She is Missing

She is Missing
Chap 33: 23/02 [3]


__ADS_3

~Tidak semua yang ingin kamu tahu mau kamu dengar~


 


Wajah orang yang duduk di hadapan Ina berubah pucat sepucat kertas setelah dia menyelesaikan ceritanya. Ina tidak menyangka kalau reaksinya akan seperti ini. Lagi pula reaksi apa yang Ina harapkan dari seseorang yang mengetahui masalah itu terjadi dalam keluarganya? Ina sendiri tidak bisa membayangkan hal semacam itu terjadi dalam keluarganya. Ina ingin melanjutkan ceritanya tapi melihat Rin masih tampak shock seperti itu membuatnya berpikir dua kali.


Ina meremas kedua tangannya yang terasa panas, sepanas suasana di ruangan ini. Tangannya menyambar gelas air mineral yang disiapkan Rin. Matanya menatap ke luar jendela. Matahari mulai menuju peraduan, ruang kelas pun semakin gelap tak bercahaya.


“Dari mana kamu tahu kalau wanita yang ada di rumahku malam itu bukan ibuku?” Ina bisa dengan jelas mendengar getar dalam suara Rin meskipun perempuan di hadapannya ini sudah beberapa kali berdeham untuk menormalkan suaranya.


“Dua hari setelah Kak Rin menempelkan selebaran, saya pernah berniat buat ngasih tahu soal Kak Jun sama keluarga Kakak,” Ina menghentikan kata-katanya, tangannya meraih kembali gelas plastik di hadapannya dan meneguk isinya. Kali ini dia tidak melepaskannya. “Tapi saat itu saya masih takut dan ragu,” lanjutnya. “Saya berdiri cukup lama di depan rumah Kak Rin hingga akhirnya ada orang yang buka pintu. Seorang wanita keluar tapi setelah saya perhatikan, orang itu ternyata bukan wanita yang sama yang ada di malam itu. Saya langsung lari karena bingung dengan apa yang baru saya lihat.” Ina mengambil jeda untuk membasahi tenggorokannya yang kering. “Lagian kalau diinget-inget lagi, malem itu, bapaknya Kak Rin dan wanita itu masih pake setelan orang kantoran.”

__ADS_1


“Ada yang lainnya?” tanya Rin lagi.


Ina berusaha mengingat kembali detail kejadian malam itu namun kemudian kepalanya menggeleng. Semua yang dia ingat sudah ia ceritakan semuanya pada Rin, tidak ada yang terlewatkan. Dan Rin masih terdiam, pandangan matanya mengarah ke bawah. Entah menatap lantai atau meja yang ada di hadapan mereka. Ina tidak tahu.


“Kenapa hapenya Jun tidak kamu langsung kembalikan sehari sesudah kejadian malam itu?”


“Hari itu saya pikir kalau memang hape yang saya temukan adalah milik penghuni rumah pasti akan dicari, setidaknya salah seorang dari rumah kakak akan berusaha mencarinya, bertanya-tanya pada orang-orang di sekitar. Tapi ternyata tidak ada seorang pun yang menanyakan keberadaan hape ini. Jadi saat itu saya pikir kalau benda ini milik si pencuri yang berusaha masuk rumah,” Ina membela diri atas tindakan yang diambilnya saat itu tapi Rin tidak bereaksi apapun atas jawabannya selain kata oh pelan.


Ina hanya berharap tidak ada yang salah dengan perkataannya. Dia tidak mau membuat kekuacauan di keluarga siapapun tapi jelas ceritanya barusan sudah menimbulkan kekacauan, setidaknya saat ini kekacauan itu hanya sedang terjadi di hati Rin.


Ina menangguk. Langkahnya terhenti di depan pintu, ia melirik Rin yang masih termenung. Tidak ada air mata yang membasahi pipinya tapi matanya jelas berkaca-kaca. Ina sempat ragu meneruskan langkah tapi diam menunggu di sini pun tidak akan membantu apapun.

__ADS_1


“Saya sempet hubungin nomor Kakak beberapa kali tapi …” Ina menghentikan perkataannya. Yang diajaknya bicara kini tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Di luar, Edna duduk menunggu mereka sembari membaca buku dan mendengarkan musik dari ponsel. Dia melepas earphone-nya ketika melihat Ina yang sudah berdiri di luar kelas menatapnya.


“Bagaimana Rin?” tanyanya.


“Masih di dalam, Kak,” jawab Ina. Dia diam sesaat, ragu untuk melanjutkan kata-katanya. “Errr…tadi Kak Rin bilang aku pulang bareng Kak Edna.”


“Baiklah. Tunggu di sini sebentar!”


Ina tidak menunggu terlalu lama, Edna keluar setelah beberapa menit.

__ADS_1


“Ayo!”


Ina mengekor pada Edna. Ia ingin melihat kembali ke dalam kelas tapi tidak ada jendela dalam jangkauan pandangnya. Setelah berjinjit pun, pandangan Ina tidak sampai. Entah apa yang masih dilakukan Rin di dalam kelas padahal hari sudah semakin senja dan petugas di depannya sudah mulai mengunci ruangan kelas. Ina berharap Rin baik-baik saja.


__ADS_2