
"Oke. Gapapa kalo kakak emang mau menyerah sampai sini aja. Setidaknya aku udah berusaha buat buka hati kalo emang kakak beneran suka dan mau berjuang. Hehe makasih udah pernah suka sama aku." Senyuman yang Nindi berikan setelah mengucapkan kalimat barusan, membuat hati Dion yang baru saja kembali membeku setelah penolakan yang diberikan Nindi, seketika kembali mencair walau masih ada sebagian yang masih beku.
"Ya ya ya, pulang sekarang?" Ucap Dion sedikit melunak.
"Boleh, ini uangnya." Ucap Nindi sambil menyerahkan selembar uang kertas seratus ribuan kepada Dion untuk membayar vanilla latten nya.
"Nggak usah. Gue aja yang bayar, gue laki."
Dengan cepat Nindi pun menolak.
"Enggak kak. Ini aku yang beli dan minum, jadi aku yang harus bayar. Lagipula kakak bukan suami aku, jadi kakak belum ada hak dan kewajiban buat bayarin ini." Seperti apa yang diajarkan oleh Daddy nya, jangan pernah bergantung pada orang lain selagi kita masih mampu. Terutama untuk Nindi yang notabene nya perempuan, kalau bisa jika Nindi dekat dengan seorang lelaki jangan sampai Nindi meminta ini itu kepada lelaki tersebut. Karena itu bukan kewajiban sang lelaki untuk menuruti apa yang kita minta.
Mendengar kata 'belum' yang baru saja keluar dari mulut Nindi, membuat Dion sedikit terpaku.
"Belum dia kata?" Ucap Dion dalam hati.
"Emm, oke itu ajaran keluarga lo atau emang lo punya prinsip kek gitu?" Tanya Dion.
"Itu ajaran keluarga aku yang udah menjadi prinsip aku kak."
"Oke gue paham, tapi kali ini biar gue aja ya yang bayar. Anggap aja sebagai hadiah karena lo mau beri kesempatan buat gue."
"Hah? Kesempatan apa?" Tanya Nindi bingung.
"Kesempatan menangin kulkas dua pintu!" Ucap Dion kesal.
"Hah?" Nindi masih bingung, kesempatan apa?
"Udahlah abaikan. Lemot banget lo kaya hp gue kalo gak ada kuota!"
***
__ADS_1
Kini Tata tengah menikmati secangkir teh di tepi kolam renangnya sambil merasakan dinginnya angin malam. Ia masih terpikir kejadian siang tadi, dimana Nindi diperebutkan dua cowok populer sekaligus.
Jujur, ia merasa iri. Ia selalu kalah dari Nindi sejak kecil. Apa yang Nindi miliki, tak Tata miliki.
"Gue iri sama lo Nin, lo punya abang yang sayang banget sama lo. Sedangkan gue? Abang gue kaya titisan dakjal, otaknya isinya cuma duit duit duit!" Ucap Tata frustasi.
"Kak Glenn, sayang banget lo sukanya sama Nindi. Oke gue tahu, lo itu tau identitas asli Nindi. Dan gue juga tau diri kalau gue dibandingin Nindi itu emang beda jauh. Secara fisik, Nindi jauh lebih cantik dari gue jadi jelas aja lo pasti suka sama dia." Tata tersenyum meratapi nasibnya.
"Woy! Ngapain disono? Lo ada duit gak? Gue pinjem, Papi blokir kartu gue." Ucap seseorang dari arah pintu kaca dengan jalan yang agak sempoyongan dan mulut yang bau alkohol.
"Gak ada. Uang gue di-pas ama Papi!" Ucap Tata berbohong. Iya betul, dia adalah kakak laki laki Tata yang bernama Galih. Keluarga Tata memang keluarga yang dikenal banyak orang, tapi tak banyak orang juga yang tahu bahwa Tata memiliki seorang kakak.
Keluarga Tata sengaja menyembunyikan identitas Galih dari semua orang, karena takut perusahaannya akan dicap yang tidak tidak oleh klien nya karena kelakuan anak sulungnya.
Galih saat ini berusia 19 tahun, yang dimana ia seharusnya berkuliah dan meneruskan bisnis Papinya. Tapi sejak SMA, kelakuan Galih sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dia sering pergi ke club malam hanya untuk bermain wanita dan mabuk mabukan.
Pernah sekali ia terkena kasus narkoba, karena ia mengkonsumsi bubuk sabu.
Itu membuat Papinya dan sekeluarga stress. Tata bisa dibilang anak yang cukup kuat karena mampu bertahan di dalam keluarga yang sudah sangat tidak harmonis.
Kakaknya yang memiliki kelakuan seperti brandalan, dan kedua orang tuanya yang juga kadang kadang selalu bertengkar karena masalah Galih. Dan banyak lagi.
Tata merasa kehidupannya sungguh sangat jauh berbeda dari Nindi yang ia pikir memiliki kehidupan yang di kelilingi oleh kasih sayang.
"Jangan bohong lo! Gue tau kok lo itu anak kesayangan Papi, jadi gak mungkin Papi nge-pasin uang lo. Buruan kasih gue lima juta! Gue kalah taruhan sama temen gue!" Ya beginilah, tidak semua orang dengan rumah mewah dan uang yang tak terhitung selalu hidup dengan tenang dan nyaman.
"Gue gak ada. Kak, please lo bisa gak sih berhenti main judi sama mabuk mabukan. Gue sedih ngeliat Papi sama Mami yang selalu berantem gara gara lo!"
"Gue gak urus. Mereka udah gak anggap gue lagi, mereka udah buang gue!" Pekik Galih.
"Kak! mereka gak akan begitu kalau lo kelakuannya gak begini. Liat diri lo, mana Galih yang dulu? Galih yang selalu bikin gue ketawa? Galih yang selalu ada disaat gue sedang terpuruk saat gue kehilangan sahabat gue?" Ucap Tata menahan air matanya agar tidak keluar.
__ADS_1
"Hahahha, dia udah musnah! Galih yang dulu udah musnah!" Ucap Galih sambil tertawa dan menatap tajam Tata.
"Kak, gue mau kaya orang orang yang punya kakak yang sayang sama adiknya. Gue rindu sama lo yang dulu kak!" Tak bisa, ia tak bisa menahan air matanya lagi. Kini air matanya menetes begitu saja.
"Gue bilang dia udah musnah! Gak usah pake nangis, buruan gue minta lima juta! Atau gue jual mobil kesayangan lo?"
"Kak!" Pekik Tata yang masih menangis.
"Duitttt! Buruan duiiiit!" Ucap Galih sambil menodongkan telapak tangannya.
"Oke, kali ini gue kasih lo untuk yang terkahir kalinya. Besok besok, gue gak akan kasih lo sepeser pun!"
Tata mentransfer uang sebesar lima juta ke rekening Galih.
"Bagus, ini baru namanya adik yang baik." Galih mengelus lembut puncak kepala Tata. Jujur, ia rindu Sosok Galih yang selalu berlaku manis terhadapnya. Mengelus puncak kepalanya, atau bahkan mengecup keningnya jika Tata akan pergi tidur. Tapi sekarang? Itu semua sudah hilang.
Galih pergi dengan secepat kilat. Tata terjatuh dan menangis. Tak akan ada yang bisa mendengar jeritan hatinya sekarang. Papinya? Dia tidak pernah ada waktu untuk keluarganya. Dia hanya akan pulang ke rumah jika Tata berulang tahun, atau sekedar makan malam. Maminya? Entah kenapa, hubungan Tata dan Maminya bisa dibilang kurang baik. Maminya selalu membela Galih, ia berjuang mati matian untuk membuat suaminya mengakui Galih sebagai anaknya.
Kalian lihat? Keluarga serba berkecukupan belum tentu memiliki kehidupan dan keluarga yang berkecukupan juga.
Sebagai contoh adalah keluarga Tata ini. Orang orang selalu melihat keluarga Tata sebagai keluarga yang harmonis, karena disetiap wawancara yang diadakan, Papinya akan memboyong Mami dan dirinya supaya terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Tapi kenyataannya? Hahahhaha, Tata pun akan tertawa jika membayangkannya.
***
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
____________________________________________________
__ADS_1