
"Lah? Lo bisa ngegas juga? Tapi suara lo kok kaya mirip ama seseorang. Tapi siapa ya?" Dion masih tetap fokus menyetir dan juga memikirkan banyak hal.
"Eh maaf, kelepasan kak. Gak mungkin lah suaraku mirip seseorang."
"Oh ya udah. Ini udah sampe, lo gak mau turun?"
"Em, em. Katanya mau nurunin aku didepan sekolah? Gak jadi kak?"
"Ribet banget idup lo! Kalo gue turunin disini ya berarti lo gak gue turunin di depan. Gitu aja kok nanya? Turun buruan!"
Dion lebih dulu turun dari mobilnya. Nindi masih tetap stay di dalam sambil melihat keadaan sekitar. Tapi sayang, banyak sekali siswi di parkiran seolah.
Hadeehh, dibully lagi nih gue. Hareudang kuping gueee!!!
Nindi membatin dan kemudian turun dari mobil milik Dion.
"Lama banget sih lo! Nunggu gue bukain pintu? Dih gak bakal!" Dion menyerocos kesal pada Nindi. Padahal kan Nindi lama keluar dari mobil Dion gara gara melihat situasi. Terpikir untuk supaya Dion membukakannya pintu saja tidak.
"Gak kok. Aku cuma liat sekitar. Pasti di bully lagi deh." Ucapan Nindi melemah seraya menundukkan kepalanya.
Sorot mata membenci dari para siswi masih bisa terlihat di ekor mata Nindi.
"Gileee, nerd bareng pangeran gue!"
"Pake pelet apaan tuh nerd. Dion juga! Mau banget ama nerd!"
Sudah ia duga, untuk kesekian kalinya ucapan ucapan tidak suka mengarah kepadanya. Tapi tunggu, ucapan itu ditujukan untuk Nindi si nerd. Apakah ucapan itu berlaku jika ia mengubah penampilannya yang cupu menjadi bak seorang elf?
Nindi segera berjalan dibelakang Dion layaknya seorang asisten pada umumnya.
Kini Nindi dikelilingi dengan sorot mata yang sangat tak bisa Nindi artikan.
Dih, iri bilang sahabaaat! Eh gue bukan sahabatnya mereka deng.
Nindi membatin dan kemudian tersenyum.
Ia terus mengikuti kemanapun Dion pergi seperti yang sudah Dion perintahkan sebelumnya. Nindi terus mengikuti jalannya Dion sampai sesuatu yang terasa sangat sakit di lengannya membuat ia menoleh kesamping. Ya benar, lengan Nindi kini sedang di cengkram oleh seseorang yang Nindi tau bernama Sasha, si cabe pasar minggu.
"Heh! Lo gak usah kecentilan jadi orang. Kemaren Andra, sekarang Dion. Besok siapa lagi? Dasar murahan!" Emosi Sasha meledak ledak.
"Kenapa emangnya Kak? Bukannya kakak pacarnya Kak Andra. Kok aku sama kak Dion gak boleh jalan bareng." Kini Nindi yang berpenampilan nerd mencoba menjadi dirinya yang asli sedikit, yang suka melawan jika apa yang dituduhkan pada Nindi itu tidak benar.
"Dih! Belagu lo ya." Dion yang masih tetap jalan dan merasa Nindi tidak mengikutinya lagi pun menoleh ke belakang.
Haduhh, dibully lagi. Haduh nerd nerd, coba aja penampilan lo dibenerin dikit. Gak bakalan dibully pasti lo.
Dion membatin dan membuang napasnya gusar dan kemudian berjalan menghampiri Nidni yang sedang dilabrak oleh tiga siswi cabe yang sudah terkenal di sekolah.
"Gak usah lo bentak bentak dia! Dia gue yang suruh buat deket deket sama gue. Kenapa lo? Gak suka?" Dion memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menaikkan sebelah alisnya yang membuat para siswi yang melihatnya terkagum kagum.
__ADS_1
"Tapi Iyon sayang, masa kamu mau sih deket deket ama cewe murahan ini. Kemaren aja dia ama Andra. Sekarang ama kamu. Kamu gak jijik?" Ucap Sasha sok imut dan memegang lengan kiri Dion.
"Gue lebih jijik ama lo." Dion melepaskan tangannya yang dipegan oleh Sasha. "Gue anter lo ke kelas." Dion menggandeng Nindi dan kemudian mengantarnya sampai ke kelas.
Nindi yang diperlakukan seperti itu oleh Dion pun langsung salting. Naluri cewek, kalau diperlakukan seperti itu pasti langsung salting. Kini pipinya terasa sangat panas dan memerah. Ia terus menunduk supaya Dion tak melihatnya yang sedang salah tingkah itu.
"Udah sampe. Buruan masuk, oiya tadi jangan keGRan ya lo. Itu gue cuma nepatin janji aja sih supaya lo gak di bully. Gue ke kelas. Nanti lo pulang bareng gue!" Dion melepaskan gandengannya dan kemudian meninggalkan Nindi.
O em jii, kenapa gue? Hati gue kenapa?
Nindi tersenyum dan masuk ke dalam kelasnya.
Sadar Nin, lo udah punya pacar! Lo gak boleh gini!
Nindi melamun dan kemudian lamunannya buyar seketika, saat Tata menghampirinya.
"Hayoo, kenapa senyum senyum? Lo suka ya ama kak Dion?"
"Eh Tata, engg--enggak kok."
"Kalo suka juga nggak papa kali." Tata tersenyum dan menyenggol tubuh Nindi menggoda.
***
Nindi kini sudah sampai dirumahnya. Ya seperti kemarin, ia harus berhenti didepan gang dan melanjutkan perjalanannya menggunakan taksi. Cukup merepotkan.
Nindi memainkan ponselnya dan kemudian membuka aplikasi instagram.
Ia terkejut saat tau bahwa Dion memfollow nya.
"Omaygat! Diondel ondel follow gue? Jih, ternyata dia stalkerin gue." Nindi tersenyum dan kemudian membuka akun milik Dion. Followersnya juga cukup terbilang banyak.
Ia menekan salah satu foto milik Dion.
snjydioncstr
❤️disukai oleh andracpl dan 36.578 lainnya
snjydioncstr Hello everybodyy!
16.785 komentar
peninggi_badan_herbal mau tinggi? Kunjungi lapak kami:)
lindsasha omaygat pangerankuh!!🖤🌟
Nindi memandangi foto tersebut.
__ADS_1
Ganteng sih. Tapi kek kanebo kusut. Ini lagi, dikomen sama peninggi badan. Hahah.
Nindi membtin dan sesekali tersenyum melihat postingan Dion.
***
"Hello selamat malam semuanya. Princess datang mau nonton TV bareng. Di kamar mulu bosen nih!" Nindi turun dari tangga dan terbelalak melihat Andra dan Dion yang sedang berbincang.
Oemji, tamatlah riwayat gue. Fiks ketauan. Haduuhh si bang Andra gak kasih tau gue dulu sih?
Nindi menghampiri kedua pemuda tersebut dan tersenyum ramah.
"Hai semuanya." Nindi tersebyum kikuk.
"Dia disini Ndra? Ngapain?" Tanya Dion bingung.
"Ooh, dia mau nginep sini. Lagian bokap gue juga ngijinin kok." Ucap andra dan Dion hanya ber-oh ria.
"Lo ama dia udah pacaran lama? Kok kayaknya kalian tuh gak canggung gitu. Malah udah kaya suami istri?" Ucap Dion yang membuat Nindi tersedak saat meminum minuman orange juice nya.
"Uhuk uhuk! Kalo ngomong pake filter bang!" Nindi menaruh gelasnya dan mengambil tissue yang ada di dekat Andra.
"Lah emang iya. Eh tapi tunggu, dari cara ngegas pacar lo Ndra, kok mirip ama si cupu Nindi ya?"
Hiish! Kenapa harus pake kata cupu sih!
Nindi membatin dan menatap Dion dengan kesal.
"Gak mungkin lah. Dia pacar gue seorang, limited edition. Gak bakal ada yang bisa nyamain dia."
"Iya lah. Gue kok disamain ama cupu. Lo suka ya ama si cupu itu. Tau banget keliataanya lo?" Nindi mencoba sok akrab dengan Dion.
Setelah berucap seperti itu, Nindi mendapat tatapan yang sangat tidak bisa ia artikan dari Andra.
"Sok akrab lo! Pertanyaan gue belum lo jawab Ndra, lo udah lama pacaran ama dia? Keliatannya akrab banget."
"Udah lah. Dari kecil malah gue ama Andra, akhirnya pacaran deh." Ini bukanlah Andra yang menjawab, melainkan Nindi.
"Oo, sahabat gitu? Terus jadi cinta? Hahah.. untung gak friendzone."
Andra hanya bisa menatap kedua orang itu saling sahut menyahut. Andra hanya bisa mempasrahkan semua pada adiknya itu. Ia tak mau menggagalkan rencana yang sudah disusun rapi oleh adiknya.
"Brisik lo! Pulang sono, ganggu aja." Ketus Nindi pada Dion.
"Ogah, gue mau nginep sini kok." Nindi membulatkan matanya kaget. Ia melihat Andra dengan tatapan meminta penjelasan.
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
__ADS_1
____________________________________________________