
"Ehm, aku berhenti jadi asisten kakak. Maaf ya, bang Glenn aku pulang dulu." Nindi beranjak dari kusinya dan kemudian pergi meninggalkan Glenn dan Dion.
"What?! Abang, sejak kapan lo jadi abangnya dia?" Tanya Dion muak.
"Sejak lo gak tau apa apa." Glenn juga beranjak pergi meninggalkan Dion yang masih diam mematung bingung dengan apa yang baru saja ia lihat.
"What! Pada ninggalin gue, gila kalian semua." Umpat Dion dengan keras.
Dion langsung menyusul keduanya yang ternyata juga masih berbincang sebentar dibawah sebelum akhirnya Nindi pergi meninggalkan cafe itu.
"Nin, tungguin gue. Woyyyyyy!" Dion berteriak seraya mengejar Nindi yang semakin jauh dari dirinya.
"Nin!" Dion berjalan cepat mensejajarkan dengan jalannya Nindi.
"Ngapain sih kak? Kurang kerjaan banget." Tanpa sadar, Sosok Nindi yang asli keluar dari dirinya yang berpenampilan nerd.
"Lo kok ngehindar dari gue?" Tanya Dion langsung.
"Aku disuruh sama Sasha buat jauhin kakak dan kak Andra. Ya udah aku nurut aja." Ucap Nindi terus terang.
"Sasha? Ck, kebangetan tuh cabe." Dion menarik pergelangan tangan Nindi dan menyuruhnya untuk masuk ke mobilnya.
"Aku naik taksi aja kak."
"Udah lo ikut gue aja." Nindi pun menurut saja dan kemudian masuk ke dalam mobil milik Dion.
Di dalam mobil, Nindi hanya diam dengan tatapan kurus ke jalan. Sampai tiba tiba terlintas satu pertanyaan di pikiran Nindi.
"Kak, tau gak makanan kesukaannya bang Glenn? Atau barang deh, barang kesukaan dia apa?" Tanya Nindi tanpa basi basi yang ternyata malah membuat raut wajah Dion berubah menjadi masam.
"Kemaren Andra, sekarang Glenn. Lo kenapa sih?" Ucap Dion ketus.
"Gak kenapa kenapa. Jadi apa kak? Tau gak?"
"Gak! Gue gak tau, tanya aja sendiri sama orangnya."
"Lah ngapain marah marah. Kan aku cuma tanya aja. Cemburu yaaaa." Ucap Nindi sekedar menghoda Dion agar mencairkan suasana.
"Ngapain cemburu?"
"Ya udah kalo gak cemburu. Nggak usah marah gitu dong, senyum dong kak. Aku jarang liat kak Dion senyum." Nindi menghadap Dion dan memperhatikannya.
"Gue liat liat, lo makin hari makin sksd sama gue. Makin songong!" Ketus Dion pada Nindi yang masih saja memperhatikannya.
"Kan emang udah deket. Nih buktinya aku di samping kak Dion, terus juga kan sering berangkat bareng kak Dion. Masa akrab sedikit gak boleh." Ucap Nindi dengan membuat raut wajah yang sedih.
"Gak usah begitu lo. Mukalo jelek tambah jelek." Ucap Dion seraya mendorong jidat Nindi dengan telunjuknya.
"Heheh."
"Ketawa lagi lo!"
__ADS_1
***
"Nindi, keadaan sekolah makin gak memungkinkan. Ini kalo dibiarin terus bakal ancur reputasi sekolah kita." Daddy nya berbicara dengan nada yang ketara sangat panik.
"Dad, tenang. Aku sama bang Andra bakal percepat pembongkaran dalang dibalik ini. Daddy sabar ya, aku janji bakal temuin orang itu pokoknya." Nindi merangkul Daddy nya yang sangat terlihat panik.
"Daddy percaya sama kamu. Hati hati dalam ngejalanin misi kamu ini." Daddy nya tersenyum dan mencolek hidung putrinya itu.
"Tentu dong!"
***
"Bang Andra yuhuu, ada orang di dalam?" Nindi mengetuk pintu kamar Andra dengan sangat kencang.
"Brisik! Masuk tinggal masuk."
"Gak bisa, pintunya dikunci. Bukain cepet gue mau ngomong penting!"
"Aelah, mager banget jalan kesono." Ucap Andra dengan suara yang lesu.
Ceklek!
"Ada apa? Buru masuk." Andra membiarkan Nindi masuk dengan pintu yang terbuka.
"Lo udah nyuruh orang buat pasang CCTV belum? Gue kasian ama Daddy, tadi keliatannya dia panik banget."
"Tenang aja. Udah gue suruh, kita tinggal duduk manis aja." Kedua alis Andra terangkat untuk meyakinkan Nindi.
"Ya terserah lo deh. Eh ngomong ngomong, laki laki yang dimaksud tadi pagi itu Glenn?"
"Hooh, eh kalo gue boleh tau makanan kesukaan dia apa?"
"Dia mah omnivor apa apa doyan. Eits jangan bilang lo suka ama si Glenn?"
"Nggak lah, dia itu udah kaya abang kedua gue setelah lo."
"Jadi ada yang ngerebut posisi gue? Sakit banget." Ucap Andra sambil beracting memegang dadanya.
"Aelah, abang gue tetep lo. Lo abang nomer satu dan tetap abadi pokoknya di hati gue. Jangan khawatir ada yang ngganti posisi lo sebagai abang." Nindi mengusap usap rambut Andra yang sedikit berantakan itu membuat rambutnya malah tambah semakin berantakan.
"Bagus deh." Andra tersenyum lebar dan gantian mengacak rambut Nindi.
"Ya udah gue keluar dulu ya. Bye abang ku satu satunya."
***
Nindi kini sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memegang secangkir teh. Suara burung dan daun daun yang saling bergesekan karena terkena angin, membuat suasana menjadi lebih menenangkan.
Hari ini adalah hari minggu. Jadi Nindi tidak berangkat ke sekolahnya. Niatnya ia akan me time dengan berenang di kolamnya dan berkebun.
Tapi itu tertunda setelah ia tahu bahwa Dion, Glenn dan Andra juga akan seharian dirumah Nindi.
__ADS_1
Jadi tidak mungkin kan Nindi keluar kamar untuk berenang dan berkebun?
Nindi masih saja berdiri sambil sesekali menyeruput tehnya yang lumayan panas. Ia memandang ke langit, tanah, jalanan, pepohonan, sampai tepat matanya menangkap mobil yang sudah tidak asing lagi.
Mobil hitam legam yang mengkilap adalah mobil milik Dion yang selalu bersih.
Tin tin!
Gerbang dibuka oleh security Nindi. Mempersilahkan Dion masuk ke dalam rumahnya.
Nindi masih bisa melihat mobil itu sedang memarkirkan mobilnya. Dan kemudian turun seseorang ber kaos hitam dengan celana pendek dan messy hair yang membuat penampilan Dion terlihat seperti fakboy.
Nindi masih mengawasi pergerakan Dion dari balkon kamarnya.
***
"Haduhh enam jam di kamar terus. Pengin turun, tapi nanti ketauan. Haduuhh." Nindi mengacak rambutnya frustasi.
Ia sudah menghabiskan waktu di kamarnya untuk baca buku, menonton televisi, atau sekedar merebahkan tubuhnya.
Tidak ada aktivitas di lantai tiga. Hanya ada tempat gym, studio lukis, dan studio foto.
Tapi Nindi sangat malas untuk ngegym saat ini. Ia sangat ingin sekali untuk berenang dan berkebun. Melukis? Itu bukan bakat Nindi. Ruang lukis di bangun hanya untuk memperbanyak tempat saja, untuk siapapun tamu atau keluarga Nindi yang datang dan menginap dan memiliki bakat lukis, ruang itu biasanya dipakai.
Studio foto? Siapa yang akan memotretnya?
Sungguh hari yang kurang menguntungkan untuk Nindi.
Ia hanya bisa berguling ke sana dan kesini di kasurnya. Sesekali ia mengecek lewat balkonnya untuk melihat apakah mobil Dion sudah pergi atau belum.
Membosankan!
"Gue boseeeennnnnn!" Nindi berteriak dengan begitu kencang membuat asisten rumah tangga yang sedang berada di lantai tiga menghampirinya.
"Non kenapa? Ada masalah apa? Mau dipanggilkan den Andra?" Tanya pelayan tersebut.
"Heheh, nggak. Cuma bosen aja, bang Andra sama temennya ada di lantai satu apa dua?"
"Ehmm, setau saya tadi sih mereka di lantai satu lagi main game."
"Ooh, yaudah makasih ya. Aku pengin turun bosen di kamar terus."
Nindi mengganti piyama tidurnya yang ia pakai lagi setelah mandi pagi tadi dengan baju santai kaos putih dan celana trening hitam.
Nindi menuruni tangga menuju lantai dua. Di lantai dua lumayan banyak tempat yang bisa Nindi singgahi untuk sekedar menghilangkan bosannya.
Seperti memberi makan ikan di megatank nya, bermain dingdong, dan berbagai macam mainan yang bisa ditemui di timezone ada di lantai dua rumah Nindi.
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
__ADS_1
____________________________________________________