
"Halo pak. Kok lama banget ya?"
"Aduh maaf ya mba. Di cancel aja y, mobilnya tiba tiba mogok nih. Saya juga lagi panggil montir. Mba busa cari taksi lain aja. Sekali lagi maaf ya mba." Suara driver tersebut membuat pagi Nindi menjadi tak menyenangkan.
Sepuluh menit menunggu dan tak membuahkan apa apa. Jadi ia harus memesan taksi lagi untuk menjemputnya? Menyebalkan!
"Gak usah pesen lagi. Ntar lo lama nunggunya."
"Hmmm." Nindi hanya menjawab sekenanya.
"Buruan masuk. Entar lo telat, nyalahin gue." Ucap Andra sambil menyuruh Nindi mengarahkan pandangan ke jok samping kemudi.
"Hmm.." Nindi masuk ke dalam mobil Andra dengan wajah yang masih ditekuk.
"Ham hem ham hem mulu lo. Gak bisa kebuka tuh mulut?"
"Diem. Cepet jalan, ntar gue telat."
"Aelah santai. Iya iya gue jalan."
***
"Dasar perempuan cabe! Udah berapa kali gue bilang ke lo jangan jalan sama Andra. Lo gak punya kuping?" Nindi yang sedang berjalan menuju kelasnya pun tiba tiba diseret menuju kamar mandi.
"Aku gak deketin. Kak Andra cuma mau nganter aku berangkat karena tadi gak ada angkutan umum." Ucap Nindi yang sebenarnya memang jujur.
"Halah. Gue gak percaya sama omong kosong lo! Kali ini lo gak akan lepas dari gue ya!" Sasha dan kedua temannya yang Nindi tau bernama Cici dan Peach menjambak rambut Nindi sampai ikatan rambutnya terlepas.
"Ohh, atau jangan jangan lo? Dibayar berapa lo?" Sasha menegakan dagu Nindi dengan ibu jarinya dan kedua temannya yang memegang kedua lengan Nindi.
"Kak! Aku gak tau ya masalah kakak sama aku itu apa? Tapi kalau masalahnya cuma gara gara kak Andra. Aku jamin kakak bakal nyesel!" Nindi membalas perbuatan Sasha dengan ucapan yang mungkin sedikit menohok.
"Nyesel? Oh ya, kaau gitu buktiin. Gue yakin lo yang bakal nyesel. Gue akan bilang ke bokap gue buat ngeluarin lo dari sekolah ini!"
Hello, silahkan keluarkan daku wahai tuan putri.
Walau dalam keadaan yang sedang tak mengenakkan begini, Nindi masih tetap bisa bercanda dengan dirinya sendiri. Itu ia lakukan untuk mencegah emosinya yang malah justru membongkar semua rahasianya.
"Buktiin buruan! Gak bisa buktiin?" Sasha menyeringai.
"Bukan sekarang." Nindi berucap pelan.
"Lepasin kak." Nindi sedikit mengeraskan suaranya untuk meminta pertolongan pada siapapun yang berada di luar kamar mandi.
"Lo mau bebas? Lo harus.."
"Harus apa? Lepasin dia atau gue lapor lo ke guru BK!"
__ADS_1
"Wihh, kemaren Andra sama Dion. Sekarang tambah lagi yang udah ngebeli lo? Lo bayar berapa Glenn?" Ucap Sasha dengan smirk nya.
"Jaga ucapan lo ya!" Glenn maju dan siap meluncurkan bogemnya ke wajah Sasha.
"Jangan kak!" Pekik Nindi.
"Lo gangguin dia sekali lagi, lo bakal habis sama gue. Gue gak pernah pandang gender. Inget itu!" Glenn menatap Sasha dengan sangat tajam.
"Ooww gue takut, takut bangeeet. Haahaha cabut guys!" Ucap Sasha dan kedua temannya yang kemudian meninggalkan Nindi dan Glenn.
"Lo gak papa Nin?"
"Jangan ngobrol disini. Ini toilet cewek, gue takut pada salah paham."
"Oiya.." Glenn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum meringis.
***
"Bete banget gue Ta. Masih ada waktu kurang lebih satu bulan buat ngebongkar ini, dan habis itu gue bakal pulang ke Amrik. Capek gue disini haduuhhh."
"Serius lo bakal balik lagi ke sana?" Tanya Tata penasaran.
"Umm, Daddy gue minta gue harus lanjutin sekolah gue disana. Jadi, ya mo gimana lagi. Lagian kalo disini juga gue mumet banget, temen bisa diitung pake jari." Nindi terkekeh dan kemudian menyeruput latte nya.
"Hmm.." wajah Tata berubah menjadi sendu. Seolah masa lalu yang sudah terlupakan kembali menubruk dirinya.
"Gak papa, gue cuma keinget masa lalu gue aja."
"Masa lalu gak usah dipikirin, yang harus kita pikirin itu masa depan kita. Apa lo mau ikut gue ke Amrik? Lo izin bokap lo deh biar kita bisa bareng bareng disana?" Nindi menaikan sebelah alisnya meminta persetujuan.
"Gak bisa. Gue harus ngelanjutin bisnis pusat bokap gue." Ucap Tata.
"Yahh, padahal di Amrik gak ada temen yang sebaik lo."
"Oh ya?" Tata kembali tersenyum. Matanya berbinar.
"Lo mau langsung pulang apa mampir ke rumah gue dulu Ta?"
"Mampir dulu boleh kali." Ucap Tata menggoda Nindi.
"Woke." Ucap Nindi sambil membuat tanda 'oke' dari ibu jari dan telunjuk yang disatukan.
***
"Lo mau liat apa pun terserah lo. Eh lo juga kalo mau main di timezone kecil kecilan gue, lo bisa turun ke lantai bawah. Gue mandi dulu ya, hehe." Ucap Nindi menjelaskan pada Tata yang baru tiga kali mendatangi mansion milik keluarga Brawijaya.
"Kecil kecilan pala lo! Dasar meroket untuk merendah!"
__ADS_1
"Kebalik bege!" Umpat Nindi pada Tata.
"Oiya, hahah!"
Tata menyusuri seluruh kamar besar milik seorang nona nerd yang ternyata memiliki semua yang jarang orang miliki. Ia terus berjalan melihat semua barang yang dimiliki Nindi.
"Mm, Nindi suka koleksi tas brand ini juga?" Ucap Tata sambil melihat tas tersebut.
Ia kembali berjalan melihat lihat sekeliling.
"Ape nih?" Mata Tata tiba tiba tertuju pada satu kotak abu-abu yang tertutup dengan rapi.
"Boleh dibuka gak?" Tata bertanya pada kotak tersebut seolah kotak tersebut akan menjawabnya.
"Kata Nindi gue boleh liat apapun terserah gue. Oke gue akan buka lo!" Tata membuka kotak tersebut dan begitu terkejut saat mengetahui isinya.
"Hah?" Tata menganga dengan sangat lebar.
Sebuah boneka beruang kecil dengan love yang dibawanya dan bertuliskan 'DITA' membuat Tata begitu terkejut.
"...." Tata masih diam bingung dan mematung. Matanya berkaca kaca melihat boneka yang kini sedang dipegangnya.
"Hey Ta! Gue udah selesai mandi nih, lo gak mau gantian mandi?" Suara Nindi dari arah kamar mandi membuyarkan lamunan Tata.
"Gak Nin. Gue pulang dulu ya." Belum sempat Nindi mencegahnya, Tata sudah lebih dulu keluar dari kamar Nindi. Nindi berjalan keluar dari kamar mandi dan melihat kotak yang sudah terbuka dengan boneka kesayangannya yang jatuh ke lantai.
"Ya ampun, siapa yang udah buka ini? Jangan jangan Tata?"
Nindi segera saja mengambil ponselnya dan mengirimka sebuah pesan pada Tata.
Tata
"Gue gak suka ada orang lain yang buka kotak itu!"
"Lo gak punya hak buat buka kotak itu tanpa izin dari gue!"
"Gue izinin lo buat liat apapun, tapi bukan nyentuh apalagi sampe buka buka!"
"Gue kecewa sama lo!"
Selesai mengirimkan pesan yang panjang itu, Nindi segera mengembalikan kembali boneka kesayangannya ke dalam kotak tersebut.
"Maaf udah ada yang pegang pegang lo." Nindi tersenyum pada boneka tersebut dan kemudian memasukannya ke dalam kotak.
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
__ADS_1
____________________________________________________