
~Kamu tahu tapi tidak
menyadarinya~
Tiana kelimpungan mendapat kabar mendadak dari Rin. Suaminya masih
belum bisa dihubungi dan Rin belum juga sampai. Apa yang sebaiknya dia lakukan?
Jika ibunya datang, Lala tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk membocorkan
masalah hilangnya Jun. Tentu saja kabar itu akan menjadi beban pikiran lain
bagi ibunya.
Selama beberapa bulan ini, ibunya direpotkan oleh orang-orang yang
mengaku dihutangi oleh adik bungsunya. Adiknya sendiri sekarang tidak ketahuan rimbanya.
Dia menghilang, memboyong isteri dan anaknya, meninggalkan masalah pada
keluarganya. Untung saja, orang tua Dania bisa membantu menangani orang-orang
itu. Para penagih yang dulu hampir setiap hari meneror, perlahan-lahan mulai
berkurang intensitasnya. Kalau masalah Jun kali ini sampai di telinga kedua
orang tuanya, Tiana tidak tahu lagi kehebohan macam apa yang akan melanda
keluarga besarnya.
Apa lebih baik dia yang mengunjungi kedua orang tuanya untuk
mengurungkan niatan mereka? Tapi belakangan ini Mario sibuk dengan persiapan
penilaian di kantornya. Atau lebih baik dia pergi sendiri saja? Setidaknya Tiana
bisa memberikan alasan kalau suaminya sibuk. Ya, itu pilihan yang paling masuk
akal saat ini. Apa dia harus menghubungi ibunya terlebih dahulu supaya mereka tidak
buru-buru mempersiapkan keberangkatannya? Itu bukan ide yang bagus. Jika
sekarang Tiana menelepon, ibunya justru akan tambah curiga.
Tiana bergegas menuju kamar. Dengan susah payah, dia mengambil
salah satu tas besar dari atas lemari. Dimasukkannya beberapa potong pakaian untuk
ganti. Selesai dengan pakaiannya, ia menuju dapur, menyiapkan beberapa makanan.
Jika dia datang dengan tangan kosong, kedatangannya yang mendadak akan sangat
kentara. Lagipula Tiana harus menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya yang
__ADS_1
ia tinggal pergi.
Sembari menunggu masakannya matang, Tiana mencoba menelepon Mario lagi.
Pesan yang tadi sempat dikirimnya pun masih belum mendapat balasan. Anaknya
sama saja. Beberapa kali dihubungi, Rin tidak mengangkat teleponnya. Tapi kali
ini, Tiana bisa mendengar suara ponsel anaknya tidak jauh dari rumah. Dengan
langkah tergesa, Tiana membuka pintu depan dan mendapati putrinya yang tengah
berbicara bersama Edna dengan wajah serius.
“Rin, akhirnya kamu pulang juga.” Tiana sedikit merasa lega. Setidaknya
salah satu dari orang yang ditunggu-tunggunya sudah datang.
“Tante, aku pulang dulu, ya!” pamit Edna. Motornya melaju setelah
Edna bersalaman dan berpamitan pada Tiana dan Rin.
Tiana menarik anaknya masuk dengan tergesa. Rin mencoba mensejajari
langkah ibunya. Wajah ibu dan anak itu sama-sama tegang.
dengan rapat.
“Mama akan ke rumah nenekmu sore ini juga. Jadi tidak akan ada
alasan Nenekmu besok datang kemari,” jawab Tiana dengan pasti. “Lebih baik sekarang
bantu Mama masak!”
Tiana kembali ke dapur, melihat adonan kue yang tadi dia
tinggalkan. Tinggal dicampur dengan tepung terigu maka adonan itu siap
dipanggang. Rin menyusul ke dapur setelah meletakkan tasnya di kamar. Tiana
meminta bantuannya untuk mengurus daging sapi. Ia mencari pisau yang biasa
digunakan untuk memotong daging tapi Tiana tidak bisa menemukannya padahal itu
adalah oleh-oleh dari Jun saat pulang dari Madura.
__ADS_1
Semuanya
serba tidak kelihatan kalau sedang terburu-buru,
gerutunya. Tiana pun mengambil pisau lain dan menyerahkannya pada Rin, ia
sendiri menyelesaikan kuenya.
Waktu seolah ikut berlari, sama-sama terburu-buru ingin sampai
pada sesuatu. Dua jam berlalu semenjak Tiana memulai kegiatannya di dapur. Ia
bahkan tidak ingat lagi untuk menelepon suaminya.
“Ma, Rin, kalian sedang apa?” suara Mario memutuskan Tiana dengan
kesibukannya. Wajah lelahnya terlihat sumringah melihat kedatangan suaminya.
“Papa udah baca pesan yang Mama kirim?” tanya Tiana, tangannya
sibuk memasukkan hasil masakannya ke dalam wadah. Hanya tinggal sedikit lagi
dan semuanya selesai. Peralatan bekas memasak pun sudah Rin bereskan. Sementara
itu, Mario memeriksa pesan masuk di ponselnya.
“Ibu mau ke sini?” Sama seperti ketika Tiana mendapatkan telepon
dari Rin tadi, Mario pun tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Dia menatap
anak dan isterinya bergantian.
“Makanya Mama ngusulin gimana kalau kita berdua saja yang pergi ke
sana? Tapi kalau Papa sibuk dengan acara Senin …”
“Tidak, biar Papa ikut saja!” potong Mario cepat. “Jangan sampai
Bapak dan Ibu punya tambahan beban pikiran, biar Jun jadi masalah kita saja,”
ucapnya yakin.
Senyum lebar terkembang di bibir Tiana. Betapa Tiana sangat
bersyukur suaminya mau ikut pergi ke rumah orang tuanya meskipun dia sendiri
__ADS_1
sedang sibuk di kantornya.
“Terima kasih.”