She Is Nerd?

She Is Nerd?
Sahabat Kecil


__ADS_3

Tata


"Gue gak suka ada orang lain yang buka kotak itu!"


"Lo gak punya hak buat buka kotak itu tanpa izin dari gue!"


"Gue izinin lo buat liat apapun, tapi bukan nyentuh apalagi sampe buka buka!"


"Gue kecewa sama lo!"


Selesai mengirimkan pesan yang panjang itu, Nindi segera mengembalikan kembali boneka kesayangannya ke dalam kotak tersebut.


"Maaf udah ada yang pegang pegang lo." Nindi tersenyum pada boneka tersebut dan kemudian memasukannya ke dalam kotak.


Nindi membawa kotak tersebut dan segera berjalan menuju ruangan rahasia yang ada dibalik lemari besarnya. Ruangan yang sengaja ia minta untuk dibangun, untuk tempat penyimpanan barang barang tersayang miliknya.


Lalu kenapa box tersebut ada di luar ruangan itu?


Nindi sengaja mengeluarkannya karena untuk mencuci boneka tersebut yang sudah lama tak ia urus. Sejak kepergiannya ke Amrik, tak ada yng mengurus boneka tersebut. Karena memang tak ada orang yang mengetahui ruangan rahasia miliknya itu kecuali Andra dan Daddy nya.


Nindi menekan tombol dan,


Sreet...


Sebuah lemari besar kini bergeser dan menampakkan ruangan yang cukup luas dan gelap.


"Wih parah gelap bener." Nindi menyalakan saklar untuk membut suasana tidak mencekam.


"Baik baik disini ya. Gue pastiin ini terakhir kalinya ada orang yang nyentuh lo." Nindi tersenyum dan kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.


***


Kini Nindi dan Tata tidak duduk bersama lagi setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Bahkan untuk pergi makan bersama di kantin pun sudah tidak lagi.


Nindi lebih memilih untuk kembali ke tempat duduknya sewaktu ia baru pertama kali masuk sebagai siswi baru.


Ia lebih memilih untuk diam di kelas daripada harus ke kantin. Selain untuk menghindar dari Tata yang menurutnya telah mengecewakannya, itu juga sebenarnya untuk menghindari dari Dion dan kawan kawannya.


Ia harus mempertahankan penyamarannya. Jangan sampai cuma gara gara tiga orang cowok itu, rencana yang sudah di susun rapi oleh Nindi menjadi berantakan.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Seperti biasa, para siswa akan meloncat kegirangan karena waktu pelajaran yang membuat otaknya seakan mau meledak sudah berakhir.


"Nin!" Tata menahan lengan Nindi supaya tak cepat cepat keluar.


"Lepas Ta." Ucap Nindi datar.


"Gue cuma mau tanya, kenapa cuma masalah boneka kaya gitu lo sampe marah gini sama gue? Kenapa sampe lo gak mau ngomong sama gue?"


"Masalah boneka kaya gitu doang lo bilang?" Nindi menyeringai sambil mengentakkan tangannya dari genggaman Tata.

__ADS_1


"Itu barang kesayangan gue. Gak boleh ada yang pegang boneka itu selain gue dan sahabat gue!"


"Tapi gue kan sahabat lo Nin."


"Iya gue tau lo sahabat gue. Tapi bukan lo yang gue maksud."


"Terus siapa?"


"Ya orang lah. Namanya juga sahabat, yang jelas dia lebih baik daripada lo. Dia lebih sopan dari pada lo. Dia bahkan jauh jauh lebih segalanya dari lo. Dia sahabat terbaik gue dan gak akan ada yang bisa gantiin dia walau lo sekalipun." Tanpa Nindi sadari, ucapannya barusan membuat pelupuk mata Tata dibasahi oleh air.


"Eh, umm. Maaf gue gak maksud. Lo tetep sahabat gue. Gue cuma--"


"Makasih Nin" Tata tiba tiba saja langsung memeluk Nindi. Air matanya semakin deras, isakan tangis pun terdengar jelas di telinga Nindi.


"Makasih untuk apa? Gue udah nyakitin lo pakai kata kata gue, lo gak perlu terima kasih."


"Makasih lo udah anggep gue sahabat terbaik lo. Makasih lo udah anggep gue segala galanya." Tangisnya semakin mengencang dan pelukannya tiba tiba saja melemah.


"Maksud lo?"


"Gue Tania Nin. Lo gak inget gue? Gue Tania Briand, lo gak inget gue?" Tata mengguncang guncang pundak milik Nindi.


***


"Jadi kenapa gue gak tau kalo nama lo Tania Briand Adichandra?"


Kini mereka sudah berada di cafe lunar untuk mengobrol lebih serius. Tak enak jika mereka harus saling adu mulut mengencangkan otot leher sambil berdiri di dalam kelas.


"Oiya hehe. Akhirnya gue ketemu sama lo." Nindi merangkul Tata sambil tersenyum.


"Kenapa nama panggilan lo, lo ubah?" Tanya Nindi lagi.


"Karena waktu itu gue sedih. Gue ditinggal sahabat gue yang katanya janji gak bakal ninggalin gue. Untuk ngilangin kesedihan itu gue ubah nama panggilan gue, karena kalo ada orang lain manggil gue dengan nama itu gue juga jadi keinget sahabat gue yang penipu itu!" Ucap Tata dengan oenuh penekanan menyindir Nindi.


"Lo nyindir gue?"


"Iya. Sadar?"


"Enggak." Jawab Nindi ngasal.


"Lo mau tau alasan gue ninggalin lo? Gue sebenernya juga sedih waktu itu ninggalin Nia. Tapi karena ya lo tau lah perusahaan bokap gue hampir aja bangkrut. Gue yang waktu itu masih umur 9 tahun dibawa ke Amrik tanpa tau gue hrus ngapain." Nindi menghela nafasnya dan sesekali menyeruput latte nyankarena telah mengoceh panjang lebar.


"Ya tapi kan gue udah diajarin bisnis dari kecil sama bokap gue, jadi untuk meningkatkan kinerja gue, cia elah. Jadi gue dikirim pake jnt ke Amrik."


"Gila, dikirim pake pake jnt. Hahaha"


"Ya intinya gitu lah. Gue sebenernya awalnya udah berusaha nolak, tapi ya mau gimana lagi. Jadi gue gak berkhianat."


"Tetep lo berkhianat. Harusnya lo kasih tau gue dulu, jadi gue gak sedih nungguin lo dateng dan main bareng gue lagi di taman." Ucap Tata dengan wajah mode serius.


"Maaf. Kalo waktu itu gue kasih tau lo, mungkin lo bakal maksa bokap nyokaplo buat sekolah di Amrik juga. Dan gue gak mau misahin lo sama keluarga lo."

__ADS_1


"Ya pasti sih gue bakal minta kesana juga. Tapi kan, setidaknya ngasih tau gue setahun atau dua tahun kemudian. Lah ini sampe tujuh tahun gak ngasih kabar gue."


"Sorry, sorry. Gue gak maksud begitu kok. Gue juga kan disana harus sekolah sekalian ngurus perusahaan bokap gue yang ada disana."


"Anak siboook!"


"Woiya dong." Nindi tersenyum bangga.


***


"Bang, bang. Lo dimana?" Setelah sampai di mansion nya, Nindi segera berlari mengitari rumah mencari Andra. Melupakan kenyataan bahwa ia sedang marah dengannya.


"Dih dimana dia. Bang!!!" Pekik Nindi dengan sangat keras.


Seisi rumah yang sedang berada di lantai satu langsung menghampiri Nindi.


Nindi yang merasa malu karena semua seisi rumah menghampirinya, ia hanya bisa tersenyum meringis.


"Eumm, bang Andra ada dimana?"


"Oo, tadi sih di kamarnya. Coba cek aja non." Ucap salah satu pegawai di rumahnya.


"Oh gitu. Makasih ya." Nindi tersenyum dan langsung berlari ke arah kamar abangnya tersebut.


Tok tok tok!


Tak ada jawaban sama sekali dari Andra.


"Bang, lo ada di dalem?"


Tok tok tok!


"Bang, seriusan!" Tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Kamarnya terkunci. Biasanya jika Andra sedang tidak ada dikamar, kamarnya ia biarkan tak terkunci supaya asisten di rumahnya bisa masuk ke dalam untuk membersihkannya.


Tak berhenti hanya dengan mengetuk pintu, Nindi segera menelepon abangnya itu.


Ponselnya tersambung, tapi kenapa Andra tak mau mengangkatnya?


Apa ia juga sedang marah karena Nindi tak juga memaafkannya?


"Bang, angkat napa sih!" Nindi hanya mondar mandir di depan pintu kamar Andra.


Rriinggg, rrriinggg..


Tunggu, itu suara ponsel Andra.


____________________________________________________


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________

__ADS_1


__ADS_2