She is Missing

She is Missing
Chap 23: 19/02 [3]


__ADS_3

~Tak ada ruginya menunggu sejenak, bukankah kita pun terkadang butuh ruang untuk sendiri?~


 


Ange membiarkan kepalanya bertumpu ke atas meja, sementara matanya terfokus pada ponsel yang tergeletak di hadapannya. Jari telunjuknya mengetuk-ketuk permukaan layar ponsel, menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.


“Pangeran Wicaksono yang Agung, jikalau Tuan punya waktu luang yang banyak, sudikah kiranya Tuanku membantu hambamu yang hina dina ini merekap semua berita yang masuk?”


Candaan salah seorang teman sekantornya membuat rekan-rekan lainnya terkekeh. Ange membiarkan kata-kata itu berlalu seperti angin. Dia sendiri malah menenggelamkan wajahnya ke atas meja.


“Ada masalah apa sih? Masalah sama cewek, ya? Dari mulai dateng tadi keliatannya suntuk mulu!” temannya itu menarik kursi lalu duduk di sampingnya. Dia mengambil ponsel Ange lalu membukanya. “Chat lu nggak dibales-bales?”


Ange menjawab dengan gumaman tidak jelas. Tangannya meraih kembali ponsel yang tadi diambil temannya itu.


“Gue nggak ngerti, beberapa hari ini dia kayak yang ngehindarin gue. Apa gue ada salah? Atau dia lagi nyembunyiin sesuatu yang nggak mau gue tau?” jawab Ange dengan pertanyaan lain.


“Lagi sibuk kali,” jawab temannya berusaha netral.


“Itu juga yang dibilang sama kakaknya. Seenggaknya kasih kabar apa kek.”

__ADS_1


Tangan Ange menggeser layar ponsel, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Begitu terus ia lakukan beberapa kali tapi tetap tidak ada yang berubah.


“Lu bikin salah kali.”


“Bikin salah apaan? Semenjak terakhir kali gue ketemu sama dia semingguan yang lalu sampe sekarang, gue sama dia nggak ada komunikasi sama sekali. Gue hubungin aja nggak dibales-bales,” Ange mulai sewot dengan perkataan temannya itu.


“Selow bro, selow! Kalau emang kayak gitu ceritanya gue nggak bisa bantu!” temannya angkat tangan. Dia mendorong kursinya menjauh dari tempat Ange.


Ange tertegun menatap ponselnya yang baru saja berkedip karena ada pesan masuk. Dia mematung, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya menghubungi. Gerakan Ange yang tiba-tiba menarik kursi mendekati meja membuat orang-orang di sampingnya melirik dengan serempak. Teman di sampingnya yang tadi sempat menjauh kembali menarik kursi mendekati meja Ange.


“Ada apa?” tanyanya tanpa menyembunyikan rasa penasaran.


 


Eggy


Maaf ya baru ngasih kabar


Sebenernya ada yang pengen aku omongin

__ADS_1


Tapi nggak hari ini


Nanti aku kabarin lagi, kalau aku udah siap


09.53


 


Selesai membaca pesan Eggy, teman Ange mengerutkan kening. “Serius amat sih isi chat-nya. Ada masalah serius ya? Elo sama cewek lo?”


“Jadi cowok kepo amat sih lu!” Ange menepuk lengan temannya beberapa kali lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


Ange meregangkan badannya, beberapa sendi tulangnya bergemerutuk. Di tatapnya lembaran kosong di layar dengan perasaan yang lebih ringan. Ange tidak mulai mengetik apapun, dia malah menggerakkan kursinya kembali mendekati meja samping.


“Abdiku yang baik, Tuanmu sudah segar kembali dan siap melaksanakan tugas. Jadi yang mana dulu yang harus Tuanmu ini tangani?” Alis Ange bergerak naik turun, tangan kiri merangkul dan tangan kanan menepuk lengan rekannya.


“Transkrip, tulis! Daaaan, semua bahan udah ada di meja elo!”


Tendangan di ujung roda kursi mengembalikan Ange ke tempatnya. Ange terkekeh lalu menatap recorder yang dimaksud. Hari ini Ange bisa bekerja dengan tenang meski permasalahan dengan Eggy belum terselesaikan. Ange akan siap menunggu hanya saja dia berharap semoga Eggy tidak membuatnya menunggu terlalu lama. Ada beberapa hal yang harus gadis itu jelaskan termasuk posting-annya sebagai Agatha Kamila kepada Jun beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2