She is Missing

She is Missing
Chap 2: 12/02 [2]


__ADS_3

~Firasat seorang ibu tidak pernah salah~




“Bagaiamana Rin?”



Tiana menyambut anaknya dengan pertanyaan. Sedari tadi dia hanya bisa mondar mandir tidak karuan. Tangannya basah oleh keringat, pun dengan dahinya, banjir keringat dingin. Dia mengekor Rin hingga ke sofa, seperti anak ayam yang tidak ingin ditinggalkan induknya.



“Rin, bagaimana?” Tiana mengguncang tangan Rin dengan tidak sabar. Dia bahkan tidak memberi jeda Rin untuk bernapas atau pun meneguk minuman di botol. “Rin!”



“Kita hanya bisa menunggu, Ma,” jawab Rin dengan sedikit ketus. Akhirnya dia bisa melepas dahaga setelah memberikan jawaban singkat itu.



Tiana merebahkan badannya yang lemas. Setelah seminggu tidak mendapat kabar tentang keberadaan anak sulungnya, kini dia harus menunggu lagi. Perlahan, butiran air mata berjatuhan dari kedua kelopak matanya yang lelah.



“Ma.”



Tiana merasakan tangan Rin bertangkup di atas genggaman tangannya. Ia menatap anaknya dengan pandangan berkabut. Isak tangis tak terbendung lagi, dia biarkan mengalir deras hingga berjatuhan membasahi tangan mereka berdua. Tidak pernah sedikit pun Tiana membayangkan Jun akan menghilang tanpa kabar. Dia selalu percaya, kemana pun anaknya pergi pada akhirnya dia akan pulang.



“Istirahatlah, Ma. Besok Rin akan kembali ke kantor polisi, siapa tahu dengan pertolongan mereka pencarian kita bisa lebih cepat. Rin juga udah share selebarannya di medsos. Sekarang, istirahat, ya?” bujuk Rin dengan wajah memelas.


__ADS_1


Dengan hati yang masih berat, Tiana mencoba menghentikan isakan. Tangannya bergerak cepat menghapus air mata yang membanjiri wajahnya. Bukan hal yang biasa baginya memperlihatkan air mata di hadapan anak-anaknya tapi kehilangan Jun telah membobol semua benteng pertahanan perasaannya. Semenjak Jun menghilang, hati kecil Tiana sering kali berucap telah terjadi sesuatu kepada anak sulungnya itu, entah apa.



Tiana melangkah gontai menuruti permintaan Rin yang tersenyum getir. Ia merebahkan diri di atas pembaringan, menatap kosong bantal di sampingnya. Ah, seandainya saja suaminya ada di sini setidaknya dia bisa menumpahkan sesak di dadanya.



Tangan Tiana bergerak meraih ponselnya yang tergeletak di atas bufet. Di tatapnya si layar datar di tangan, tatapan Jun pada selebaran yang dibuat Rin membuat hati Tiana tertusuk. Sekuat tenaga, Tiana mencoba membendung air matanya meski beberapa lolos dari ujung matanya. Salah satu tangannya menarik bantal untuk meredam suara tangisnya. Berkali-kali dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak memastikan kembali kepulangan Jun.



Kemana kamu pergi, Jun?



Tampilan layar ponsel berubah. Sebuah nama muncul menggantikan wajah Jun, membuatnya harus bangun dari pembaringan dan menghapus air mata. Tiana menepuk-nepuk ringan pipinya, bibirnya melatih senyuman lebar dan beberapa tegukan air membantu usahanya menjernihkan suara.



“Halo, Bu!” Tiana berusaha membuat suaranya terdengar tidak terlalu bersemangat atau terlalu lemah.




Suara itu hampir meruntuhkan kembali pertahanan yang baru saja Tiana bangun. Tangannya meremas bantal di pangkuan, berharap mendapat kekuatan. “Sehat, Bu, semuanya sehat. Bapak dan Ibu sehat?”



“Ya … kamu tahu Bapakmu. Beberapa hari yang lalu dia semangat sekali memanen tomat-tomat di kebun belakang tapi lihat sekarang, dia meringkuk di kamar dan mengeluh seluruh badannya pegal.”



Biasanya Tiana akan ikut tersenyum ketika mendengat suara kekehan ibunya yang bersemangat saat bercerita tapi kali ini, sebutir air mata meleleh karenanya.


__ADS_1


“Bu, aku harus ke kamar mandi. Kita lanjut lagi obrolannya nanti, ya?”



“Tiana, ada apa?” perkataan ibunya berubah tajam saat suara serak Tiana terdengar. Tiana menggigit bibir bawahnya dan mendesis pelan.



“Tidak ada apa-apa, Bu.”



Hembusan napas menyambut jawaban itu, Tiana hanya berharap ibunya tidak berkeras menyudutkannya dengan berbagai pertanyaan.



“Tiana, sebenarnya Ibu menelepon karena beberapa hari ini … Ibu merasa tidak tenang. Semuanya baik-baik saja, kan?”



Tiana tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia malah tercenung. Tapi jika membuat ibunya menunggu terlalu lama hanya akan membuatnya semakin curiga. Haruskan dia mengatakannya sekarang? Ibunya sendiri sudah punya cukup masalah karena perbuatan adiknya yang sampai saat ini belum selesai.



“Tiana?”



“Ya, Bu. Semuanya baik-baik saja. Hanya saja saat ini Jun sedang tidak di rumah, kata-kata Ibu barusan … Tiana jadi ingat sama Jun, itu saja,” jawab Tiana selugas mungkin, berharap ibunya tidak curiga.



“Begitu. Mungkin Ibu hanya terlalu cemas. Kamu tahu, usia tua ini membuat Ibu memikirkan banyak hal,” suara kekehan ibunya terdengar kembali namun tidak selepas tawanya tadi. Suaranya terdengar sedikit canggung. “Bukankah kamu mau ke kamar mandi? Pergilah, kita bisa mengobrol lagi nanti.”



“Ya, Bu. Salam untuk Bapak. Bilang sama Bapak, jangan terlalu banyak bekerja di kebun, biarkan tukang saja yang melakukannya.”

__ADS_1



Percakapan singkat yang terasa sangat panjang itu pun berakhir. Tiana menatap lurus ke depan, matanya tertuju pada bayangan yang terpantul di cermin besar di seberang tempat tidurnya. Seorang wanita berwajah bulat, badan sedikit gempal, dengan rambutnya yang berantakan menatapnya balik. Tiana merasa sangat menyedihkan, kehilangan membuatnya benar-benar kacau.


__ADS_2