
Nindi menuruni tangga menuju lantai dua. Di lantai dua lumayan banyak tempat yang bisa Nindi singgahi untuk sekedar menghilangkan bosannya.
Seperti memberi makan ikan di megatank nya, bermain dingdong, dan berbagai macam mainan yang biasa ditemui di timezone ada di lantai dua rumah Nindi.
"Yah kalah lagi gue!" Ucap Nindi sambil memukul konsol dingdong.
"Mau gue bantu?" Suara lelaki dari arah belakangnya membuat ia terkesiap.
"Astaga, kaget gue!" Tukas Nindi seraya spontan membalikkan tubuhnya menghadap orang tersebut.
"Hehe, sorry Nin. Gue ngagetin lo ya? Tadi gue ijin ama Andra buat main di timezone pribadinya. Soalnya bosen gue main PS mulu."
"Haduhh, iya ngagetin. Kak kesini gak sama kak Dion kan? Takutnya kak Dion nyusulin kakak kesini, nanti gue ketahuan." Ucap Nindi para orang tersebut yang ternyata adalah Glenn.
"Tenang, dia lagi sibuk main FIFA ama Andra."
"Ya udah main bareng aja kita. Gue daritadi sendirian nungguin kalian pulang. Gue bosen banget di kamar terus." Tukas Nindi acting memerosotkan tubuhnya
"Aelah, gue mungkin pulangnya maleman."
"Haah?" Mulut Nindi terbuka lebar. Sangat lebar. Berati ia harus menunggu mereka sekitar beberapa jam lagi.
"Kenapa? Gak boleh?"
"Bukannya gitu. Aku kan masih nyamar supaya gak ketauan kak Dion, terus ini lagi aku juga bosen bolak balik lantai dua lantai tiga. Aku pengen turun ke bawah."
"Gue temenin lo deh disini, biar gak bosen. Tapi kalo lo bosen ya turun aja bareng gue. Urusan Dion nanti gue yang cari alesan." Glenn menaikan kedua alisnya sambil tersenyum.
***
Mereka tertawa bersama, saat Nindi kalah bermain boneka capit.
Sudah sekitar dua jam mereka menghabiskan waktu bersama di timezone pribadi milik keluarga Nindi.
"Nin gue turun dulu ya. Lo kalo masih mau main juga gakpapa, tapi kalo lo mau balik kamar juga gakpapa. Siapa tau lo bosen main terus.
"Yahh. Katanya mau bawa gue ke bawah."
"Iya tapi kalo dipikir pikir kayaknya Dion gak semudah itu percaya sama omongan gue nanti. Daripada ribet, tunggu satu sampai dua jam an lagi. Nanti gue bakal ngajak Dion pulang."
"Ya udah. Bye bang, gue mau naik kemar gue dulu."
"Oke" Glenn menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk simbol 'oke'
***
Dua jam sudah berlalu dan langit sudah mulai menggelap. Nindi masih belum tau keberadaan Dion dan Glenn. Apakah mereka sudah pulang?
Nindi pun berinisiatif mengirimi Andra pesan.
BangAndrađź–¤
__ADS_1
"Hello. Dua temen lo udah pulang belum?"
"Buruan suruh pulang ya, gue bosen di kamar terus. Pengen ke bawah."
Dua pesan itu dikirim oleh Nindi.
1 menit.
2 menit.
3 menit, dan ya satu balasan muncul di layar ponselnya.
"Turun aja. Mereka udah pulang."
Melihat balasan itu, Nindi langsung saja turun tanpa mengecek kebenarannya.
Nindi asik menuruni tangga dan melihat layar ponselnya sampai sampai ia tak sempat untuk kabur kembali ke atas setelah melihat Dion yang kini melihat ke arahnya.
"Hahaha, kena lo!" Tukas Dion lalu bangkit dari duduknya membuat Andra dan Glenn terkejut mendengar suara keras Dion.
"Eung.." Nindi diam mematung.
"Ngapain lo nyuruh Andra ngusir gue ama Glenn?" Ujar Dion sambil menunjukan pesan chat yang Nindi kirim.
"Kok HP nya ada di lo?"
"Ya gue tadi nya sih oinjem buat main game eh ada notif muncul." Dion menyeringai dengan mengerikan.
"Lo kok gak ngomong ada chat masuk? Lo gak baca semuanya kan?" Tukas Andra panik.
"Belum sempet sih. Atau jangan jangan selama ini lo ngelarang ngelarang buat gue main kesini karena emang PACAR lo ini gak ngebolehin ya?" Ujar Dion dengan menegaskan kata pacar dan kemudia melirik ke arah Nindi dengan smirk yang tak bisa diartikan.
"Engga gitu yon. Itu emang kemauan gue sendiri kok."
"Dasar parasit!" Tegas Dion menunjuk ke arah Nindi.
Glenn yang masih bingung dengan maksud 'pacar' pun hanya bisa diam saja.
***
"Arkghhhk. Makin hari makin berantakan aja rencana gue." Ucap Nindi feustasi di dalam kamarnya.
Ia sangat malas untuk membuka ponselnya. Pulahan chat dari Andra tak ia gubris. Ia masih kesal gara gara kejadian tadi.
Andra seenak jidat nya memberikan ponselnya pada Dion?
Tapi sebenarnya masalah itu gak harus membuat Nindi marah, karena Dion juga teman Andra. Apa benar Nindi selama ini telah menghaalngi persahabatn mereka seperti yang di katakan Dion tadi?
Nindi beranjak dari kasurnya untuk pergi ke kamar mandi dan menggosok giginya. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Dion dan Glenn sudah pulang emoat jam yang lalu.
Nindi memperhatikan dirinya di wastafel kamar mandinya.
__ADS_1
"Gue cantik dibenci ama Dion. Gue cupu, awalnya dibenci tapi malah dikejar kejar." Ucap Nindi setelah berkumur dengan air.
Ia memegang kedua wajahnya sebelum akhirnya ia menganbil sabun cuci muka dan membersihkan wajahnya.
Setelah terbilas dan wajahnya sudah tampak lebih cerah, ia masih saja memeganginya dan bermonolog.
"Gue tampil cupu mungkin lebih menarik kali ya di mata dia. Hahhaha" tawanya pecah dan ia keluar dari kamar mandi untuk mengeringkan wajahnya.
"Heuh. Cape juga ya gak ngapa ngapain seharian. Mesti nuggu seminggu lagi deh buat gue me time yang bener. Gak kaya tadi berantakan rencana gue yang udah gue buat." Ujar Nindi kembaki bermonolog.
"Dari tadi gue ngomong sendiri ngapain sih?" Ucap Nindi sambil menepuk bepuk pipinya.
"Wah udah gila gue ini."
***
Pagi ini, Nindi akan berangkat dengan taksi. Karena lusa kemaren, ia sudah memtuskan hubungan asisten dengan Dion. Karena menjadi asisten ataupun tidak, ia masih saja dibully.
Nindi menuruni tangga dengan seragam yang sudah menempel di tubuhnya.
"Hoamm, masih ngatuk lagi gue."
"Mau berangkat bareng gue?" Tawar Andra pada Nindi yang masih terus berjalan tanpa menyapanya.
"Gak. Gue naik taksi."
"Lo maish marah sama gue? Aelah, kecelakaan biasa itu mah. Dion juga udah ga tanya macem macem kok."
Tanpa menyauti dengan panjang, Nindi hanya ber'oh' ria mengabaikan Andra dan melanjutkan jalannya menuju keluar rumah.
Seperti biasa, ia memesan taksi online untuk menjemputnya.
"Dih lama banget!" Ujar Nindi sesekali melihat ke arah jam tangannya.
"Nindi mengentakkan kaki nya karena taksi yang ia tunggu tak kunjung datang.
Sudah sepuluh menit berlalu dan taksi tak kunjung datang. Ia memutuskan untuk menelepon driver taksi teresbut.
"Halo pak. Kok lama banget ya?"
"Aduh maaf ya mba. Di cancel aja y, mobilnya tiba tiba mogok nih. Saya juga lagi panggil montir. Mba busa cari taksi lain aja. Sekali lagi maaf ya mba." Suara driver tersebut membuat pagi Nindi menjadi tak menyenangkan.
Sepuluh menit menunggu dan tak membuahkan apa apa. Ia harus memesan taksi lagi untuk menjemputnya.
"Gak usah pesen lagi. Ntar lo lama nunggunya."
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
____________________________________________________
__ADS_1