
~Kabar baik itu masih bisa menunggu~
Tidak ada libur di akhir minggu, Ange tetap harus bertugas. Setidaknya, Ange bisa bekerja dengan hati yang lega. Dia tidak perlu khawatir lagi mengenai Eggy. Semua yang terjadi antara gadis itu dengan Jun tidak separah yang selama ini ia duga. Meskipun tidak dipungkiri kejadian di stasiun malam itu bukan perbuatan yang bisa ditoleri. Jika Jun kembali nanti, Eggy harus meminta maaf atas perbuatannya secara langsung.
Tugas Ange hari ini adalah mewawancarai salah satu pemain badminton yang akan ikut kejuaraan di luar, beserta pelatihnya. Sayangnya, Ange harus menghabiskan waktu menunggu cukup lama karena sedang ada sesi latihan yang tidak bisa diganggu gugat. Beberapa rekan senasib berkumpul dalam satu meja, menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bercanda. Rekannya yang rajin menggunakan waktunya untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Sedangkan Ange, dia lebih memilih bermain dengan ponselnya.
Ange belum sempat memberi kabar kepada Rin mengenai pembicaraan dengan Eggy alias si pemilik akun Agatha Kamila. Setidaknya cerita ini akan menghapus nama Eggy dari daftar tersangka penyebab hilangnya Jun tapi Eggy memang pelaku pada kasus pertikaian di media sosial. Ditambah lagi, Ange belum menanyakan perkembangan pencarian ponsel yang waktu itu mereka lakukan, Rin pun belum memberikan kabar apa-apa.
Beberapa kali Ange mencoba menghubungi nomor Rin tapi panggilannya hanya dibalas ucapan operator penyedia layanan seluler. Ange hampir putus asa sampai akhirnya teleponnya terhubung tapi panggilan itu tidak juga diangkat hingga bunyi ‘tut’ panjang berakhir.
__ADS_1
“Ok, sekali lagi.” Ange menunggu dengan sabar hingga akhirnya seseorang di seberang sana mengangkat teleponnya. “Halo Rin, apa kabar?” tanya Ange dengan suara nyaring dan wajah sumringah.
“Halo Mas Ange, ada apa?”
Mendengar suara Rin yang lemas, kening Ange berkerut. Semangat yang tadi sempat menggebu pun menciut. Mungkin Ange menelepon di saat yang tidak tepat. “Mas ganggu, ya?” jari-jemari Ange meremas rambutnya yang sudah tumbuh kembali. Jika perempuan sudah berbicara dengan nada seperti ini, biasanya dia sedang bad mood.
“Nggak usah dipikirin, Mas,” suara Rin terdengar lebih santai namun masih belum seperti biasanya. “Ada apa Mas Ange nelpon Rin pagi-pagi?”
Seingat Ange, saat terakhir kali dia mengecek jam tangannya, sekarang waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh. Memang masih pagi tapi tidak terlalu pagi. Sepertinya ada yang salah dengan Rin.
“Ya.”
__ADS_1
“Dia tidak ada hubungan sama sekali dengan kejadian hilangnya Jun. Kabar ini berasal dari sumber yang terpercaya jadi kamu tidak perlu menyangsikan kabar ini,” ucap Ange dengan senyuman.
“Ya, Mas, aku udah tahu.”
Respon Rin tidak sesuai dengan dugaan Ange. Ange mengira, setidaknya Rin akan bertanya siapa sebenarnya Agatha Kamila, masalah apa yang sebenarnya terjadi antara Jun dan Agatha Kamila, misalnya. Tapi pertanyaan semacam itu ternyata tidak terucap dari mulutnya.
“Kalau soal hape kakak kamu, udah ketemu kan?”
“Udah,” jawab Rin pendek.
“And …?” lanjut Ange.
__ADS_1
Keheningan menjawab pertanyaan Ange selama beberapa detik. Hembusan napas berat terdengar sebelum Rin berkata-kata. “Kita obrolin nanti lagi aja ya, Mas? Bye!” Dan Rin memutuskan kontak secara sepihak.
Ange hanya bisa garuk-garuk kepala, tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Entah ada masalah apa sehingga membuat seorang gadis yang cerewetnya luar biasa tiba-tiba berubah menjadi gadis yang sangat irit bicara. Rasa penasaran Rin pun sepertinya menguap ke udara, tidak ada ketertarikan sama sekali dengan masalah yang selama beberapa minggu ini dia coba pecahkan. Tapi dari mana Rin tahu kalau Eggy tidak terlibat dengan kejadian hilangnya Jun? Mungkinkah gadis itu sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Jun?