She is Missing

She is Missing
Chap 21: 19/02 [1]


__ADS_3

~Tidak ada ruginya menyelam lebih dalam, mungkin kamu akan menemukan mutiara yang selama ini hilang~


 


Sejujurnya, Rin sedikit kecewa karena pencarian kemarin harus berhenti. Ange dapat tugas mendadak dan harus segera pergi. Jaya pun di telepon temannya karena harus menyiapkan bahan presentasi. Selama ini Rin mengira, Jaya bukan seorang mahasiswa karena mau mencurahkan sebagian besar waktunya untuk membantu mencari Jun. Sedangkan Edna, dia memang tinggal lebih lama dari yang lainnya tapi ia pun ikut pulang setelah menjarah habis oleh-oleh yang dibawa orang tua Rin.


“Lebih baik, tunggu sampai Mbah Sekar datang biar kita leluasa mencarinya. Biar nggak disangka maling,” ucap Edna sebelum pulang.


Dan sepanjang hari kemarin, Rin menunggu Mbah Sekar pulang tapi ternyata wanita itu tidak juga datang bahkan saat matahari sudah kembali ke peraduan. Entah pergi ke mana Mbah Sekar di hari Minggu itu.


Supaya hari ini tidak melewatkan kesempatan bertemu dengan Mbah Sekar, Rin menghabiskan waktu cukup lama di teras depan. Lagi pula, tidak ada salahnya menghabiskan waktu di luar rumah. Terkadang Rin perlu juga udara pagi yang masih sejuk karena biasanya ia keluar rumah hanya jika matahari sudah cukup terik. Ditambah, Rin tidak ada kuliah pagi jadi waktunya cukup senggang.


Sudah lima belas menit namun belum ada seorang pun yang keluar dari rumah Mbah Sekar. Yang ada justru Mbak Suti yang baru masuk sekitar sepuluh menit lalu. Wajah Rin mulai menekuk karena bosan. Memainkan ponselnya pun tidak bisa membantunya menyingkirkan kebosanan. Mamanya sudah melongoknya beberapa kali, menanyakan apa yang sebenarnya dilakukan Rin pagi-pagi seperti ini di teras namun Rin menjawab ala kadarnya.


Semenjak menemukan kenyataan bahwa ponsel Jun ada di rumah Mbah Sekar, Rin belum memberi tahu hal ini kepada orang tuanya. Dia ingin memastikannya terlebih dahulu sebelum membuat harapan palsu.


Tubuh Rin yang mulai membulat di atas kursi langsung berdiri tegak ketika melihat sosok Mbah Sekar keluar dari pintu rumahnya. Ada seorang gadis berseragam putih biru mengikutinya dari belakang. Rin tidak tahu kalau sekarang Mbah Sekar ditemani seseorang, entah sejak kapan.


Rin menunggu gadis itu pergi. Sekilas, dia merasa gadis remaja itu menatapnya dengan tatapan aneh. Entah apa maksud dari tatapan itu, padahal mereka baru bertemu. Atau jangan-jangan ini anak yang pernah Mamanya bicarakan? Berdiri saja di depan rumah lalu pergi tanpa berkata apapun?


“Pagi Mbah Sekar!” sapa Rin ketika gadis itu sudah berbelok dan hilang dari pandangan.

__ADS_1


“Pagi Rin. Tumben tho nduk, pagi-pagi udah mampir ke sini? Ndak ada kuliah?” Mbah Sekar menjawab dengan senyuman ramah tersungging di bibir kecilnya.


“Nggak ada Mbah. Eh iya Mbah, yang barusan itu siapa? Kok Rin baru liat.”


“Ina? Ina itu cucunya si Mbah. Ibunya jadi TKW jadi dia ikut di sini, sekalian nemenin si Mbah. Dia emang jarang keluar, jadi wajar lha kalau Rin ndak tahu. Apalagi semenjak kabar si Jun, kakakmu itu, nyebar, Ina makin jadi pendiem. Ndak ngerti si Mbah ada apa sama itu bocah,” cerita Mbah Sekar panjang lebar.


“Oh ya Mbah …”


Perkataan Rin terputus oleh suara ponselnya yang berdering. Sebuah nomor yang tidak dikenal. Meskipun dia menunggu kabar tapi gangguan di tengah-tengah pencariannya pun membuat kesal.


“Sebentra ya, Mbah,” Rin berbalik badan lalu menjawab panggilan itu. “Halo, maaf bisa hubungi saya lagi nanti? Saya sedang ada pekerjaan penting.” Setelah mengatakan itu, Rin langsung mematikan sambungan lalu kembali menatap Mbah Sekar yang menunggunya dengan sabar. “Maaf ya, Mbah. Emmm, Rin mau tanya, apa Mbah pernah nemu sesuatu di sekitaran rumah Mbah?” tanya Rin tanpa basa-basi lagi.


“Nemu apa tho, Rin? Di halaman ini paling yang ada cuma batu sama daun. Itu juga tiap hari di sapu sama Suti, pagi dan sore,” jawab Mbah Sekar sambil terkekeh.


“Nggak nemu hape atau dompet gitu?”


“Oooh benda semacam itu maksudnya. Ndak pernah. Biasanya kalau emang ada benda semacam itu, Suti suka laporan sama si Mbah tapi kalau belakangan ini, kayaknya ndak ada tho Rin. Emangnya ada apa? Dompet kamu ilang? Hape kamu ilang?” Mbah Sekar memburunya dengan pertanyaan.


“Bukan Mbah, tapi Jun,” jawab Rin ragu. Dia menggigit bibirnya setelah mengucapkan hal itu. Apa tidak apa-apa mengatakan hal ini pada Mbah Sekar? Pertanyaan itu sedikit menganggu pikirannya.


“Kapan-kapan main ke rumah si Mbah, ya. Ajak ngobrol Ina, kasihan itu anak ndak ada temennya,” ucap Mbah Sekar dengan senyuman sembari menepuk pundak Rin. Ia kemudian berlalu meninggalkan Rin yang masih mematung.

__ADS_1


Sebelum memikirkan tawaran Mbah Sekar, ada hal lain yang harus Rin lakukan. Menghubungi orang yang tadi meneleponnya. Mungkin orang ini bisa memberinya kabar baik.


“Halo, maaf tadi saya memutus teleponnya. Ada apa ya tadi menelepon saya?”


“Maaf, siapa ya ini?” suara seorang pria menjawab panggilan Rin.


Kening Rin berkerut. Apa maksud dari penelepon ini? Tadi dia yang menghubungi tapi sekarang malah balik bertanya. “Bukannya tadi nomor ini nelepon nomor saya?”


“Tadi?” ada jeda hening sesaat sebelum orang di seberang sana melanjutkan perkataannya, “Oh tadi, itu bukan saya. Tadi ada orang minjem hape saya, katanya pulsanya abis makanya nebeng sama saya.”


“Gimana ciri-cirinya?” Rin mulai penasaran.


“Ummm, kalau itu saya kurang jelas. Dia pakai topi dan masker. Saya aja sempet ragu-ragu mau minjemin hape saya sama dia, mencurigakan.”


“Oh gitu. Makasih atas informasinya. Oh iya kalau mungkin ketemu lagi sama orang itu, bisa tolong hubungi saya lagi?”


“Errr… baiklah!” jawabnya ragu.


“Satu lagi pertanyaan, Masnya sekarang lagi ada di mana?”


“Saya lagi di stasiun kota, denger kan suaranya?”

__ADS_1


Rin mengangguk-angguk saat mendengar suara kereta dan pengumuman keberangkatan dari pengeras suara meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Makasih banyak informasinya. Maaf sudah mengganggu.”


Bibir Rin menyunggingkan senyum. Meski dia belum tahu siapa yang meneleponnya tadi entah kenapa dalam hatinya ia yakin kalau orang itu ada hubungannya dengan Jun. Di samping itu, ada tugas baru yang harus Rin lakukan nanti. Mengunjungi cucu Mbah Sekar, Ina.


__ADS_2