She is Missing

She is Missing
Chap 18: 18/02 [1]


__ADS_3

~Kebungkaman sering kali diartikan sebagai kata “ya”~


Dua pasang mata menatap layar laptop yang tidak bergeming. Rin terlihat ragu untuk melakukan apa yang mau dilakukannya. Sementara Edna memperhatikan yang ada di hadapannya dengan tatapan serius.


Satu


jam sebelumnya mereka mencoba menjalankan usulan Jeff, mencari keberadaan


ponsel Jun dengan memanfaatkan teknologi yang tertanam pada perangkat itu. Tapi


ternyata untuk bisa melacak keberadaan ponsel tersebut, mereka harus masuk ke


akun email yang digunakan Jun pada gadgetnya.


Dan tentu saja, mereka membutuhkan password. Jangan tanya berapa kali

__ADS_1


mereka menerka-nerka password apa


yang digunakan Jun sebelum akhirnya bisa menemukan kata yang tepat.


“Yakin bakal ketemu nggak ya?” gumam Rin.


“Ketemu nggak ketemu, dicoba aja dulu,” jawab Edna lebih optimis.


Jari telunjuk Rin hampir saja menekan kata ‘lacak’ di layar saat bunyi ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka. Keduanya saling pandang, berharap ada yang beranjak dengan sukarela membukakan pintu. Rin tersenyum lebar saat Edna bangkit dengan muka masam membuka pintu depan. Edna kembali ke ruang tengah bersama Jaya.


Beberapa data yang sempat Rin lihat kemarin sudah ditandai. Agatha Rosmala mengaku sempat bertemu dan makan bersama Jun di daerah Malioboro. Setelah itu keduanya berpisah. Dia tidak tahu kalau keduanya dalam satu kereta. Mariska Agatha tidak kenal sama sekali dengan Jun. Pada tanggal lima Februari hari itu, Mariska Agatha memang datang ke stasiun untuk menjemput rombongan wisatawan. Pertanyaan jaya tidak terjawab tapi dia malah ditawari brosur paket perjalanan ke Jogja.


Bunga Kamila Aditya beberapa bulan ini tidak ada kontak dengan Jun tapi dia mengaku masih berhubungan baik dengannya. Kesibukan menyebabkan keduanya jarang berkomunikasi, itu katanya. Dan yang terakhir adalah Kamila Dwi Satya. Perempuan ini berkata kalau dia memang bertemu Jun juga Agatha Rosmala di Malioboro. Sebagai bukti, dia mengirimkan foto mereka bertiga yang sedang makan bersama pada Jaya. Setelah dari Malioboro, dia melanjutkan perjalanan ke Solo meninggalkan Mala –Agatha Rosmala, dan Jun. Tiga yang lainnya belum memberikan tanggapan apapun.


“Rin!”

__ADS_1


Suara Edna yang lirih mengalihkan perhatian Rin dari layar. Kelirihan suara Edna berbanding terbalik dengan ekspresi yang ditampilkan oleh wajahnya. Ada horor yang membayangi tatapan sahabatnya itu. Rin mengikuti telunjuk Edna yang mengarah pada laptop. Lingkaran hijau muncul di sana, di satu titik tempat. Sebuah tempat yang membuat wajah Rin tidak kalah terkejutnya seperti Edna. Jaya menarik layar dan melihat apa yang membuat kedua gadis di ruangan itu terdiam seperti patung. Lelaki itu berdeham lalu mengusap wajahnya.


“Dia pernah pulang,” gumam Jaya, menyuarakan apa yang ada di pikiran mereka.


Ketiganya terdiam melihat fakta yang ada di depan mata. Rin merutuki dirinya sendiri. Harus berapa kali lagi dirinya bertindak bodoh. Tidak mengecek barang-barang Jun, tidak mengecek timeline medsosnya dengan teliti dan sekarang ponsel Jun. Keberadaan benda itu hanya ada di jarak tempuh kaki mereka.


Rin duduk tegak dengan tiba-tiba, membuat Jaya dan Edna ikut bergerak dan menatap Rin dengan heran.


“Kenapa polisi nggak nemuin hape Jun?” Rin menatap Edna dan Jaya bergantian. Wajahnya jelas kebingungan. Jika memang ponsel itu masih ada di sekitar rumahnya, kenapa polisi tidak menemukannya ketika menyisir rumah ini?


Jaya menekan sebuah tombol di layar lalu kemudian tangannya mengepal, memberi tanda kepada kedua gadis itu untuk tidak bersuara. Lelaki itu mencondongkan kepala, satu tangannya menempel di telinga, seperti sedang mencoba mendengarkan sesuatu. Selama beberapa menit mereka mencoba mendengarkan tapi yang ada hanya hening. Jaya menekan tombol di layar untuk kedua kalinya. Kali ini, mereka mendengar suara nyaring menggema di dalam ruangan hening.


Ketika wajah Edna dan Jaya tersenyum karena mendengar suara deringan, Rin justru menekuk wajahnya. Dia mengangkat ponsel di hadapannya dan menunjukkan layar ponsel pada kedua temannya.


“Mas Ange nelpon!” ucapnya dengan lemas.

__ADS_1


__ADS_2