
~Itulah kenapa pengkhianatan selalu menyakitkan karena itu berasal dari orang yang paling disayang~
Tangan Tiana gemetar hebat. Saking hebatnya ia tidak kuasa untuk terus menggenggam ponsel yang tadi ia gunakan sebagai jangkar agar bisa tetap duduk tegap. Tiana yakin seyakin-yakinnya, pesan yang baru saja dia baca berasal dari puterinya, Rin. Tapi isi pesan yang dikirimkannya membuatnya membelalak tidak percaya. Omong kosong macam apa yang Rin kirimkan padanya? Mana mungkin Mario bisa setega itu? Mana mungkin Mario melakukan pengkhianatan semacam itu? Apakah ini juga alasan sebenarnya kenapa kemarin anaknya tidak pulang? Seolah telah terjadi gempa yang hebat dalam diri Tiana sehingga meluluh-lantakan hati dan pikirannya.
Tiana menarik napas panjang dan dalam lalu menghembuskannya perlahan. Haruskah Tiana tanyakan kembali masalah ini pada Ina –cucu Mbah Sekar, yang baru dia temui kemarin? Tidak, dia harus menanyakannya langsung pada Mario. Dia yang lebih tahu masalah ini. Dia pelaku utama dalam kejadian ini. Tapi suaminya baru keluar rumah beberapa menit yang lalu untuk cukur rambut dan isi bensin.
Tiana mulai menyibukkan diri. Dia menuju dapur kemudian menghampiri wastafel cuci piring. Tangannya meraih spons cuci lalu sibuk membersihkan peralatan kotor bekas sarapan dirinya dan Mario. Setelah semua cucian piring selesai, Tiana meraih sapu di pojok dapur, disapunya seluruh ruangan dari ujung ke ujung. Setelah semua peluh itu, Tiana mengistirahatkan diri di sofa ruang tengah namun tidak lama. Dia ke kamar mengambil handuk kemudian menghabiskan waktu yang tidak lama di kamar mandi.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang dilakukannya. Tiana duduk di atas kasur, kepalanya tertunduk. Pikirannya dipenuhi semua kemungkinan yang akan terjadi saat dia menunjukkan pesan di dalam ponselnya kepada Mario. Tiana melirik jam dinding. Seharusnya Mario sebentar lagi pulang.
Seseorang membuka pintu rumahnya, Mario memanggil Tiana tapi ia memilih bungkam. Tiana membalikkan badan ketika pintu kamar dibuka suaminya. Ia sekilas melihat Mario mengerutkan kening kebingungan melihat Tiana yang duduk memunggunginya.
“Kenapa Ma? Papa dateng kok malah dipunggungin,” Mario menghampiri Tiana, dia duduk di sampingnya dan berusaha membuat Tiana menatapnya.
“Benarkah yang Rin katakan?” tanya Tiana dengan suara bergetar.
“Dari mana Rin tahu cerita ini?” Tiana mendesis tidak percaya. Bukannya bantahan atau pembelaan tapi justru pertanyaan semacam itu keluar dari mulutnya. Apa ini artinya Tiana boleh menyimpulkan kalau Mario mengakui perbuatannya?
__ADS_1
“Tolong jawab, apa semua yang Rin ceritakan benar?” Tiana berkeras dengan pertanyaannya.
Bukannya menjawab, Mario malah berusaha meraih Tiana dalam rengkuhannya. Tiana langsung berdiri menjauh dari Mario, matanya mulai berkaca-kaca, kedua tanganya memeluk tubuhnya yang gemetar.
“Please, Tiana, duduklah!” Mario membujuknya untuk kembali duduk tapi Tiana bersikukuh untuk tetap berdiri di tempatnya.
Entah apa yang sebenarnya Mario pikirkan, dia malah terdiam. Tiana tidak butuh kebungkamannya. Dia butuh jawaban.
“Berminggu-minggu, kamu bertingkah seperti orang yang tidak tahu apa-apa,” ucap Tiana dengan suara lemah. “Aku memaklumi semua kesibukanmu sebagai pelarian atas kesedihanmu karena kehilangan Jun. Tapi ternyata semua dugaanku itu salah,” Tiana mulai menitikkan air mata. “Selama ini yang kamu lakukan hanyalah berlari dari kenyataan bahwa kamulah penyebab hilangnya Jun!”
__ADS_1