She is Missing

She is Missing
Chap 14: 17/02 [1]


__ADS_3

~Angin dan guncangan akan membuatmu mabuk tapi bertahanlah!~


Hari masih pagi tapi Rin sudah bersiap pergi. Hanya tinggal menunggu Edna menjemputnya. Jaya menghubunginya semalam, ada yang ingin dia diskusikan bersama dan butuh bantuan Rin untuk menyelesaikannya. Lagi pula, Rin sendiri penasaran apa yang sudah ditemukan Jaya.


“Nggak mau bareng sama Papa aja?” Papanya keluar dengan pakaian rapi. Mamanya ikut keluar mengantar. Rin melirik keduanya sesaat.


“Nggak ah, Pa. Lagian, kan beda jalur. Tuh Edna juga udah dateng!”


“Pagi, Om, Tante!” sapa Edna. Ia menyalami keduanya kemudian menyodorkan helm pada Rin.


“Udah siap?”


“Ma, Pa, Rin berangkat dulu!” Rin menyalami Papa baru kemudian Mamanya. “Semoga Jaya bisa bawa kabar bagus ya, Ma,” bisik Rin di telinga ibunya.


“Semoga,” ucapan Mamanya begitu penuh harap.


Rin berjalan cepat menyusul Edna yang sudah kembali duduk di atas kuda besi matiknya. Keduanya berlalu menuju tempat pertemuan dengan Jaya.


“Saya tidak terlambat, kan?” tanya Jaya ketika dia baru saja sampai.


“Tidak, sama sekali tidak,” ucap Edna dengan senyuman. Sebenarnya bisa dibilang Jaya datang lima menit lebih awal hanya saja Rin dan Edna datang lebih awal. Pagi hari di penghujung minggu ini tidak terlalu padat. Mungkin kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu di tempat wisata sehingga jalanan terasa lengang.


“Ok kalau begitu. Mbak boleh pesan?”

__ADS_1


Setelah Jaya selesai dengan pesanannya, dia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Dia membuka beberapa file lalu menyodorkannya pada Rin.


“Kemungkinan besar nama Agatha Kamila hanyalah alias karena saya hanya menemukan dua orang ini. Salah satunya sudah kamu ketahui dan satu orang lagi sama sekali tidak ada kontak dengan kakakmu. Saat dicari terpisah, ini hasil yang saya dapatkan.”


Jaya membuka berkas yang lain. Bagi Rin, isi berkas itu seperti kumpulan data pelamar kerja dan Rin bertugas sebagai HRD yang harus memilah mana saja pelamar yang cocok untuk dipekerjakan. Tapi untuk apa Jaya menyodorkan semua data ini?


“Ini merupakan data dari orang-orang yang dalam namanya terdapat kata Agatha dan Kamila. Saya mengelompokkan orang-orang ini berdasarkan latar belakang kakakmu. Tidak termasuk orang-orang yang namanya tidak masuk jaringan.”


Rin dan Edna menatap layar dengan takjub sementara Jaya menikmati sarapan paginya. Ada beberapa nama yang Rin kenal.


Agatha 1: Priscilla Agatha Yudha. Seangkatan dengan Jun. Rin sangat mengenal nama ini bukan karena Jun tetapi karena perempuan ini memang terkenal di sekolah mereka karena perempuan itu medali emas olimpiade matematika tingkat provinsi. Sekarang dia tinggal di luar negeri jadi Rin bisa menyingkirkannya jauh-jauh dari list. Lagi pula keduanya tidak terlalu akrab sehingga tidak mungkin terlibat konflik apapun.


Agatha 2: Agatha Vania. Penulis lepas di beberapa web termasuk “JalanJalan” di mana Jun sekarang tengah memiliki kontrak kerjasama. Tulisannya yang terbaru muncul di web tersebut pada tanggal delapan Februari. Satu hal yang membuat kening Rin berkerut adalah artikel yang dibuatnya membahas hal yang sama dengan rencana tulisan Jun. Jelas-jelas Agatha yang satu ini berada di waktu dan tempat yang sama ketika Jun di Jogja. Tapi masalah apa yang mungkin terjadi antara keduanya?


Agatha yang terakhir, Mariska Agatha: seorang travel agent. Tinggal di kota sebelah yang jaraknya sekitar dua jam dari kediaman Rin. Entah kenapa Jaya memasukkannya ke dalam kumpulan data ini karena bagi Rin sepertinya Agatha yang satu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Jun. Meskipun dia seorang travel agent bukan berarti harus ada hubungannya dengan Jun, kan?


“Kenapa kamu memasukkan orang ini?” Rin menatap Jaya dengan penuh rasa penasaran.


“Tanggal lima Februari pukul sebelas malam, dia check in di stasiun kedatangan Jun,” jawab Jaya. Rin mengangguk, mengerti kenapa Agatha yang terakhir –meskipun sangat tidak masuk akal, Jaya masukkan ke dalam daftar.


Mata Rin kembali menatap layar. Tinggal daftar Kamila yang perlu Rin lihat. Matanya mengerjap-kerjap, mencoba berkonsentrasi kembali. Dia melirik Edna dan Jaya yang tengah makan sambil mengobrol membahas Jun. Jaya masih berusaha mengorek informasi lain tentang kakaknya.


Oke, sampai mana tadi?

__ADS_1


Kamila 1: Bunga Kamila Aditya, travel blogger. Tinggal di tanah rencong. Beberapa tulisan Jun pernah dimuat di blog yang dikelola olehnya. Rin benar-benar tidak kenal dengan orang ini jadi dia tidak bisa berkomentar banyak. Yang bisa Rin simpulkan hanyalah Jun dan Bunga Kamila punya hubungan kerja dan kemungkinan konflik atau kesalahpahaman terjadi itu ada.


Kamila 2: Ayu Kamila Diani, teman satu kampus Jun beda jurusan. Hampir saja Rin protes lagi karena tidak menemukan apapun yang mengaitkan keduanya selain fakta bahwa mereka satu kampus. Kali ini matanya bergerak lebih cepat dari emosinya. Dulu, Jun dan Kamila 2 satu organisasi di kampus meski Rin tidak pernah tahu apa dia pernah berkunjung ke rumah Rin atau tidak karena biasanya teman-teman satu organisasi setidaknya pernah satu kali datang berkunjung.


Kamila 3: Kamila Dwi Satya, selebgram dan traveller dari pulau Borneo. Usia sekitar awal tigapuluhan, sudah menikah dan punya satu anak berumur tiga tahun. Selama enam bulan terakhir dia menghabiskan waktu menjelajahi pulau Jawa. Selama enam bulan itu pula Jun dan Kamila membuat kontak dan kelihatannya hubungan keduanya baik-baik saja, atau mungkin tidak?


Bukannya mendapat pencerahan, Rin justru merasa semakin pusing setelah membaca semua data itu. Kepalanya mendadak berputar dan perutnya terasa mual.


“Aku ke toilet dulu.”


Rin menyambar tasnya dan berjalan cepat meninggalkan Edna dan Jaya. Satu atau dua basuhan air akan membantunya berpikiran jernih.


Rin menatap pantulan dirinya di cermin. Mulutnya bergumam pada pantulannya. “Oke, udah ada datanya. Tinggal menentukan siapa kira-kira orangnya. Apa harus dihubungi satu per satu?”


Tangan Rin beradu dengan ujung wastafel, membuat suara ketukan yang memantul memenuhi ruang toilet. Konsentrasinya terganggu suara nyaring dari ponselnya. Wajah Dania yang tertawa lebar memenuhi layar.


“Ya Dania, ada apa?” suara Rin terdengar lemas.


“Gawat Kak, Nenek maksa pengen ke rumah kakak!”



Rin terbelalak, tangannya refleks menutupi mulutnya menganga dan wajahnya memucat. Apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


__ADS_2