
~Dia bukan jarum dalam tumpukan jerami tapi ikan dalam lautan~
Menemukan Agatha Kamila menjadi pekerjaan yang susah-susah gampang untuk Jaya. Gampangnya, kombinasi nama semacam Agatha Kamila bukanlah nama yang lumrah di negeri ini. Cukup beberapa menit menghabiskan waktu untuk googling, nama itu akan segera muncul dalam skala kecil. Susahnya, saking langkanya kombinasi nama itu, Jaya hanya menemukan dua laman yang memuat nama itu secara utuh. Yang pertama, laman media sosial yang sudah pernah Jaya lihat dan satu lagi nama seorang siswa yang terdaftar di sebuah sekolah di pulau seberang sana.
“Masih nyari orang yang sama Jay?”
Andre, teman sekamarnya, datang membawa sarapan. Dia bergabung ikut memperhatikan layar, membaca setiap baris kalimat yang tertera di sana.
“Yups,” jawab Jaya singkat.
Lelaki berambut cepak itu menjauhkan diri dari layar. Ia menyambar salah satu bungkusan dari dalam kantong kresek. Dari bangun tidur, perutnya belum menerima sepotong pun makanan. Hanya bergelas-gelas air putih yang membuat perutnya agak membuncit.
“Kenapa mesti susah-susah searching gini sih? Tinggal hack aja nih akun, beres!” usul Andre. Dia kemudian bergabung membuka bungkusan nasi miliknya dan menyantapnya dengan lahap.
Ini bukan untuk pertama kalinya Andre mengusulkan hal semacam itu. Setiap kali Jaya tengah menyelesaikan kasus yang ditanganinya, kata-kata itu tidak pernah lewat diucapkan dan dia tidak pernah bosan juga untuk menjawab setiap usulan Andre yang tidak sejalan dengan prinsip yang ia pegang teguh sampai saat ini.
__ADS_1
“Saya bukan petugas berwenang yang punya otoritas melakukan hal semacam itu. Semua yang saya lakukan akan selamanya legal dan tidak melanggar hukum,” ucap Jaya dengan tegas.
Andre terkekeh mendengar prinsip yang ia anggap kuno itu. Tapi bagaimana pun juga, ia menghargai prinsip Jaya. Di jaman sekarang, sedikit sekali orang yang berprinsip dan berpegang teguh padanya.
“Apa lagi yang udah lo temuin?”
“Belum banyak. Kenapa tanya-tanya? Sekarang mau bantu?” Jaya melirik Andre yang terlihat seperti orang berpikir walau jelas dia hanya menjahili.
“Justru nyawa yang jadi taruhannya karena belum ada kejelasan apa dia menghilang karena dia yang mau, ada orang yang mencelakainya atau dia kecelakaan. Siapapun orang yang berinteraksi dengannya akan menjadi sumber informasi berharga.”
“Teman-temannya yang lain?” Andre memburu dengan pertanyaan lain.
“Sebagian besar teman-teman dari Jun sudah diurus oleh adiknya. Lagi pula teman-teman sekolah dan kuliahnya sebagian besar sudah menikah, jarang yang menghabiskan waktu atau chatting untuk sekedar menanyakan kabar dan kegiatan sehari-hari. Jadi untuk saat ini saya fokus pada hal-hal detail yang mereka lewatkan,” ucap Jaya. Tangannya meremas bungkus nasi yang sudah licin tak bersisa.
__ADS_1
“Good luck kalau gitu. Gue mau siap-siap ngampus dulu!”
Andre meninggalkan Jaya yang kembali menekuri layar laptop. Jaya membuka laman pencarian gambar yang ditinggalkannya tadi. Sayangnya pencarian menggunakan gambar itu tidak berhasil. Dia tidak menemukan akun lain yang menggunakan gambar profil seperti di akun Agatha Kamila. Dia melakukan alternatif pencarian ini karena kemungkinan nama Agatha Kamila hanyalah nama fiktif, entah seluruhnya atau pun sebagian. Bisa jadi akun ini pun hanya akun fiktif.
Jaya mencoba mencari kata Agatha dan Kamila secara terpisah. Sayangnya, mencari nama Agatha atau Kamila secara terpisah hanya membuat kepala Jaya berdenyut keras. Terlalu banyak dan sulit untuk dieliminasi tanpa variabel pembatas yang pasti. Agatha dan Jun bahkan tidak memiliki mutual friend dalam list pertemanan mereka. Jaya sudah mencoba mengirimkan permintaan pertemanan tapi sampai saat ini belum ada respon.
“Jay, besok ada kuis di kelasnya Pak Hutomo,” ucap Andre sembari menyisir rambut dan berkaca.
“Ok!”
Jaya membulatkan dua jari tanda mengerti walau dia tidak sepenuhnya mendengarkan perkataan Andre. Kepalanya masih dipenuhi Agatha Kamila.
Pertama kali Jaya menggaris bawahi nama Agatha karena posting-annya yang terbilang unik. Dari pengalamannya bermedia sosial, seseorang berteman di medsos dengan alasan: pertama karena mereka kenal di dunia nyata –entah itu karena satu lingkungan tempat tinggal, satu sekolah, satu tempat kerja; kedua berteman karena ketertarikan yang sama –hobi, game, buku, film, olahraga, artis favorit; ketiga karena SKSD atau memang ingin kenal. Ketiga ikatan pertemanan semacam itu sesekali atau sering kali berbagi komentar dan Agatha bukan salah satu dari tiga golongan itu.
Jun berteman dengan Agatha 23 Oktober. Tiga hari berikutnya, Agatha mengirimkan post pertamanya: pencuri. Hanya satu kata dan tidak mendapat respon apapun dari Jun. Hari berikutnya, Agatha mengirimkan post yang sama dan masih tidak ada respon. Pada hari ketiga, di post ketiga, Agatha akhirnya mendapat respon. Jun meminta Agatha menghubunginya secara private. Setelah post ketiga itu, Agatha tidak pernah muncul lagi. Tidak untuk sekedar like atau pun berkomentar, tidak pernah.
__ADS_1
“Siapa kamu Agatha? Apa maksudmu menyebut Jun sebagai pencuri?” mulut Jaya mendesis, tangan kanannya tidak henti mengusap dagu. “Apa yang kalian bicarakan?”