
~Semua ada di genggamanmu, kamu hanya perlu menggunakannya dengan baik, benar dan bijak~
Sudah berkali-kali Rin menggonta-ganti saluran televisi. Ditontonnya acara di layar itu sebentar, lalu dipindahkan. Sejujurnya tidak ada yang menarik dari acara-acara itu dan itulah alasan sebenarnya kenapa Rin gonta-ganti saluran. Alasan lain Rin melakukannya adalah karena dia kesal, kenapa Edna belum juga datang.
Malam ini Rin sendiri. Kedua orang tuanya jadi berangkat ke rumah neneknya tadi sore. Dia sudah mewanti-wanti Dania untuk mengkondisikan kakek neneknya. Kedatangan Mama-Papanya biarlah jadi kejutan menyenangkan di tengah kekhawatiran. Dan baru saja, Dania dan Mamanya mengirim pesan kalau mereka sudah sampai. Kakek neneknya sangat terkejut namun juga gembira karena kedatangan ini tidak disangka-sangka.
Rin menatap jam dinding. Sudah jam sembilan lebih dan Edna belum juga sampai. Entah apa yang dilakukan temannya itu sehingga sangat terlambat. Jalanan malam tidak akan semacet ketika siang, seharusnya Edna bisa sampai lebih cepat.
Getaran ponsel Rin mengalihkannya dari kegiatan ganti saluran. Sebuah nomor private. Jika diingat-ingat, ini bukan pertama kalinya Rin mendapatkan panggilan seperti itu. Dia tidak tahu, apakah yang menghubunginya orang yang sama atau bukan. Dia juga tidak tahu apa maksud orang ini menghubunginya, entah sekedar iseng atau memang ada maksud tertentu. Entah panggilan ini ada kaitannya dengan Jun atau masalah lain. Rin tidak tahu karena panggilan itu selalu terputus setelah kata ‘halo’.
Bahkan panggilan kali ini pun berakhir begitu saja. Berakhir sebelum Rin mengangkatnya karena Jeff menghubunginya dan Rin lebih memilih mengangkat panggilan itu dari pada mengangkat telepon tidak jelas.
“Thanks Jeff, you are my savior!” ucap Rin penuh kelegaan.
“Saving you from what?” Jeff keheranan dengan perkataan Rin karena bukannya kata ‘halo’ dan ‘I miss you’ yang didapatkannya.
“Penyelamat dari rasa bosan,” jawab Rin dengan lebih santai.
“Mama Papa jadi pergi?” tanya Jeff lagi.
“Ya, mereka baru saja sampai. Untung Dania langsung kasih kabar. Kalau nggak, aku nggak tahu apa yang bakalan Tante Lala kasih tahu sama kakek nenek soal Jun,” Rin merinding dan lagi-lagi bayangan ambulans dan rumah sakit melintas dalam pikirannya.
“Emang berani sendirian di rumah?” goda Jeff, jika Rin bisa melihatnya, jauh di sana Jeff tengah tersenyum jahil.
“Ya nggak lha, makanya aku udah minta Edna buat nginep di sini tapi sampe sekarang dia belum nyampe juga. Nggak tahu nyangkut di mana tuh anak,” kekesalan Rin muncul kembali mengingat Edna yang belum juga muncul. Lima menit sudah berlalu sejak terakhir tadi Rin melihat jam dinding. “Kita udah dapet beberapa kemungkinan tentang Agatha Kamila tapi karena tadi Dania nelpon jadinya belum maju ke mana-mana,” lapor Rin.
“Udah coba buka medsos kakakmu belum? Paling gampang kan tinggal buka chatting-an mereka berdua.”
Bukannya menanggapi perkataan Jeff, Rin malah menepuk jidatnya. Sebelum meninggalkan Jaya di café tadi, lelaki itu meminta ijinnya untuk membuka medsos Jun. Kalau bisa dibuka bersama-sama, itu kata Jaya tadi pagi tapi Rin benar-benar lupa. Dia fokus pada kabar kakek neneknya yang ingin datang ke rumah. Yang lebih bodoh dari semua itu, Jun meninggalkan laptopnya di rumah jadi medsosnya terbuka lebar untuk dijelajahi. Tidak perlu hacking atau tebak-tebakan password. Kenapa hal penting seperti ini benar-benar bisa terlupakan?
“Oke kalau gitu, biar aku coba aja sekalian. Kita sambung lagi nanti, oke?”
Rin melempar ponselnya begitu saja. Ia berlari menuju kamar Jun yang terkunci selama dua minggu ini, mencari-cari laptop kakaknya. Tidak ada di atas meja, jadi kemungkinan besar benda itu ada di dalam tas jinjingnya. Tapi benda itu pun tidak bisa ditemukan. Wajah Rin yang bersemangat berubah pucat. Harapan yang tadi sempat membara, lenyap begitu saja. Rin membiarkan badannya yang lemas ambruk di samping tempat tidur. Kemana perginya laptop itu?
Bunyi ketukan di pintu tidak membiarkan Rin untuk menjernihkan pikiran dan perasaannya lebih lama. Dengan langkah gontai dan pikiran kosong, dia mencapai pintu depan.
“Sorry Rin, ada perlu dulu jadinya telat.”
Tapi Rin tidak mempedulikan perkataan Edna sama sekali. Dia melangkah kembali menuju sofa, menuju televisi yang bercuap-cuap sendiri, lalu berbaring menatap dengan pandangan kosong.
“Rin, kamu nggak kesambet, kan?” tanya Edna dengan suara datar. Tangannya bergerak ke arah kening Rin.
“Laptop Jun nggak ada,” ucapnya dengan lemas.
“Sejak?”
__ADS_1
“Aku nggak inget. Seinget aku, waktu dia ke Jogja kemaren dia nggak bawa laptopnya.”
Rin menekuk tubuhnya lalu meraih ponsel yang sempat dilemparkannya begitu saja. Ada satu pesan dari Jeff setelah percakapan mereka terputus tadi.
Jeff <3
Buka aja medsosnya dari laptop atau ponselnya
Kalau aku biasanya tidak pernah logout apapun dari sana
21.10
Ingin kulakukan, Rin hanya bisa membatin.
“Ponsel? Apa dia lupa kalo handphone-nya hilang?” Gumaman Rin membuat Edna melirik dan menatapnya. “Jangan hiraukan aku,” ucap Rin ketus.
Edna hanya angkat bahu lalu beranjak menuju dapur. “Ada makanan, kan?”
“Cari aja sendiri!”
Rin
Babe, kamu lupa ya, kan hapenya ilang
Padahal seinget aku tuh laptop nggak dibawa
Nggak tahu kalo mendadak di detik-detik terakhir Jun berubah pikiran
21.11
Jeff <3
Ada satu cara lagi
Cari hapenya sampe dapet
21.12
Rin
Dari awal juga itu udah jadi prioritas
Hape, dompet, tasnya
__ADS_1
Polisi aja belum nemu apa-apa
21.13
Jeff <3
Ayolah, jaman udah semakin canggih
Buat apa punya ponsel pintar kalau yang makenya masih … B)
21.13
Rin
Apa?
21.14
Jeff <3
Please, dengerin dulu
Coba cari apps buat nyari hape ilang
Banyak kok bertebaran di apps store
21.14
Rin
Yakin ketemu?
21.15
Jeff <3
Ketemu nggaknya tergantung keadaan hape kakak kamu
Syukur kalau masih baik-baik aja
Tambah bersyukur kalau hape itu ada di tangan kakak kamu
Hape ketemu, kakak kamu juga ketemu
21.16
__ADS_1
Rin terdiam memikirkan kata-kata Jeff padanya. Jaman memang semakin canggih dan mencari sebuah ponsel harusnya tidaklah sesulit dahulu. Bukankah cara itu patut dicoba?