
~Sekecil apapun perubahan, perubahan tetaplah perubahan, kamu hanya perlu lebih peka untuk menyadarinya~
“Rin, kakakmu apa kabar?”
Suara nyaring Tante Lala menyambut kedatangan Rin yang baru saja turun dari motor Edna. Tetangga belakang rumahnya ini senang sekali menghabiskan waktu berjam-jam mengobrol bersama ibu-ibu kompleks. Sering kali Tante Lala mengajak berbicara namun Rin tidak pernah mau tahu dan tidak peduli apa yang akan dia bicarakan. Karena selalu gosip yang dia bawa ke mana-mana. Seperti saat ini. Tante Lala yang tengah ‘berkunjung’ ke rumah Tante Widya menyengaja melongokkan kepalanya hanya untuk mendapatkan gosip terhangat tentang kakaknya.
“Belum ketemu, Tante,” jawab Rin mencoba sedikit bersikap sopan.
“Belum ketemu apa belum mau pulang?” Tante Lala masih terus berusaha.
Rin mendelik lalu berbalik siap menghampiri Tante Lala yang tersenyum menantang. Edna bergerak cepat mengatasi keadaan sebelum keadaan menjadi runyam. “Maaf Tante, kami masuk dulu!” tukas Edna.
Rin ditarik paksa masuk ke dalam rumah. Jika dibiarkan lebih lama, Edna tidak tahu sampai mana kesabaran Rin akan bertahan. Keduanya berhenti di depan pintu. Rin masih belum mau melepaskan pandangannya dari jalanan.
“Nggak usah diladenin orang nggak penting kayak gitu. Udah, ya, aku mau langsung balik. Salam sama ortu kamu. Bye!”
Edna pergi meninggalkan Rin yang masih mencak-mencak sendiri karena kesal. Bukannya prihatin malah cari-cari kabar nggak penting. Rin membanting pintu melampiaskan amarahnya.
__ADS_1
“Rin, ada apa banting-banting pintu?”
Sebuah suara yang beberapa hari ini tidak Rin dengar membuatnya terlonjak. Rin mengira tidak ada siapa pun yang duduk di ruang tengah yang jaraknya kurang lebih tiga meter dari pintu masuk. Rin menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi lalu menekuk wajah.
“Lagi sebel aja. Kapan Papa pulang?”
“Tadi siang,” jawab Papa tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya.
“Gimana Rin, ada kemajuan?”
“Kemajuan? Dari kepolisian?” Papa menatap Rin begitu pun dengan Mama, menanti jawaban.
“Bukan. Ingat orang yang Rin ceritakan kemarin, Ma? Dia nemuin foto yang jadi bukti kalau Jun udah nggak di Jogja. Dia di sini. Kemungkinan besar di kota ini. Rin harap ada di kota ini,” suara Rin melemah di akhir kalimatnya.
Mamanya menunduk sedangkan Papa diam mematung. Rin tahu orang tuanya berharap banyak dari hasil pencarian ini. Mau bagaimana lagi, Jun hanya meninggalkan sedikit jejak tentang keberadaannya. Itu pun dia dapatkan dengan susah payah. Atau jangan-jangan kakaknya memang tidak mau ditemukan?
__ADS_1
“Ma, Pa, Rin ke kamar dulu. Capek.”
Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya, Rin berjalan lunglai meninggalkan mereka yang masih membisu. Rin membiarkan tubuhnya terhempas, ditelan buntalan kapuk berbalut sprei lembut. Dalam keheningan dan kesendiriannya kata-kata Tante Lala tiba-tiba saja mengusik. Bagaimana kalau Jun yang memilih pergi, sengaja tidak mengabari dan tidak mau kembali? Karena apa? Tidak ada alasan untuknya melakukan hal itu. Kalau pun mau, Jun sudah bisa melakukannya sejak dulu. Dia sering bepergian, kenapa harus memilih hari itu?
Rin menepis kemungkinan itu jauh-jauh. Kabur hanyalah sesuatu yang tidak masuk akal baginya. Mungkinkah ada seseorang yang menjambret atau mencopetnya lalu mencelakainya? Tapi kalau melihat penampilan Jun, tidak akan ada orang yang berminat melakukannya. Apa yang mungkin dimiliki oleh seseorang yang berpenampilan lusuh sehabis perjalanan seharian dengan hanya satu tas ransel? Para pencopet itu tidak akan mendapatkan apapun selain berlembar-lembar bon dan tiket perjalanan. Kecuali kalau mereka mengambil ATM milik Jun, isinya cukup lumayan untuk orang berpenampilan seperti itu. Bagaimana Rin bisa tahu? Itu karena Jun pernah satu kali memintanya untuk mengambilkan uang dan nominal pada rekening kakaknya sejumlah uang satu semester kuliahnya.
Rin tiba-tiba bangkit dengan mata yang berbinar. Tentu saja, kenapa dirinya tidak memikirkan hal itu lebih awal. Jika memang ada seseorang yang mungkin menjambret, mencopet atau mencuri atau memang jika benar Jun kabur, transaksi dari ATM bisa jadi salah satu alat pelacak. Tapi apa pihak bank akan memberikan rekam transaksinya? Rin kembali merebahkan tubuh. Kegembiraan sesaatnya langsung menguap.
Lupakan saja, mencuri secara diam-diam lebih mudah dari pada ingin mencari keterangan secara legal tapi mungkin pihak polisi bisa membantu. Kemungkinan kedua membuat guratan tipis melengkung di bibirnya.
Rin sempat memikirkan kemungkinan Jun diculik. Sayangnya kemungkinan itu langsung Rin singkirkan begitu ide itu terbersit di benaknya. Sejauh yang Rin tahu berdasarkan film-film yang pernah ditontonnya, penculikan selalu dibarengi dengan tebusan tapi dari awal hilangnya Jun hingga detik ini, tidak pernah ada panggilan semacam itu. Jika Rin jadi penculiknya, Rin akan memilih seseorang yang lebih baik dari kakaknya. Seorang anak konglomerat, anak pengusaha besar atau bisa saja artis lalu kemudian Rin akan menguras habis uang mereka. Menculik Jun tidak akan menghasilkan banyak uang kecuali …
Untuk kedua kalinya Rin bangkit dari posisi terlentang tapi kali ini dengan mata melotot dan jelas sangat khawatir. Sebuah kemungkinan buruk melintas di kepalanya. Bagaimana jika Jun diculik bukan karena uang tapi untuk hal yang lain? Apa mungkin kakaknya jadi salah satu korban human trafficking? Tubuhnya tiba-tiba merinding memikirkan kemungkinan itu bisa saja terjadi.
“Nggak, nggak, nggak!” Kepalanya menggeleng cepat menyingkirkan pemikiran mengerikan itu. “Lagian, kenapa sih harus milih kereta sore?” gerutunya.
Rin hanya bisa mendengus kesal –kesal pada kakaknya, kesal pada pemikirannya, menerbangkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya. Untungnya dering telepon menyelamatkan Rin dari semua pemikiran negatif itu.
__ADS_1
“Halo, Jeff, aku streessss!”