
~Prasangka adalah awal mula bencana-
Ange mengacak-acak rambut yang baru selesai cukur. Tidak gondrong lagi tapi juga tidak terlalu pendek. Senyum puasnya terkembang lebar menatap bayangan di cermin. Bulu-bulu halus di bagian atas bibirnya pun ikut ia cukur, tidak ada lagi kumis tipis yang biasa menghiasi. Setelah menyelesaikan penulisan liputannya dari Malaysia, siang ini dia akhirnya punya waktu mewujudkan keinginannya. Menghabiskan waktu dengan gadis incarannya.
Beberapa kali Ange merencanakan ini, tapi selalu saja gagal karena ada tugas mendadak. Beberapa kali pula gadis itu mengajaknya bertemu, tapi pertemuan tidak pernah berjalan seperti maunya. Dan hari ini, Ange tidak akan membiarkan rencananya –permintaan gadis pujaannya, hancur berantakan. Apapun alasannya, pertemuan hari ini harus terlaksana.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Ange dari cermin. Dengan gesit, telepon itu dijawab dengan sumringah.
“Udah berangkat belum nih? Awas, ya, jangan sampe ngaret! Oh iya, lokasinya udah di-WA-in.” Tanpa basa-basi, suara lantang seorang gadis di seberang sana menyambar telinga Ange.
“Otewe bentar lagi ya. Bye!”
Sambungan telepon itu ia putus dengan cepat karena tidak ingin membuat gadisnya menunggu lebih lama. Tidak ingin mendapat gangguan, dirubahnya mode dering menjadi silent lalu dia masukkan ponselnya ke saku celana. Disambarnya kunci motor di atas meja komputer dan jaket yang tergantung di balik pintu. Untuk memastikan penampilannya, Ange sekali lagi melirik cermin dan tersenyum puas.
Kuda besinya melaju perlahan ketika keluar dari pelataran kosan namun segera melaju kencang saat menapaki jalan beraspal. Bibirnya tidak henti menyunggingkan senyum sepanjang jalan. Tidak dihiraukannya hitungan lampu merah yang cukup lama, apalagi ponselnya yang bergetar berkali-kali tanpa henti. Semua perhatiannya terpusat pada satu tujuan.
Ponselnya kembali bergetar saat Ange selesai memarkir motornya di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan. Kali ini dia bermaksud mengangkatnya namun niatannya urung setelah melihat nama orang yang menghubunginya. Wajah Ange melengos. Alih-alih menjawab panggilan itu, Ange memasukkan kembali ponselnya ke tempat semula lalu melangkah dengan santainya tanpa merasa terganggu.
Tidak untuk hari ini.
Tiba di food court, Ange mengedarkan pandangan mencari sosok perempuan bersuara lantang. Wajahnya terlihat sumringah ketika mendapati perempuan itu tengah berdiri di salah satu counter makanan, menggerai rambut yang biasa terikat, menggunakan gaun selutut padahal Ange tahu betul dia jarang sekali suka menggunakan rok dan ada sapuan make up tipis di wajahnya.
Ange membiarkan dirinya menikmati pemandangan langka ini. Dia bahkan tidak membiarkan gadis di hadapannya terusik padahal kini keduanya hanya terpisah satu langkah.
Nampan berisi soto ayam dan segelas es teh manis membentur tubuhnya disusul teriakan melengking dari pemilik nampan.
“Apa-apaan sih berdiri di sini? Ngalangin jalan!” ucap gadis itu cukup lantang.
__ADS_1
“Hai!” balas Ange dengan santainya, membuat gadis di hadapannya terkesiap dan gelagapan. Pipinya langsung memerah.
“Kamu tuh, ya, bikin aku malu aja!” ucapnya
“Maaf! Habis hari ini kamu …”
“Apa?” Gadis itu langsung memotong kata-kata Ange, matanya melotot garang.
“Bukan apa-apa. Ayo duduklah! Kalau sudah secantik ini, pasang senyummu. Oke?” Ange menarik kedua ujung bibir gadis itu hingga terbentuk lengkungan bulan sabit. “Jadi, ada apa? Dress ini, rambutmu, dan pipimu?”
Bukannya menjawab gadis itu malah tersipu. Dia mengalihkan pandangannya, sedangkan mulutnya sibuk menikmati soto di mangkuknya.
“Aku dapat pekerjaanku kembali –sebenarnya sudah satu minggu yang lalu, dan hari ini, pembayaranku baru cair jadi untuk hari ini, aku yang bayar,” senyum puas tersungging dari bibir mungilnya.
“Waw selamat! Tapi bukannya kamu udah punya kerjaan lain?”
“Sorry. Sebenernya ada telepon masuk, aku angkat dulu, ya?”
Gadis itu hanya angkat bahu kemudian melanjutkan santapnya menanggapi senyuman canggung Ange yang kemudian berbalik badan. Mulut Ange komat-kamit, memaki si penelepon yang sedari tadi mengganggunya.
Awas aja kalau elo nelpon cuma buat hal nggak penting.
Ange mengatur napas dan emosinya dan berusaha bersuara senormal mungkin. “Halo, ada apa dari tadi lo nelponin gue?”
“Kemana aja sih, lo, Nge? Ada hal genting kayak gini malah susah banget dihubungin,” Ange menjauhkan ponselnya karena mendapat omelan penuh kecemasan. Suara itu memenuhi gendang telinga Ange.
“Kenapa? Genting rumah lo bocor?” timpal Ange dengan cueknya. Setidaknya itu jadi balasan karena telah mengganggu harinya.
__ADS_1
“Nggak lucu! Sama nggak lucunya kayak temen lu yang satu itu. Gara-gara si Jun, gue diomelin terus tuh sama si bos,” cerocosnya.
“Jun?”
Suara batuk mengalihkan Ange sesaat dari ponselnya. Dia buru-buru menyodorkan minuman yang baru saja dihidangkan untuknya dan mengabaikan lawan bicaranya di telepon. Gadis itu menggerakkan tangannya memberi isyarat. Sudah lanjutkan saja obrolannya.
“Halo, halo, bro, sorry, emang Jun kenapa?”
“Jun susah dihubungi padahal dia punya tiga hutang dan si bos udah nagih dari seminggu yang lalu –ya, walau akhirnya dia punya cadangan, tapi tetep si bos minta kepastian dari Jun. Please, bagaimana pun caranya, lo harus bisa hubungin dia. Di sini nasib gue dipertaruhin.”
Sambungan langsung terputus, Ange sendiri tercenung. Jun menghilang? Sepertinya selama satu minggu ini dia benar-benar ketinggalan informasi. Dia tidak pernah benar-benar membaca semua informasi yang berseliweran di media sosialnya. Dia bahkan me-mute beberapa grup alumni sekolahnya, termasuk grup SMP-nya. Dengan cepat, Ange membuka grup yang ternyata isi pesannya sudah sampai lima ratusan dengan topik utama: hilangnya Jun tanpa kabar.
Gila! Kapan terakhir gue buka grup ini ya?
Ange tenggelam dalam dunianya sendiri mengabaikan orang yang ingin ditemuinya sedari tadi. Gadis itu mulai menekuk bibir. Tangannya bergerak kasar menyendok ke dalam mangkuk soto yang isinya sudah tandas sedari tadi. Hanya terdengar suara mangkuk dan sendok yang beradu.
“Ada apa, Nge?” tanya gadis itu memberanikan diri mengusik Ange.
Untuk beberapa saat, pertanyaan gadis itu mengambang tak terjawab. Mulutnya bergerak naik turun, bersungut-sungut. Kakinya ikut ia gerakan hanya agar Ange memperhatikan.
“Sorry ya, Gy, gangguan nggak terduga.” Ange memutar badannya kembali menatap gadisnya yang menekuk wajah. “Intinya ada dua temen aku yang lagi bermasalah dan …”
“Siapa Jun?” gadis itu memotong penjelasan Ange.
Ange ternganga sesaat, dahinya berkerut namun ujung bibirnya berkedut ingin tersenyum. Apa mungkin Eggy cemburu? Tapi dia kan nggak tahu juga Jun itu cewek apa cowok. Ah masa bodoh!
“Oh, Jun. Dia temen sekolah aku dulu, lagi dicariin sama temen yang barusan nelpon. Menurut temen-temen yang laen, udah seminggu ini dia ngilang dan dia punya hutang yang belum dibayar,” jawab Ange.
Eggy hanya mengangguk sembari menyembunyikan wajah. Tanganya memegang erat gelas minuman yang disodorkan Ange tadi. Semenjak Ange menerima telepon itu atmosfer di sekitar mereka tak lagi sama.
__ADS_1