. Entah memang tidak ada atau memang tidak ada yang mau mengakui. Sayangnya, saat itu kantor belum memasang CCTV.
“Akan Papa usahakan, Ma. Besok Papa harus ke kantor dulu. Semoga pulang dari sana masih sempet. Apa sudah ada kabar dari polisi?” Mario merentangkan kaki. Dengan cekatan, Tiana memijat kaki suaminya.
__ADS_1
“Belum, mereka belum menemukan apapun walau sudah menyisir dari stasiun hingga ke rumah,” ucap Tiana.
“Mereka tidak menemukan apapun?” Mario mengalihkan pandangan dari ponselnya, menatap Tiana dengan ujung mata.
“Ya, mereka tidak menemukan apapun. Mereka sudah menyanyai petugas kereta yang malam itu bertugas, tidak ada kejadian yang mencurigakan. Seharusnya Jun baik-baik saja dan sampai ke rumah dengan selamat,” Tiana berkata setengah bergumam. Gerakan tangannya terhenti, pikirannya mulai melayang. Biasanya seperti itu, selama ini seperti itu.
Mario meraih tangan Tiana dan digenggamnya dengan erat. “Tenang Ma, polisi pasti bisa menemukannya.” Mario mengusap perlahan punggung tangan Tiana membuat wanita itu menundukkan kepala.
“Mama harap, setidaknya, ada sedikit saja petunjuk tentang keberadaan Jun, apapun.”
__ADS_1
Isakan Tiana pun pecah. Ia membiarkan suaminya merengkuhnya dalam pelukan. Pelukan yang selama ini ia butuhkan. Pelukan yang selama ini ia pikir telah tertelan kesibukan dan rasa lelah.