She is Missing

She is Missing
Chap 5: 13/02 [1]


__ADS_3

~Saat satu pintu tertutup, masih banyak pintu lain yang menunggu untuk dibuka~




Suasana pukul tiga sore di kedai kopi tidaklah terlalu ramai. Hanya terlihat segerombolan pelajar yang sedang haha hihi sembari memainkan tongsis dan ponsel di pojok terdalam, seorang wanita kantoran yang sedang telekonferensi melalui laptopnya, sepasang muda mudi yang mengobrol sangat intim dan dua orang sahabat yang tengah menunggu –salah satunya terlihat santai menikmati waktu bersama buku di tangan dan minuman di hadapannya sedangkan perempuan berkemeja putih garis-garis di hadapannya terlihat sangat gusar.



Sudah tidak terhitung banyaknya mata perempuan berkemeja putih itu melirik jam di dinding kedai. Tidak puas dengan jam di dinding, ia lirik jam tangan dan ponsel lalu mendengus.



“Sabar, Rin! Baru juga sepuluh menit.”



Helaan napas Rin terdengar saat mendengar kata-kata itu. Harus berapa lama lagi dirinya menunggu? Apa sepuluh menit tidak cukup lama? Dengusan dan helaan napas menyertai setiap gerakan yang Rin buat. Tapi jika memikirkan hal yang sebelumnya terjadi, menunggu kali ini lebih berarti. Karena sekitar satu jam lalu, Rin hampir saja mengacaukan segalanya.



Sebenarnya, Rin harus berterima kasih pada Edna. Karena kepala dinginnya itu, Rin punya kemungkinan mendapatkan bantuan nyata, bukan hanya omong kosong belaka.



“Kalau kamu mau pencarian ini berjalan dengan cepat, ada hal yang harus kamu lakuin,” ucap Edna setengah jam lalu, ketika Rin selesai berurusan dengan petugas penerima laporannya.



Dengan tatapan curiga dan penuh tanya, Rin mengangguk perlahan. Rin memicingkan mata ketika melihat Edna mengeluarkan secarik kertas. “Apa itu?” tanyanya masih dengan nada kesal karena kunjungannya kali ini pun tidak mendapat banyak perkembangan.



“Janji dulu, stay cool and be patient, okay?” Edna melipat kembali kertas yang baru dikeluarkannya dan mengeluarkan jari kelingking kirinya pada Rin yang tambah kebingungan. “Jangan banyak tanya, janji aja, ok?” ulang Edna.



Rin mendengus namun tetap mengatakan iya. Jika ini satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan kemajuan, Rin akan mencoba melakukan apapun permintaan sahabatnya ini.



“Good.”



Kertas di tangan Edna segera beralih. Rin menatapnya dengan mata lapar, berharap secarik kertas itu bisa memberikan secercah cahaya. Tapi yang dilihatnya hanyalah sebaris huruf dan sebaris angka. Lebih tepatnya sebuah nama dan sebuah nomor telepon.



“Dia yang akan membantu pencarian ini.”

__ADS_1



Dan karena selembar kertas itulah, keduanya berakhir di kedai ini.



“Lima menit lagi dia belum dateng juga, kita pulang, ok?” bisikan Rin lebih seperti desisan di telinga Edna yang tertutupi earphone.



“Nih, orangnya nelpon,” Edna menyodorkan layar ponsel tepat di muka Rin yang cemberut. “Halo?” sapa Edna. Matanya tertuju pada sesosok pria yang baru saja memasuki kedai, mengabaikan Rin yang berusaha merebut ponselnya. “Kalau kamu yang baru aja masuk kedai ini, lihat ke sebelah kanan!” Edna mengacugkan tangan kanannya tinggi-tinggi, membuat Rin menjauh, jaga-jaga jika buku Edna jatuh menimpa kepalanya.



Pria itu berjalan mendekati bangku Rin dan Edna. Rin menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu terlihat seumuran dengan mereka dan penampilannya seperti seorang polisi –rambut dicepak, berbadan tegap, kulit kecoklatan seperti sering berjemur di bawah matahari, tapi menurut Edna orang yang mereka temui ini bukan seorang polisi. Dia hanya seorang police wannabe. Beberapa kali ikut tes kepolisian namun tidak pernah lolos. Meski begitu, menurut polisi yang memberikan kontaknya, dia bisa diandalkan.



“Maaf membuat kalian menunggu lama. Perkenalkan nama saya Wijaya, panggil saja Jaya.”



Lelaki itu menyalami Rin dan Edna bergantian. “Jadi apa yang bisa saya bantu?”



Bukannya menjawab pertanyaan Jaya, Rin dan Edna malah saling tatap dan saling sikut. Rin terlihat ragu untuk memulai.




“Pertama, boleh saya minta nomor handphone kakakmu? Kedua, ceritakan keberadaan dan kegiatan seluruh anggota keluarga di hari kepulangan. Ketiga, jadwal kegiatan kakakmu sebelum dia menghilang. Keempat, ceritakan detail situasi di hari kepulangan kakakmu, termasuk situasi di sekitar rumahmu.”



Untuk sesaat Rin terlihat takjub dengan kata-kata yang dilontarkan Jaya. Lelaki itu ternyata sangat serius karena awalnya Rin mengira orang ini mungkin hanya main-main saja. Melihat sikapnya yang seperti ini membuat Rin merasa tengah berada di sebuah film drama kepolisian. Mendadak, tenggorokan Rin terasa kering sampai-sampai ia harus menyambar gelas lemon tea yang hampir kosong. Tapi apa benar orang ini bisa dipercaya?



“O, ok. Untuk pertanyaan satu sampai tiga, gu –aku, bisa jelaskan. Tapi untuk yang terakhir, apa perlu?” tanya Rin ragu.



“Tentu saja. Tidak ada satu pun di antara kalian yang tahu betul keberadaan … Siapa nama kakakmu?”



“Jun, namanya Jun.”


__ADS_1


“Tidak ada satu pun di antara kalian yang tahu betul keberadaan Jun. Bisa jadi dia menghilang ketika masih di luar kota, atau mungkin di kendaraan yang membawa dia pulang –tapi sejauh ini tidak ada kabar kecelakaan ataupun pembajakan kendaraan umum. Dan kemungkinan terakhir, bisa saja dia sudah berada di lingkungan tempat kalian tinggal dan sesuatu justru mungkin terjadi padanya di rumah.”



Kata-kata terakhir Jaya membuat bulu kuduk Rin meremang. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa mungkin sesuatu telah terjadi di lingkungan mereka. Rin buru-buru menepis pikiran buruk yang timbul karena perkataan lelaki yang baru di kenalnya ini.



Lingkungan di barisan kompleksnya terbilang kecil, jika telah terjadi sesuatu di sana pasti beritanya akan menyebar dengan cepat. Sayangnya, seingat Rin, pada hari itu rumah-rumah di sekitarnya kosong. Sekali pun sesuatu telah terjadi, siapa yang tahu? Mungkin petugas jaga malam yang tahu.



“Maafkan saya sebelumnya jika apa yang saya katakan barusan membuat tidak nyaman, tapi informasi itu saya butuhkan. Jika permintaan saya yang terakhir dirasa kurang perlu untuk saat ini, kamu bisa menghubungi saya nanti,” Jaya memecah keheningan panjang itu, menyadarkan Rin yang tenggelam dalam pikiran-pikiran buruknya.



Wajah Rin memerah, kata-kata Jaya membidik tepat sasaran. Jelas saja Rin tidak nyaman. Jaya orang asing dan bukan seorang petugas resmi , haruskah dia membeberkan semuanya pada orang asing ini? Ada sedikit rasa sesal kenapa tadi Rin menyetujui usulan Edna begitu saja hanya demi segera mendapat kejelasan.



“Baiklah, sepertinya masih banyak yang perlu kamu pertimbangkan. Tapi untuk tiga hal tadi, tidak keberatan, kan?”



Rin gelagapan mengiyakan permintaan Jaya. Tangannya merogoh tas mencari buku dan pulpen. Di tengah kesibukannya, Edna menyodorkan selembar kertas yang sudah dipenuhi catatan.



“Ambil ini, sisanya biar nanti Rin sendiri yang hubungin,” ucap Edna. “Terima kasih sudah mau membantu teman saya.”



Mulut Rin ternganga dan matanya melotot pada Edna yang tersenyum. “Kenapa nggak ngomong dari tadi kalau lu udah nulisin yang dia butuhin? Kan gue nggak usah ubek-ubek tas segala,” bisik Rin kesal.



“Baiklah, saya akan coba pelajari dulu semua ini. Kalau begitu, saya pamit dulu. Nanti akan saya hubungi jika sudah mendapatkan sesuatu.”



Setelah berpamitan lelaki berambut cepak itu pun berlalu meninggalkan Rin yang tersenyum lega. “Apa bener dia bakal bisa bantu? By the way, dapet nomer dia dari siapa, sih?”



“Om Wil, temen Papa jaman sekolah yang kerja di kepolisian. Bagian lantas cuma kebetulan tadi dia ada di kantor. Waktu aku obrolin masalah kamu, dia ngusulin Jaya,” terang Edna.



Rin hanya manggut-manggut, sembari tangannya sibuk mengorek isi tas mencari dompetnya. Perhatiannya teralihkan ketika dia mendengar suara yang tidak asing di telinga namun sudah lama tidak berjumpa. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok pemilik suara, setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


__ADS_1


“Mas Ange?”


__ADS_2