
~Seperti lapisan bawang, kamu hanya perlu mengelupasnya satu per satu untuk melihat intinya atau … potong saja~
Setelah menyapa tamunya, senyum terkembang di bibir Tiana. Melihat seseorang yang sudah lama tidak berjumpa membawa sedikit kegembiraan dalam hatinya. Meskipun kegembiraan sesaat. Senyuman itu menghilang ketika nama Jun disebut-sebut oleh Ange. Apalagi tamunya itu mengungkit-ungkit tentang hutang. Jantungnya hampir saja copot jika saja Ange tidak buru-buru menjelaskan hutang apa yang dipunyai anaknya.
Berharap mendapatkan sedikit informasi, Tiana membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka. Dia memasang telinga, tidak mau melewatkan kabar apapun yang dibawa mereka berdua. Dering ponsel mengusik konsentrasi Tiana. Dia menatap ponselnya ragu-ragu. Dia berbalik menatap ke arah pintu. Setengah hatinya masih ingin tetap mendengarkan pembicaraan, tapi panggilan itu harus diterima.
“Halo, Pa.”
“Halo, Ma. Lama banget angkat telponnya, lagi ngapain?”
Tiana menangkap nada ketus dari suara suaminya hingga membuat dia mendesah. “Ada tamu, Pa. Papa inget sama Ange? Anaknya Mas Wicak tetangga kita dulu?” tanya Tiana.
“Ange anaknya Mas Wicak?” hening sesaat sebelum suaminya berkata. “Maksudmu Ange yang suka ngajak Jun main di kali?”
“Iya Mas. Ange yang mana lagi,” ucap Tiana sembari tersenyum. “Dia datang mencari Jun, sepertinya ada masalah pekerjaan,” sambungnya.
“Oh. Lalu sejauh ini bagaimana perkembangan kasus Jun?”
“Tadi pagi ada dua orang polisi datang ke rumah,” Tiana tertunduk, tangannya sibuk memainkan bantal di pangkuannya. “Mereka bertanya banyak hal. Mereka ingin tahu, keberadaan seluruh anggota rumah saat Jun seharusnya pulang.”
__ADS_1
“Apa lagi yang mereka tanyakan?”
“Mereka juga menanyai tetangga kita. Tapi Papa tahu sendiri, kan, dua minggu lalu blok kita sangat sepi? Tidak ada yang bisa membantu memberi keterangan tambahan.”
Tiana mendesah resah. Helanaan napas berat yang sama dia dengar dari suaminya di seberang sana. Kapan masalah ini akan mendapat titik terang? Semuanya seolah berjalan di tempat.
“Kapan pulang, Pa?” Tiana mengalihkan pembicaraan.
“Kalau sesuai jadwal, besok sore acaranya selesai. Tidak usah khawatir, mobil kantor akan mengantar pulang,” jawab suaminya.
Setelah Tiana memutuskan telepon dari suaminya, suasana kembali hening. Suara Ange dan Rin dari ruangan tengah pun sudah tidak terdengar lagi. Tiana mencari sosok keduanya, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka. Dilihatnya pintu depan rumah terbuka. Sayup-sayup terdengar suara deruman mesin motor meninggalkan rumah. Kemudian, Rin masuk dan melempar senyum ke arahnya.
“Rin kira Mama udah tidur.”
Rin menggabungkan diri duduk di sofa di samping Tiana. Tangan anak bungsunya menyambar toples kue kering di hadapannya.
“Belum, masa ada tamu Mama tidur. Oh, ya, tadi pagi waktu kamu kuliah, polisi datang ke sini,” ujar Tiana.
__ADS_1
“Iya, Ma, Rin juga udah tahu. Tadi pulang dari kampus Rin mampir ke kantor polisi. Kata mereka baru ngumpulin data awal. Sisanya disuruh nunggu dan sabar aja.”
Ucapan Rin dibarengi dengan semburan remahan kue membuat Tiana mengukir senyum.
“Tadi juga Rin ketemuan sama rekomendasian om-nya Edna. Mungkin dia bisa bantu,” lanjut Rin.
“Syukurlah, banyak orang yang bisa membantu kita mencari kakakmu.”
Tiana terlihat sedikit lega. Ternyata masih ada orang yang bisa membantu mereka selain polisi. Dia hanya bisa berharap semoga semuanya bukanlah harapan kosong semata. Matanya tiba-tiba membulat. Tiana teringat sesuatu yang aneh terjadi hari ini.
“Oh ya Rin, tadi siang ada seorang anak yang berdiri cukup lama di depan rumah. Tapi sepertinya Mama belum pernah lihat anak itu sebelumnya.”
“Anak kecil?” tanya Rin masih dengan mulut penuh.
“Bukan, bukan anak kecil juga.” Tiana mengerutkan kening berusaha mengingat anak itu. “Kalau melihat seragamnya, sepertinya dia anak SMP. Dia terlihat gusar, tidak tenang, ragu-ragu. Waktu Mama keluar rumah dan mau menghampirinya, dia malah lari ketakutan. Sayangnya, dia sudah menghilang waktu Mama mencoba mengejarnya.”
“Mungkin cuma anak iseng, Ma,” timpal Rin. “Aku mau ke kamar mandi dulu, Ma.”
Rin berlari meninggalkan Tiana yang kini termenung memikirkan anak yang dilihatnya tadi siang. Entah mengapa, dia merasa ada yang aneh dengan kelakukan anak itu. Lagu pula, anak siapa dia? Di lingkungan sekecil ini, Tiana kenal semua orang yang tinggal di bloknya. Lalu, mau apa anak itu berdiri di depan rumahnya? Kenapa anak itu harus lari? Apa anak itu berbuat salah atau justru dirinya yang berbuat salah?
__ADS_1
Ah, kenapa dirinya harus ambil pusing seorang anak yang kebingungan dan ketakutan? Bukankah masalahnya saat ini pun sudah cukup memusingkan?