
"Oo, sahabat gitu? Terus jadi cinta? Hahah.. untung gak friendzone."
Andra hanya bisa menatap kedua orang itu saling sahut menyahut. Andra hanya bisa mempasrahkan semua pada adiknya itu. Ia tak mau menggagalkan rencana yang sudah disusun rapi oleh adiknya.
"Brisik lo! Pulang sono, ganggu aja." Ketus Nindi pada Dion.
"Ogah, gue mau nginep sini kok." Nindi membulatkan matanya kaget. Ia melihat Andra dengan tatapan meminta penjelasan.
Andra yang ditatap seperti itu pun hanya mengedikkan bahu tanda tidak tahu.
"Serius lo yon mau nginep?" Tanya Andra pada Dion.
"Iya lah, sekali kali lagehhh. Biar gue jemput si nerd lebih cepet juga. Sini ke gang kan sepuluh menitan."
Nindi menunduk dan mengusap usap mukanya layaknya cucian kotor.
"Baa-- eh Ndra, gue ke kamar dulu. Usahain HP lo tetep di tangan lo. Byeeee." Hampir keceplosan untuk kesekian kalinya.
Nindi pergi ke kamarnya dan langsung menge-chat Andra.
BangAndra🖤
"Woyyyy!!! Jangan ijinin Dion nginep disini."
"Pleaseeeee.."
"Nanti tamat riwayat gue.. pleasseee🥺"
Pesan itu dikirimkan ke Andra yang masih berbincang di ruang TV.
Ting!
"HP lo bunyi tuh. Paling dari pacar lo, tadi kan dia nyuruh lo oegang HP."
"Oh, iya."
Mbul🙄
"Woyyyy!!! Jangan ijinin Dion nginep disini."
"Pleaseeeee.."
"Nanti tamat riwayat gue.. pleasseee🥺*"*
__ADS_1
Andra hanya bisa tersenyum melihat chat dari adiknya itu.
"Ngapain lo senyum senyum? Jih bucin lo. Apasih liat." Dion menyodorkan kepalanya untuk melihat isi pesannya, namun ia kalah cepat dari Andra yang langsung mematikan ponselnya tersebut.
"Ah pelit amat lo!"
"Yon, buat hari ini aja. Jangan nginep di rumah gue dulu ya." Andra seperti mengatur kalimat supaya tidak membuat Dion sakit hati atau tersinggung.
"Yaelah, gue becanda kali. Gue juga gak bawa baju. Hahahahh.." Dion tertawa lepas melihat temannya yang sudah sangat gelagapan.
***
BangAndra🖤
"Halooo! Selamat pagi!" Ia menelepon Andra untuk memastikan bahwa Dion sudah benar benar tidak ada dari rumahnya.
"Dion udah pergi kan? Gue mau turun nih!"
"Iyaaa! Udah pergi, buruan turun. Ada yang mau gue omongin sama lo!"
Nindi terus berucap syukur. Tapi tunggu, keliatannya Andra sangat serius mengajaknya mengobrol sekarang?
Nindi segera turun menggunakan lift rumahnya.
"Hai bang! Mau ngomong apa? Serius banget keliatannya?" Nindi berjalan menghampiri Andra yang sedang terduduk di minibar rumah.
"Nggak lah! Kenapa sih?"
"Bagus deh kalau lo gak suka. Inget Nin, lo udah punya pacar di Amrik. Dia bakal marah atau bisa aja dia bakal nyusulin ke Indo kalo dia tau lo disini macem macem." Andra terus menasihati adiknya supaya tidak terlampau jauh berdekatan dan menepel pada Dion terus.
"Tapi bang. Gue kan sekarang jadi asistennya dia. Gak mungkin jauh jauh lah." Nindi mencoba memberi pembelaan terhadap dirinya sendiri.
"Gue akan bilang ke Dion buat berhentiin lo jadi asistennya." Ucap Andra dingin.
"Tapi bang." Nindi merengek selayaknya anak kecil yang yang membuat Andra ingin sekali mencubit pipinya. "Gue janji deh gak bakal suka ama Dion. Lagian dia juga berguna sih buat ngelindungin gue kalo gue mau dibully."
"Oke! Mungkin kali ini gue bisa percaya sama lo. Tapi inget Nin, jaga perasaan pacar lo. Jangan sampe dia kecewa karena lo!" Ucap Amdra dengan sedikit penekanan dan kemudian langsung pergi menuju kamarnya yang emang berada satu lantai dengan minibar-nya.
***
Ini bukan waktunya untuk berdebat dengan tiga orang cabe sekolah. Nindi lebih memutuskan untuk terus berjalan walau kakak kelas rese itu terus saja mengajaknya berduel.
"Woy cupu! Kalahin gue kalo lo mau dapetin Dion ataupun Andra!" Sasha berteriak dari belakang Nindi yang masih saja tetap berjalan.
__ADS_1
Haish! Kesel banget gue. Gue pecat bapak lo baru tau rasa lo!
Nindi membatin dengan sesekali smirk kecil ia tunjukkan membuat siswa dan siswi yang tak sengaja melihatnya menjadi bergidik ngeri.
"Weii cupu! Lo gak berani nglawan gue?" Kini Sasha berusaha menyamakan jalannya dengan Nindi. Tapi Nindi masih saja tak mempedulikan Sasha yang sedari tadi mengajaknya berduel.
Sasha yang hampir saja menjambak dan melepas kuciran Nindi tiba tiba tersekat saat tangannya merasa ada yang mencekalnya.
"LO GAK USAH MACEM MACEM SAMA DIA KALAU MAU NANGGUNG AKIBATNYA!" Ya betul. Itu Andra, kini ia telah mencegah Sasha suapaya identitas adiknya tidak terbongkar.
"Ndra lepasin! Kenapa sih lo sama Dion kayaknya belain dia? Apa yang spesial dari seorang nerd cupu begitu?" Mata Sasha berkaca kaca namun hanya mendapat decihan muak dari Andra.
"JANGAN SEBUT DIA NERD!" Andra membentak Sasha yang membuat para siswa dan siswi yang melihat kejadian itu bergidik ngeri. Andra memang bisa dibilang salah satu most wanted yang good boy. Tidak seperti sahabatnya, Dion.
Dion memnag most wanted. Tapi ia sering kali di cap sebagai badboy, sangat berbeda dengan Andra.
"Nin, buruan ikut." Andra menggandeng Nindi menuju teman belakang yang memanng jarang didatangi oleh para murid. Tapi Dion yang baru saja masuk ke sekolahnya itu, dan melihat kejadian bahwa Andra membela si nerd, ia langsung penasaran dan kemudian membuntuti keduanya. Ia hari ini tak berangakt bersama Nindi, karena ada sesuatu mendadak yang harus ia kerjakan.
"Oke, terserah lo mau marah ama gue untuk yang kedua kalinya atau gimana, taoi gue tadi belain lo. Hampir aja identitas lo kebongkar Nin!" Andra menekan setiap kata di akhir kalimat yang membuat Nindi menunduk lesu.
Diujung lorong, Dion masih mengintip apa yang terjadi oleh mereka berdua. Namun jarak yang cukup jauh membatasi pendengarannya.
"Oke oke. Makasih bang, apa gue bakal bongkar identitas gue besok aja?" Nindi mulai terisak karena mungkin sudah tidak kuat berada di sekolah penuh dengan iblis yang hanya bisanya membully kaum rendah seperi Nindi yang menjadi nerd contohnya.
"Lakuin apa yang jadi tugas lo. Jangan cengeng, yang gue tau adek gue gak pernah nangis kalo cuma hal sepele. Tuntasin rencana lo, gue bakal ada selalu dukung lo dari belakang Nin." Andra kemudian memeluk Adiknya itu. Nindi menangis dalam dekapan Andra.
Dion yang melihat itu pun kangsung terbelalak.
Andra ngaoain sih pake peluk pelukan sama Nindi!?
Tak sadar dengan apa yang sudah ia ucapkan dalam batinnya, membuat ia dongkol setengah mati. Lorong kosong yang hanya ada berbagai meja tak terpakai, membuat Dion hampir saja ketahuan.
Srett.
Suara gencitan dari meja yang cukup keras membuat Andra dan Nindi menoleh ke sumber suara.
Tak ada siapa siapa disana.
"Siapa itu bang?" Nindi mendingakkan kepalanya dan menyeka air matanya.
"Biar gue yang urus. Lo masuk kelas aja gih sono." Andra tersenyum dan langsung berlari mengejear sang pelaku.
____________________________________________________
__ADS_1
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
____________________________________________________