
~Time for the truth~
Setelah satu setengah jam duduk mendengarkan pemaparan dosen dan presentasi teman sekelasnya, Rin meregangkan tubuh yang terasa kaku. Tidak ada yang protes karena sang dosen sudah meninggalkan kelas, begitu juga dengan sebagian besar teman sekelasnya. Edna yang duduk di sampingnya masih sibuk membereskan buku dan alat tulisnya.
“Sampai saat ini, anak itu belum ngehubungin juga?” tanyanya. Di tangannya kini sudah ada sebotol air mineral yang baru ia teguk.
“Sebenernya, tadi pagi dia nyamperin aku,” jawab Rin dengan senyum lebar. “Tapi aku heran, sebenernya apa yang Ina tahu soal Jun sampe harus menunggu berhari-hari hanya untuk memutuskan mau cerita atau enggak.” Rin membiarkan kepalanya bertumpu pada meja, pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya akan Ina ceritakan padanya.
“Janjian ketemuan di mana?” tanya Edna lagi.
“Dia minta jangan di tempat ramai, tidak ada orang lain itu lebih baik. Apa menurutmu permintaannya agak berlebihan?” Rin melirik Edna yang sedang menekuri sebuah novel.
“Tergantung apa yang akan dia ceritakan.”
__ADS_1
Rin memutar kembali kepalanya menghadap ke depan. Ada satu lagi mata kuliah selepas tengah hari nanti dan Ina memintanya bertemu sekitar jam tiga. Tapi di antara mereka berdua belum ada yang menentukan tempat pertemuan. Jika memilih kedai, di sore hari biasanya tempat itu akan ramai apalagi kalau semakin larut. Perpustakaan kota cukup menjanjikan tapi petugas perpustakaan pasti akan menegur mereka. Rin kemudian mengedarkan pandangan dari pojok terdalam kelas hingga pintu keluar. Kelas hampir kosong, menyisakan Rin dan Edna serta dua orang lainnya –salah satunya sibuk dengan laptop sedangkan satu lagi sibuk mencatat sesuatu di buku.
“Edna, boleh minta tolong?” Rin menatap Edna dengan mata berbinar, berharap tatapannya bisa meluluhkan.
“Mau minta tolong apa?” tembakan pertanyaan Edna tepat sasaran karena Rin langsung tersenyum lebar setelah mendengarnya.
“Sehabis mata kuliah terakhir, jemput Ina di sekolahnya, ya? Please!”
Edna menjawabnya dengan anggukan. Setelah mendapat persetujuan Edna, Rin segera mengirimkan pesan pada Ina. Gadis cilik itu memberikan nomor ponselnya tadi pagi, sebelum dirinya pergi sekolah. Saat itu Ina terlihat masih ragu, tergambar jelas di wajah polosnya. Rin sedikit khawatir dengan apa yang akan diceritakan Ina nanti, perasaannya jadi tidak menentu semenjak Ina memutuskan untuk menceritakan semuanya.
Di mata kuliah ketiga, Rin semakin tidak sabar ingin kelas segera bubar tapi di saat bersamaan perasaannya semakin tidak menentu. Antara ingin mengetahui kebenaran sesegera mungkin tapi ia juga takut kalau kebenaran yang akan di ceritakan Ina tidak sesuai harapannya. Lagi pula ava yang sebenarnya Rin harapkan? Rin hanya ingin agar kakaknya baik-baik saja dan bisa segera pulang. Mereka memang sering tidak akur dan adu mulut tapi ketiadaannya membuat Rin cukup kehilangan.
Saat mata kuliah terakhir selesai, Rin memberi anggukan kecil pada Edna yang hendak menuju parkiran. Sedangkan Rin sendiri masih menyiapkan mental untuk mendengarkan cerita Ina. Beberapa kali dia pergi ke kamar mandi lalu ke kantin –membeli sedikit makanan untuk teman mengobrolnya nanti. Hampir satu jam berlalu dan Edna belum juga kembali sedangkan keadaan kampus semakin sepi.
“Sorry telat!” suara Edna memecah keheningan kelas.
__ADS_1
Rin tersenyum menyambut kedatangan Edna dan Ina. Gadis itu terlihat masih takut-takut untuk ikut masuk. Rin menghampiri dan menggandengnya.
“Maaf kalau tempatnya kurang nyaman,” ucap Rin ketika keduanya sudah duduk.
Ina mengangguk mengiyakan.
Sementara itu Edna meninggalkan ruang kelas, membiarkan Rin dan Ina untuk berbicara berdua saja. Keduanya terdiam cukup lama. Rin bingung, apa harus dia yang membuka cerita ini atau menunggu Ina yang menceritakannya? Gadis di hadapannya malah tertunduk tapi kemudian tangannya yang mengepal bergerak ke atas meja. Ponsel yang sangat Rin kenal pun tergeletak di sana.
“Aku mungut ponsel ini di malam Kak Jun menghilang,” ucap Ina pelan.
Rin menelan ludah yang memenuhi mulutnya. Kedua telapak tangannya basah, kegelisahan pun menguasai hatinya. Itu artinya Ina tahu apa yang terjadi pada kakaknya?
“Tolong kamu ceritakan semuanya!”
------
__ADS_1
Apa yang sebenarnya Ina ketahui tentang malam kejadian menghilangnya Jun? Kenapa Ina bisa memungut ponselnya Jun?