She is Missing

She is Missing
Epilog


__ADS_3

~Epilog~


 


Suasana rumah sore itu mencekam, lebih di dingin dan seram dari kuburan. Rin tidak melihat Papa dan Mamanya di ruang tengah, tempat biasanya mereka menghabiskan sore. Meski pada dasarnya mereka semua duduk di ruang yang sama, sering kali mereka hanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Televisi dibiarkan menyala hanya sebagai pengisi kesunyian. Matanya menatap pintu kamar kedua orang tuanya yang tertutup, sama-sama sunyi tidak bersuara. Saat tadi Rin memasuki rumah dia pun tidak berkata apa-apa. Ia berjalan lurus menuju kamar lalu ia mengunci diri.


Rin langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasurnya yang dingin. Sudah dua hari berlalu semenjak Rin mengetahui rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh ayahnya. Dan perasaan Rin masih mati rasa. Ia ingin menangis tapi matanya kering seolah kehabisan persediaan. Ia ingin marah meluapkan segala emosinya tapi rasanya percuma. Badannya benar-benar lemas. Rin ingin menenggelamkan diri dalam tidur tapi matanya pun menolak untuk terpejam. Rin benar-benar kacau. Semuanya terasa serba salah.


Jika Rin saja sudah sekacau ini, entah apa yang terjadi pada kedua orang tuanya selama dua hari kemarin dia tidak di rumah. Mungkin lebih kacau dari dirinya.

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar utama, Tiana dan Mario masih saling bungkam. Keduanya seperti dua orang asing yang terperangkap dalam satu ruangan. Malah terlihat lebih parah. Mereka seperti dua musuh bebuyutan yang terpaksa menghabiskan waktu bersama.


Tiana tahu Rin sudah kembali. Suara pintu depan menjadi penandannya. Tapi dia tidak ingin keluar kamar karena ia khawatir anaknya akan bersedih melihat keadaannya yang hancur luar dalam. Wajahnya kusam dan pucat. Dalam suasana hati seperti ini tidak terlintas dalam pikiran Tiana untuk mengurus dirinya sendiri. Meskipun begitu, ia tetap berusaha menyiapkan makanan untuk keluarganya serta menyapu seluruh ruangan. Ia sendiri tidak menyentuh sedikit pun hasil masakannya. Lidahnya terasa pahit ketika mencecap makanan. Entah bagaimana rasa makanan yang dia buat tadi.


Keadaan Mario tidak lebih baik. Dia duduk di sudut kamar, di tempat ia biasa menghabiskan waktu dengan pekerjaan. Hilangnya Jun bukan sepenuhnya kesalahan Mario, itu yang diyakini dirinya. Tidak seharusnya Tiana bungkam seribu bahasa menanggapi ini semua tapi tidak ada gunanya juga jika terus mengurai kata untuk membela diri. Maaf yang terucap dari mulutnya tidak membuat keadaan di rumah lebih baik. Meskipun Tiana tidak melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga tapi mengabaikan suaminya seperti ini bukanlah sesuatu yang Mario inginkan.


.


..

__ADS_1


...


....


.....


Seseorang bertopi hitam beranjak dari tempat persembunyiannya saat melihat Rin turun dari ojek. Dipasangkannya masker yang sedari tadi menggantung di sekitar wajahnya. Dia menatap Rin yang berjalan memasuki rumah cukup lama sebelum akhirnya pergi tanpa menoleh kembali. Dia menarik topinya semakin dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang tanpa ekspresi. Sembari tertunduk menatap jalanan, dia menghembuskan napas cukup kencang. Serasa ada beban berat yang coba ia singkirkan bersamaan dengan helaan napasnya. Dia menoleh untuk terakhir kalinya, menatap ke arah jalan di belakangnya, sebelum dia menaiki sebuah sedan merah yang mengeluarkan suara klakson cukup kencang, tidak sabar menunggu orang itu untuk segera masuk dan pergi dari sana secepatnya..


FIN

__ADS_1


__ADS_2