
~Setiap kesalahan ada balasannya, meskipun itu sekedar rasa bersalah~
Entah kenapa, pembicaraan Ange kemarin di telepon begitu mengganggunya. Memang tidak terlalu jelas tapi telinganya jelas mendengar nama Jun disebut. Ada berapa orang Jun di kota ini dan sekitarnya? Eggy setidaknya kenal satu dua orang lainnya yang biasa dipanggil Jun atau setidaknya ada kata ‘jun’ dalam nama mereka. Bisa saja Jun yang Ange bicarakan itu seorang laki-laki, bukan hanya perempuan kan yang punya nama Jun? Sekali pun seorang perempuan mungkin itu adalah Jun yang lain bukan Jun yang dikenalnya juga, kan? Lagi pula kenapa dirinya harus khawatir?
“Woy, bengong aja! Yang ada tuh kacang garing melempem gara-gara liatin muka garingmu!”
Eggy melirik kakaknya, Agra, yang duduk di sampingnya meraup kacang kulit yang tadi dia taburkan di atas meja. Awalnya kacang-kacang itu dia bawa untuk menemaninya mengerjakan pekerjaannya tapi pikirannya malah sibuk memikirkan pembicaraan Ange dan mengabaikan apa yang ada di depannya.
“Bukan bengong tapi lagi mikir,” kilahnya. Dia membuka laptopnya yang tertidur dan menatap laman chat-nya.
Sebelum kakaknya datang mengganggu, Eggy sempat menanyakan perihal hilangnya Jun pada temannya yang bekerja di situs JalanJalan. Konfirmasi darinya hanya membuat perasaan Eggy semakin tidak menentu.
__ADS_1
“By the way, gimana acara kamu sama Ange kemaren?” tanyanya diiringi suara bising kunyahan.
“Ya… gitu aja,” jawab Eggy dengan tidak semangat. Dia mencoba memusatkan pikirannya pada layar. Dibukanya folder foto yang diambil saat perjalanan minggu lalu, dia sendiri tidak tahu entah berharap akan mendapatkan apa dari foto-foto itu.
“Gitu aja gimana maksudnya? Kemaren kayaknya semangat banget tapi sekarang …” kata-katanya menggantung, dia melongokkan kepala mencoba membaca ekspresi Eggy yang terlihat tak bergairah. “Pasti terjadi sesuatu, kan?”
Eggy tidak bersuara tapi wajah cemberutnya sudah menjadi jawaban pertanyaan Agra. Gadis itu malah kembali terdiam, mengabaikan slide foto yang tengah bermain di hadapannya dan suara penyiar di televisi yang baru saja dinyalakan kakaknya. Pikirannya kembali pada percakapan Ange padahal dia tidak ingin mengingatnya sama sekali.
“Kenapa mendadak nanya serius gitu?” Agra balik bertanya.
“Bukan apa-apa,” jawab Eggy cepat.
Eggy terdiam kembali. Apa harus dia ceritakan masalah itu pada Agra? Apa kakaknya akan menyalahkan atas apa yang dilakukannya? Bagaimana kalau Agra malah melaporkan masalah ini pada kedua orangtuanya? Eggy tidak bisa membayangkan amarah keduanya. Apa lebih baik dia simpan sendiri saja? Mungkin ini semua hanya ketakutannya yang berlebih pada hal-hal yang sebenarnya belum pasti. Mungkin sebenarnya Jun baik-baik saja di luar sana.
__ADS_1
“Kamu nggak ngapa-ngapain kan sama Ange?” tanya Agra dengan wajah serius. Kedua alisnya bertaut, dahinya mengkerut, penuh selidik pada Eggy.
Eggy melayangkan bantal ke wajah Agra dengan kesal. Kenapa kakaknya bisa berpikiran aneh semacam itu?
“Aku sama Ange nggak segila itu. Kemaren kita cuma makan, jalan terus nonton. That’s it!”
Agra tertawa geli dengan jawaban adiknya. “Ya, kali aja. Habis pake nanya pertanyaan kayak tadi. Semua orang pernah buat salah kayak gitu dan banyak yang nggak ngaku juga, malah mungkin udah lupa. Namanya juga kesalahan yang nggak disengaja, mana ada orang yang inget begituan kan?”
Perkataan Agra memang ada benarnya tapi ketidaksengajaan yang Eggy buat bisa mengancam hidup seseorang, apa kakaknya akan mengatakan hal yang sama jika tahu tentang masalah itu? Eggy tidak tahu dan tidak berani mencari tahu. Lebih baik dia mengurusi jadwalnya dari pada memikirkan hal yang belum pasti.
“Beneran kan nggak ada apa-apa antara kamu sama Ange?” tanya Agra masih belum percaya.
Dengan mata melotot dan tangan di pinggang, Eggy memutar badan menatap kakaknya. “Can you just go back to where you are? I’m trying to do something here!”
__ADS_1