
Sasha dan kedua temannya dengan cepat kembali ke kelas dan langsung melabrak seseorang yang baru saja mengerjainya.
"Eh maksud lo apaan hah?" Ujar Sasha emosi kepada Tata.
Dengan santainya, Tata menjawab sambil tersenyum, "gak maksud apa apa sih cuma keknya tukang AC udah paling bener deh. Biar ati lo gak selalu panas, jadi gue kasih nomer tukang AC deh. Gue gak salah kan? Harusnya lo berterima kasih sama gue, malah ngegas!"
Nindi yang mendengar tuturan Tata barusan, bahwa nomor yang ia kasih ke Sasha adalah nomor tukang AC membuatnya ingin tertawa terbahak terbahak. Tetapi tawa itu ia tahan sehingga membuat pipinya menggembung.
"Siiaaal! Lo juga, ngapain begitu? Ngetawain gue?!" Ucap Tata yang masih emosi.
"Udah udah Sha, kita minta sendiri aja sama si Anindira kalo kita ketemu lagi." Ucap salah satu teman Sasha menenangkan.
"Ya kalo ketemu! Kalo gak?"
"Kalo engga ya berarti emang lo ngga ditakdirin buat temenan sama dia. Karena tuhan tau orang kaya lo itu gak pantes punya temen kek dia!"
"Diem lo!" Saat Sasha akan duduk dibangkunya, ia tertahan dan mengingat kejadian penolakan di kelas 12 kelas Glenn dan kawan kawan.
"Oiya, elo!" Tunjuk Sasha pada Nindi yang sedang duduk dengan tenang.
"Elo jauhin Andra, Glenn, ataupun Dion! Kalo lo masih aja deketin mereka, lo habis sama gue!"
"Gak usah nyuruh nyuruh orang, bukannya lo sendiri yang disuruh ngejauhin mereka sama mereka bertiga langsung? Gak malu lo, udah diusir eh malah ngusir, sehat lo?" Jawab Tata.
"Aih, eloo! Elo bisa diem gak sih, ini bukan urusan gue sama lo!"
"Urusan Nindi urusan gue juga, mau apa lo?"
"Arkhhgggg!" Teriak Sasha frustasi menghadapi seonggok manusia seperti Tata.
***
Bel pulang sekolah sudah berbunyi dan para siswa saling berhamburan keluar kelas. Sementara Nindi dan Tata masih berada di dalam kelas seperti biasa menunggu keadaan luar sudah sedikit lebih sepi.
"Nin, kalo lo ketemu lagi ama si Sasha lo bakal kasih nomer HP lo?" Tanya Tata penasaran.
"Iya kali, kasian gue ama dia."
"Ya udah terserah lo aja deh, emang kasian sih dia ngemis ngemis terus minta nomer lo. Hahhahaha." Keduanya tertawa.
Saat sedang mengobrol asik dengan Tata, ponsel Nindi tiba tiba saja berdering menampilkan sebuah nomor tak dikenal.
"Eh siapa ini?" Tanya Nindi bingung.
"Sasha? Kayaknya gak mungkin deh, dapet dari mana dia nomer lo?" Jawab Tata yang juga bingung.
"Angkat aja angkat."
Nindi mengangkat telepon tersebut dan, terdengar jelas suara perempuan disana.
__ADS_1
"Halo? Ini siapa ya?" Tanya Nindi sopan.
"Dasar perempuan jala*g, lo pengkhianat, lo penipu!" Ucap perempuan diseberang sana dan langsung mematikan sambungannya.
"Maksud lo? Halo? Halllloo?" Pekik Nindi yang sudah tidak bisa didengar lagi oleh perempuan tersebut.
"Siapa Nin?" Tanya Tata.
"Gak tau, orang gila kali dia. Dia nyebut gue jala*g, pengkhianat, sama penipu. Apa-apaan sih maksudnya?" Ucap Nindi kesal.
"Kayaknya dia perempuan yang waktu itu abang lo bilang deh."
"Iya emang dia gue rasa. Tapi nomernya beda sama nomer yang ngirimin pesan gue kemaren."
"Sengaja kali? Setiap habis ngirimin lo pesan, atau nelfon lo, dia ganti nomor supaya gak bisa dilacak. Secara kan lo kalo nyuruh orang cari dia langsung ketemu pasti orangnya."
"Iya kali ya? Yah, pengecut dia!" Ucap Nindi mengeluarkan smirk nya.
"Ya udah pulang yuk, udah sepi kayaknya sih."
"Okey."
Saat hendak keluar gerbang, Nindi dan Tata bertemu dengan 3 prince sekolah. Siapa lagi kalau bukan, Andra dan kawan kawan.
"Emm, Ta gue pulang dulu ya." Ucap Nindi kepada Tata dan sekejap melirik ke arah abangnya yang kini tengah menatap dengan tatapan yang tak bisa Nindi artikan.
"Emm, Nin bareng Dion aja nih. Mumpung lagi nganggur dia." Ucap Andra sambil mendorong Dion mendekati Nindi.
Saat mulut Dion tengah mengelak, sebenarnya hatinya sangat ingin berkata 'iya gue anter yuk' tapi mau gimana lagi, gengsi yang dia miliki lebih besar dari apapun.
"Lo gak mau anter? Oh ya udah gue aja, yuk Nin gue anter sampe rumah. Gue pastiin lo selamat." Ucap Glenn sambil tersenyum pada Nindi, membuat seorang wanita yang kini tengah berdiri di samping Nindi ikut tersenyum getir menyaksikan hal itu.
"Yaudah Nin, buruan mumpung ada yang nganter tuh." Ucap Tata sok tegar.
"Gue aja, buruan!" Saat Glenn hendak menggandeng Nindi, dengan cepat Dion meraih tangan Nindi terlebih dahulu dan langsung pergi menuju parkiran. Kini tersisa tiga orang manusia yang masih mematung melihat kelakuan Dion barusan.
Tapi dalam diam, Glenn tersenyum penuh arti.
"Oy, udahan bengongnya. Lo pulang sama siapa Ta?" Tanya Andra.
"Gue naik taksi sih bang."
"Bareng Andra aja kali Ta, biar hemat." Ucap Glenn.
Tata senang Glenn berbicara dengan nya, tapi yang Tata mau adalah Glenn yang mengantarnya pulang, bukan Andra.
"Iya gapapa sih, mau gak? Gak usah malu Ta, dulu pas kecil kita juga suka main mobil mobilan bareng kan? Nah sekarang gue ajak lo naik mobil beneran." Ucap Andra sambil tertawa kecil.
"Ya udah, ati ati lo Ndra jangan nabrak pohon lagi." Glenn tertawa dan meninggalkan Tata dengan Andra berdua.
__ADS_1
"Sebegitu gak pekanya lo kak? Gue pengen lo yang anter gue pulang." Ucap Tata dalam hati dengan kesal.
"Yee, gue gak pernah nabrak pohon!" Sahut Andra.
"Ya udah pulang yuk Ta. Mau mampir ke rumah dulu gak main ama Nindi?" Tanya Andra pada Tata yang keduanya kini tengah berjalan beriringan menuju parkiran sekolah.
"Gausah bang, langsung pulang aja."
"Oo, oke oke. Mau makan dulu gak?" Tanya Andra lagi.
"Gak dulu deh. Gue mau langsung pulang bang." Ucap Tata frustasi.
"Oke oke." Keduanya terus berjalan sampai tiba di parkiran.
***
"Rumah lo masih di gang kecil itu kan?" Ucap Dion yang masih saja dengan nanda dingin dan ketusnya.
"Iya kak."
"Ooh oke. Eh gue mau tanya sama lo, mantan lo itu orang nya gimana sih?" Ucap Dion.
"Emm, gimana ya. Dia baik, perhatian, terus apa lagi ya?" Ucap Nindi sambil masih memikirkan kelebihan dari mantannya yang tak lain adalah Manuel.
"Widih, semangat banget kalo bahas mantan lo. Lo belum move on?"
Nindi yang sudah tau bahwa Dion menyukainya, tiba tiba saja ingin sekali mengerjainya.
"Emm gimana ya? Ya begitulah, kadang kadang aku masih kepikiran sama dia." Ucap Nindi sok sedih, dan sesekali melirik melihat ekspresi Dion.
"Oo, kalo saran gue sih buruanmove on deh."
"Kenapa?" Tanya Nindi polos melihat ke arah Dion yang masih fokus menyetir. Saat memandangi wajah Dion dari samping, Nindi sesekali membatin.
"Kalau gue lagi berpenampilan sebagai Nindi si nerd, kenapa gue selalu nyaman kalo ada dideket manusia ini? Sedangkan kalau gue udah ditampilan asli gue, gue selalu muak dan selalu emosi kalo ngeliat Dion? Gue kenapaaaa?" Batin Nindi yang masih tak sadar bahwa Dion kini tengah menoleh ke arahnya melihat wajah polos Nindi.
Jantung seakan berdetak tiga kali kebih cepat dari biasanya. Bagi Dion tatapan Nindi sekarang seakan seperti setrum yang mampu membuatnya kaku seketika.
"E-elo ngapain ngeliatin gue?" Sentak Dion yang membuat Nindi terkejut.
"Nungguin jawaban tadi." Untung saja Nindi bisa mengelak.
"Jawaban apa?" Tanya Dion.
"Emm gak ada. Abaikan aja." Ucap Nindi mengibaskan tangannya.
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
__ADS_1
____________________________________________________