
~Kesabaran akan membuahkan hasil, meskipun kamu akan kesal setengah mati karena menunggunya~
Kesempatan hari ini tidak boleh dilewatkan. Itu tekad bulat yang dicamkan Rin dalam hati. Awalnya, Rin bermaksud menemui cucu Mbah Sekar kemarin. Berhubung kemarin Rin pulang terlalu larut, niatannya itu harus ia tunda. Sebenarnya malam itu Rin ingin sekali langsung mendatangi rumah Mbah sekar tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya tidak sopan mengusik rumah orang lain malam-malam hanya dengan alasan ingin berkenalan.
Untuk menghindari hal seperti kemarin, Rin sampai mengambil jam kuliah yang lebih awal di kelas lain. Ditambah hari ini tidak ada kegiatan di luar jam kuliah. Semoga saja pengorbanannya kuliah pagi tidak sia-sia karena bagi Rin bersiap di pagi hari benar-benar butuh perjuangan.
Rin menatap jam tangannya. Seharusnya di jam seperti ini anak sekolahan sudah pulang tapi kemungkinan kemacetan di jalanan bisa memperlambat segalanya. Bukankah di jaman sekarang sudah banyak layanan ojeg online? Seharusnya gadis itu bisa memesan salah satunya. Atau jangan-jangan dia sudah tahu kalau Rin akan menunggunya? Mungkinkah Ina kemarin melihatnya mengobrol dengan Mbah Sekar? Rin yakin gadis itu sudah menghilang dari pandangan ketika ia menemui Mbah Sekar. Jika memang gadis itu menghindarinya, bukankah itu
semakin jelas ada yang disembunyikan Ina darinya? Atau mungkin anak itu hanyalah seseorang yang pemalu? Tidak pandai bergaul? Tidak suka menganggu dan diganggu orang lain?
“Ganti baju dulu, Rin.”
__ADS_1
Rin memutar kepala dan mendapati ibunya sudah berdiri di belakangnya. Tangannya langsung beraksi, mengipasi tubuh. “Entar dulu, Ma. Rin masih kepanasan, ngangin dulu.”
Anehnya, Mamanya tidak banyak berkomentar meskipun Rin memberikan alasan yang seadanya. Ia langsung kembali ke dalam setelah membuang sampah yang dibawanya dari dalam rumah. Mungkinkah ibunya sudah mencurigai sesuatu?
Edna
Ada perkembangan?
14.32
Rin
Belum, anaknya belum pulang
__ADS_1
14.33
Edna
Gimana ternyata kalau dia udah ada di dalem rumah?
14.33
Perkataan Edna masuk akal dan Rin tidak memikirkan kemungkinan itu. Bisa saja cucu Mbah Sekar itu tiba-tiba minta ijin pulang di tengah jam pelajaran. Setidaknya, Rin dulu pernah menggunakan alasan sakit dan ijin untuk pulang lebih awal padahal dirinya hanya menghindari pemeriksaan pekerjaan rumah pelajaran Kimia.
Mungkinkah Ina melakukan hal semacam itu? Rin mengarahkan pandangannya ke lantai dua rumah Mbah Sekar. Seingat Rin, kamar tidur di lantai satu rumah Mbah Sekar hanya ada satu dan itu kamar milik wanita paruh baya tersebut. Kemungkinan besar kamar Ina ada di sana, di lantai dua. Tapi Rin tidak melihat ada pergerakan apapun di sana, meskipun hanya bayangannya saja. Atau gadis cilik itu bersembunyi darinya dan berusaha menjauh dari jendela?
Rin mengedarkan pandangan, berjaga-jaga kalau ada orang yang mungkin sedang memperhatikan perilakunya. Ia bangkit dari kursi dan berjalan perlahan, masih ragu dengan apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Haruskah aku tanyakan langsung pada Mbah Sekar? Tidak ada ruginya, kan? Toh kemaren Mbah Sekar memintaku untuk berkunjung dan berkenalan dengan cucunya.
Sebelum niatannya terlaksana, matanya menangkap sosok yang ditunggu-tunggunya sedari tadi. Gadis itu berjalan gontai. Entah karena lelah, panas atau karena pelajaran di sekolah. Apapun alasannya, Rin tidak sabar ingin segera berkenalan dengan gadis itu.