She is Missing

She is Missing
Chap 34: 05/02


__ADS_3

~Bersabar dan berhati-hatilah!~


 


Eggy berkali-kali mencoba menghubungi Agra tapi kakaknya itu tidak mengangkat satu pun panggilannya. Ia pun mengiriminya pesan, berharap mendapat balasan. Beberapa menit kemudian, Agra membalas pesannya. Sayangnya, jawaban Agra hanya membuat Eggy mendengus kesal. Kakaknya tidak bisa menjemputnya di stasiun karena mendapat giliran kerja malam.


Eggy mengedarkan pandangan menatap stasiun. Ratusan orang yang tadi turun bersamanya sudah bubar, menghilang, menyebar ke tujuannya masing-masing. Hanya menyisakan beberapa orang di kursi tunggu dan petugas. Eggy berjalan menjauh melewati pintu keluar.


Karena tidak ada yang bisa menjemputnya, Eggy memesan salah satu ojeg online. Itu pun dia harus menunggu lama. Di tengah malam seperti ini, ada beberapa tukang ojeg yang masih menerima penumpang tapi tidak sebanyak ketika di siang hari. Selama beberapa menit ini, layarnya hanya menampilkan gambar motor yang berjalan dari ujung kiri ke ujung kanan, belum ada ojeg yang merespon order-annya.

__ADS_1


Masih tidak ada yang merespon, Eggy membatalkan pesanannya. Tangannya hampir menekan nomor seseorang tapi ia batalkan juga. Dan Eggy kembali ke usahanya mendapatkan ojeg online. Ada beberapa taksi dan ojeg yang biasa mangkal di stasiun menawarinya sedari tadi tapi ia mengabaikannya. Untuk menghindari mereka, Eggy memilih tempat yang agak sepi dari gangguan taksi dan ojeg.


Ternyata, ada beberapa orang yang berpikiran sama seperti dirinya. Sejauh mata memandang, orang-orang di sana tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing sembari menunggu jemputan. Ada yang sibuk menelepon, berbalas pesan bahkan sekedar bermain game online.


Mata Eggy terpaku pada sosok perempuan ber-sweater hijau, rambut kuncir kuda, dengan earphone menempel di telinga. Tubuh Eggy membeku. Tentu saja dia sangat mengenal sosok perempuan itu, apalagi jika bukan karena selama dua hari ini dia membuntutinya. Itu juga alasan kenapa Eggy tengah malam ada di stasiun ini.


Eggy ingin berbalik badan dan memilih tempat lain untuk menunggu tapi dia sudah kepalang basah. Tempatnya sekarang berdiri sudah ia jadikan titik temu. Jika harus memilih tempat lain, Eggy harus berjalan kaki beberapa meter untuk menghindari taksi dan ojeg yang mangkal.


“Nona, duduklah di sana dari pada kau hanya berdiri mematung di sini menghalangi jalan,” seorang lelaki paruh baya berkata dengan kesal sambil lalu. Beberapa orang menatapnya.

__ADS_1


“Maaf!” Eggy membungkukan badan kepada semua orang yang tadi menatapnya.


Dengan langkah diseret, Eggy mendekati satu-satunya kursi yang ada di sana. Eggy tidak duduk, ia memilih berdiri di belakang perempuan itu. Matanya mengintip melewati bahunya, ingin tahu apa yang sedang dikerjakannya. Perempuan itu sedang menulis, menuliskan artikel dari perjalanannya kemarin. Eggy menelan ludahnya yang terasa pahit.


Di saat dirinya menggerutu dan berdiri tidak jelas, saingannya ini justru tengah sibuk mengerjakan artikelnya. Hatinya mendadak menciut. Tapi tetap saja dia pencuri. Eggy kembali mengeraskan hatinya.


Matanya beralih menatap jalanan. Sebuah motor mendekati tempat mereka. Eggy bergerak cepat mendekati motor yang kini berhenti, begitu pun perempuan yang tadi dia awasi. Eggy mengerutkan kening karena mereka berdua mendekati motor yang sama.


“Pesanan atas nama Eggy?” pengemudi motor itu menatap Eggy dan gadis di sampingnya bergantian.

__ADS_1


“Itu saya!” Eggy tersenyum lebar, rasanya sangat menyenangkan menang dari gadis di hadapannya. “Sekali pencuri tetap pencuri,” ucap Eggy ketika ia berjalan melewati gadis itu. Ia bahkan dengan sengaja menyenggol pundaknya hingga gadis itu oleng dan kepalanya membentur tembok di samping tempatnya duduk.


Wajah Eggy memerah ketika mendengar suara benturannya. Ia buru-buru menyuruh sopirnya untuk pergi meninggalkan tempat itu meskipun orang-orang di sana memintanya untuk minta maaf dan bertanggung jawab.


__ADS_2