She is Missing

She is Missing
Chap 20: 18/02 [3]


__ADS_3

~Jika itu ular, mungkin dia sudah bersiap dengan gigi taringnya yang penuh bisa~


Ange buru-buru membasuh diri di kamar mandi setelah mendapat kabar tak terduga dari Rin. Awalnya dia hanya ingin menanyakan kabar keluarga Jun tapi Ange justru mendapatkan informasi yang … Entah dirinya harus berbahagia atau justru bertambah khawatir karenanya. Jun sampai ke rumah tapi kemudian menghilang. Entah dari mana Rin mendapat kesimpulan seperti itu. Ange harus menemui Rin untuk memastikannya.


Ange menatap ponselnya sejenak sebelum memasukkannya ke dalam saku jaket. Eggy masih belum membalas pesannya. Entah sedang apa gadis itu sampai sekarang tidak menyentuh ponselnya. Itu bisa dia pikirkan nanti.


Suasana perumahan ini sangat sepi seperti biasanya. Terlebih ini hari Minggu, orang-orang biasanya memilih menghabiskan waktu libur di atas kasur, berolahraga di kawasan car free day atau pergi jauh-jauh ke tempat yang lebih menyejukan hati dan pikiran. Begitu pun rumah Rin, begitu sepi. Tapi bukankah gadis itu memintanya datang ke rumahnya?


Ange tidak perlu menunggu lama, seseorang membukakannya pintu. Bukan Rin tapi temannya yang membukakan.


“Udah ditungguin sama Rin, tuh, Mas,” ucapnya.


Baik di luar maupun di dalam, rumah Rin benar-benar sepi. Apa orang tuanya sedang tidak ada di rumah? Ange mengira hanya ada Rin dan teman perempuannya seorang tapi ia mendapati seorang lelaki tengah memandangi layar laptop dengan serius di sana.


“Ada pertemuan apa ini?”


“Mas Ange, akhirnya datang juga!” Rin menyapanya dengan sangat gembira. “Ah iya, Mas, kenalin ini Jaya yang bantuin kita buat nyari Jun dan ini Edna yang hari itu sempet ketemu juga sama Mas Ange,” Rin memperkenalkan teman-temannya.


Gadis itu kemudian menggiringnya mendekati meja yang dipenuhi ponsel dan laptop. Ange menatapnya satu per satu. Satu layar berisi peta dengan tanda hijau yang terus berkedip, layar lainnya berisi data orang-orang. Hari libur seperti ini mereka terlihat sangat sibuk.


“Mas lihat, kan, tanda ini? Ini posisi ponsel Jun, ada di sekitar sini!” ucap Rin dengan antusias.


Ange akhirnya paham kenapa Rin memberi kabar kalau Jun pernah pulang. Ponselnya terdeteksi di sekitar rumah. Kalau memang ponsel itu masih di sekitar rumah, kenapa polisi tidak berhasil menemukannya? Apa mungkin ponsel itu masuk ke tempat yang tidak terlihat?

__ADS_1


“Kalian udah nyoba nyari di mana aja?”


“Hanya sekitar rumah. Kamar Jun, dapur, kamar mandi, bahkan di sini,” kepala Rin menunjuk bantal-bantal sofa yang sudah tidak beraturan.


Ange terkekeh melihat kehebohan yang mereka buat untuk mencari sebuah ponsel.


“Apa kalian sudah mencari di luar rumah?”


Ketiga orang di hadapan Ange saling tatap hanya membuat Ange yakin kalau mereka belum mencoba mencarinya di lokasi itu.


“Kita coba cari. Ada kemungkinan dia tidak sengaja menjatuhkan ponselnya di luar rumah, entah karena apa bisa kita cari tahu nanti,” Jaya menyetujui pemikiran Ange.


Rin, Edna dan Jaya bergegas keluar sementara Ange menelusuri layar lainnya. Menatap layar ini seperti sedang melihat tumpukkan arsip pegawai di kantor HRD. Foto dan data. Ange tidak mengerti kenapa mereka mengumpulkan data-data orang ini. Apa mungkin di antara mereka ada yang terkait dengan hilangnya Jun? Rin tidak akan begitu saja mengumpulkan informasi ini kalau memang tidak ada hubungannya. Tangan Ange berhenti bergerak ketika melihat wajah yang tidak asing. Kenapa mereka sampai memasukkan orang ini ke dalam data mereka?


“By the way, data apaan ini?” tanya Ange. Dia sodorkan layar ke arah Jaya.


“Oh itu, Rin meminta saya mencari kemungkinan orang yang memiliki akun Agatha Kamila,” jawab Jaya.


“Agatha Kamila? Untuk apa?”


“Pemilik akun itu menuduh Jun sebagai pencuri,” jawab Rin.


“Pencuri? Nyuri apaan?” Ange semakin bingung dengan pernyataan Rin.

__ADS_1


“Nggak tahu, makanya sekarang kita coba nyari hapenya biar nggak usah nge-hack lagi. Nge-hack makan banyak energi dan waktu,” ujar Rin dengan lantang, rasa lelah sepertinya telah menghilang. “Seenggaknya dengan ketemunya hape itu bisa jadi bukti kalau Jun memang pernah ke sini.”


Ange hanya bisa mengangguk untuk membenarkan. Lagi pula, dia tidak mau berpikiran buruk tentang orang-orang yang dikenalnya. Sekali pun sampai ada sesuatu di antara mereka, masalah buruk semacam ini mana mungkin disebabkan oleh dia. Ange memilih kembali menatap peta dari pada terus larut memikirkan kemungkinan mustahil itu.


Kedua ujung alisnya bertaut ketika dia menyadari ada sesuatu yang menganggunya. Asal sinyal yang ditampilkan di layar sepertinya bukan dari rumah ini. Ange sampai harus menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri mencoba memposisikan diri pada titik yang benar. Dia sampai membalik layarnya membuat orang yang melihatnya berteriak khawatir.


“Ngapain Mas sampai diputer-puter segala?” protes Rin.


“Coba kalian perhatikan. Apa kamu yakin ini rumahmu, Rin?” tanya Ange. Tangannya menggerakkan mouse memperbesar peta di layar. “Bukankah ini belokkan ke blok rumahmu? Lihat!” Ange mendorong layar itu menjauh supaya bisa dilihat oleh yang lainnya. “Kalau itu belokkannya, seharusnya sinyal yang dikirim bukan dari rumah ini tapi sinyal ini berasal dari rumah seberang,” ucap Ange.


Jaya menatap layar dengan lebih seksama, dia pun melakukan apa yang baru saja Ange lakukan. “Betul juga. Saya tidak terlalu memperhatikannya karena kurang mengenal daerah ini. Jika berdasarkan jalan masuk ke blok rumah Rin dan berdasarkan peta yang ternyata posisinya harus di putar sehingga pada posisi yang benar, peta ini bukan menunjuk rumah ini. Rumah siapa yang ada di seberang?”


Semua mata tertuju pada Rin yang terlihat bingung.


“Itu rumah Mbah Sekar. Untuk apa dia ke sana?” Rin menatap satu per satu orang di hadapannya.


“Kita nggak tahu buat apa, yang jelas kita cari dulu ke sana!” ucap Ange.


Mereka semua keluar, membagi tugas untuk mencari ke setiap sudut halaman Mbah Sekar. Meskipun mereka ingin mencoba mencari ke dalam rumah pun tidak akan bisa, Mbah Sekar sedang keluar. Tapi niatan mereka terhenti ketika klakson mobil mengalihkan perhatian. Ange tidak tahu siapa itu tapi Rin berlari menghampiri. Jelas gadis itu kenal dengan orang-orang yang ada di dalamnya.


“Anak-anak, kalian lagi ngapain?”


Ange kenal pemilik suara ini. Bukankah itu Tante Tiana dan Om Mario?

__ADS_1


__ADS_2