She is Missing

She is Missing
Chap 15: 17/02 [2]


__ADS_3

~Kamu tahu tapi tidak


menyadarinya~


 



Tiana kelimpungan mendapat kabar mendadak dari Rin. Suaminya masih


belum bisa dihubungi dan Rin belum juga sampai. Apa yang sebaiknya dia lakukan?


Jika ibunya datang, Lala tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk membocorkan


masalah hilangnya Jun. Tentu saja kabar itu akan menjadi beban pikiran lain


bagi ibunya.


Selama beberapa bulan ini, ibunya direpotkan oleh orang-orang yang


mengaku dihutangi oleh adik bungsunya. Adiknya sendiri sekarang tidak ketahuan rimbanya.


Dia menghilang, memboyong isteri dan anaknya, meninggalkan masalah pada


keluarganya. Untung saja, orang tua Dania bisa membantu menangani orang-orang


itu. Para penagih yang dulu hampir setiap hari meneror, perlahan-lahan mulai


berkurang intensitasnya. Kalau masalah Jun kali ini sampai di telinga kedua


orang tuanya, Tiana tidak tahu lagi kehebohan macam apa yang akan melanda


keluarga besarnya.


Apa lebih baik dia yang mengunjungi kedua orang tuanya untuk


mengurungkan niatan mereka? Tapi belakangan ini Mario sibuk dengan persiapan


penilaian di kantornya. Atau lebih baik dia pergi sendiri saja? Setidaknya Tiana


bisa memberikan alasan kalau suaminya sibuk. Ya, itu pilihan yang paling masuk


akal saat ini. Apa dia harus menghubungi ibunya terlebih dahulu supaya mereka tidak


buru-buru mempersiapkan keberangkatannya? Itu bukan ide yang bagus. Jika


sekarang Tiana menelepon, ibunya justru akan tambah curiga.


 


Tiana bergegas menuju kamar. Dengan susah payah, dia mengambil


salah satu tas besar dari atas lemari. Dimasukkannya beberapa potong pakaian untuk


ganti. Selesai dengan pakaiannya, ia menuju dapur, menyiapkan beberapa makanan.


Jika dia datang dengan tangan kosong, kedatangannya yang mendadak akan sangat


kentara. Lagipula Tiana harus menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya yang

__ADS_1


ia tinggal pergi.


 


Sembari menunggu masakannya matang, Tiana mencoba menelepon Mario lagi.


Pesan yang tadi sempat dikirimnya pun masih belum mendapat balasan. Anaknya


sama saja. Beberapa kali dihubungi, Rin tidak mengangkat teleponnya. Tapi kali


ini, Tiana bisa mendengar suara ponsel anaknya tidak jauh dari rumah. Dengan


langkah tergesa, Tiana membuka pintu depan dan mendapati putrinya yang tengah


berbicara bersama Edna dengan wajah serius.


 


“Rin, akhirnya kamu pulang juga.” Tiana sedikit merasa lega. Setidaknya


salah satu dari orang yang ditunggu-tunggunya sudah datang.


 


“Tante, aku pulang dulu, ya!” pamit Edna. Motornya melaju setelah


Edna bersalaman dan berpamitan pada Tiana dan Rin.


 


Tiana menarik anaknya masuk dengan tergesa. Rin mencoba mensejajari


langkah ibunya. Wajah ibu dan anak itu sama-sama tegang.


 


dengan rapat.


 


“Mama akan ke rumah nenekmu sore ini juga. Jadi tidak akan ada


alasan Nenekmu besok datang kemari,” jawab Tiana dengan pasti. “Lebih baik sekarang


bantu Mama masak!”


 


Tiana kembali ke dapur, melihat adonan kue yang tadi dia


tinggalkan. Tinggal dicampur dengan tepung terigu maka adonan itu siap


dipanggang. Rin menyusul ke dapur setelah meletakkan tasnya di kamar. Tiana


meminta bantuannya untuk mengurus daging sapi. Ia mencari pisau yang biasa


digunakan untuk memotong daging tapi Tiana tidak bisa menemukannya padahal itu


adalah oleh-oleh dari Jun saat pulang dari Madura.

__ADS_1


 


Semuanya


serba tidak kelihatan kalau sedang terburu-buru,


gerutunya. Tiana pun mengambil pisau lain dan menyerahkannya pada Rin, ia


sendiri menyelesaikan kuenya.


 


Waktu seolah ikut berlari, sama-sama terburu-buru ingin sampai


pada sesuatu. Dua jam berlalu semenjak Tiana memulai kegiatannya di dapur. Ia


bahkan tidak ingat lagi untuk menelepon suaminya.


“Ma, Rin, kalian sedang apa?” suara Mario memutuskan Tiana dengan


kesibukannya. Wajah lelahnya terlihat sumringah melihat kedatangan suaminya.


 


“Papa udah baca pesan yang Mama kirim?” tanya Tiana, tangannya


sibuk memasukkan hasil masakannya ke dalam wadah. Hanya tinggal sedikit lagi


dan semuanya selesai. Peralatan bekas memasak pun sudah Rin bereskan. Sementara


itu, Mario memeriksa pesan masuk di ponselnya.


 


“Ibu mau ke sini?” Sama seperti ketika Tiana mendapatkan telepon


dari Rin tadi, Mario pun tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. Dia menatap


anak dan isterinya bergantian.


 


“Makanya Mama ngusulin gimana kalau kita berdua saja yang pergi ke


sana? Tapi kalau Papa sibuk dengan acara Senin …”


 


“Tidak, biar Papa ikut saja!” potong Mario cepat. “Jangan sampai


Bapak dan Ibu punya tambahan beban pikiran, biar Jun jadi masalah kita saja,”


ucapnya yakin.


 


Senyum lebar terkembang di bibir Tiana. Betapa Tiana sangat


bersyukur suaminya mau ikut pergi ke rumah orang tuanya meskipun dia sendiri

__ADS_1


sedang sibuk di kantornya.


“Terima kasih.”


__ADS_2