She Is Nerd?

She Is Nerd?
Duh Ketahuan?


__ADS_3

Adek gue masih belum nyadar juga? Ah biar aja dia tau dengan sendirinya.


"Oh! Bagus deh, akhirnya punya temen juga lo. Tapi jangan karena temen lo itu tajir lo jadi mau temenan ama dia. Lo harus tulus kalo mau temenan sama orang."


"Iya iya abang Andra yang gantengnya kaya Johny Orlando." Andra salah tingkah dan kemudian mencubit salah satu pipi Nindi dan kemudian berlari.


"Dih! Awas lo ya."


Mereka terus saling mengejar. Rumahnya sangat luas untuk sekedar bermain kejar kejaran.


"Sini lo! Gue mau getok palalo pake tangan mulus gue!" Nindi mengejar Andra dan,,,,


Bugh


"Omaygat!" Nindi menutup mulutnya yang menganga.


"Heh! Ngapain lo getok pala gue! Nyari ribut lo?" Iya itu Dion. Dion berada didepan pintu masuk. Nindi mengira itu Andra karena Andra keluar dari rumahnya saat ia kejar.


"Hehe sorry. Gue kira lo ba--eh gue kira lo Andra."


"Disini lo kaya ratu ya? Bebas banget keliatannya." Dion celingak celinguk ke dalam rumah Andra.


"Ngapain lo? Mau maling lo?" Semprot Andra langsung pada Dion.


"Muke gile. Barang dirumah gue juga masih bisa mencukupi kebutuhan gue kali. Malah lebih dari kata mencukupi!" Dion berdecih dengan sebal.


"Anj!r jadi sering banget lo main kesini? Lo naksir ya ama cewek gue?" Andra menunjuk muka Dion dengan jari telunjuknya tepat di depan antar kedua mata Dion.


"Dih! Gue mau ngajak lo keluar malam ini." Merasa tau apa yang akan Andra ucapkan ia langsung melanjutkan kalimatnya. " HP lo mati Ndra, gue telpon gak bisa, gue chat gak bisa."


"Oke, jam berapa?" Andra masih berdiam diri menunggu jawaban dari Dion.


"Jam 7 di cafe LUNAR. Ada yang mau gue omongin sama lo!" Bukannya Dion yang menjawab, Andra malah menduluinya.


"Tanya jam berapa, eh malah dijawab sendiri. Ya bagus deh." Nindi masih mematung mendengarkan percakapan mereka. Ia merasa tidak dianggap oleh kedua pemuda tersebut.


"Weeii! Ada gue disini. Gue dicuekin?" Nindi membuka suaranya.


"Lo siapa emangnya? Ganggu banget! Lo gak pulang pulang, Betah amat disini."


"Terserah gue lah! Ini kan rumah pacar gue." Nindi menaikan sebelah alisnya dan menatap Andra.


Hoeek. Anj!r ni bocah, gedeg lama lama gue ama lo Nin!


Andra membatin dan sesekali megelus dadanya.


"Lo matre ya? Lo tau Andra tajir makanya lo pacarin dia?" Dion membisik ke telinga Nindi.


"Berisik lo! Lo gak tau apa apa!" Nindi segera pergi dari pandangan kedua pemuda tersebut.


***


Jam menunjukan pukul 18:30 Nindi akan pergi bersama sahabat barunya yaitu Tata. Mungkin ini kali pertamanya hangout bersama temannya di Indo selama ia pulang dari Amrik.


"Wih cantik banget lo gak berpenampilan cupu Nin. Pasti Dion kalo ngeliat lo yang ini pasti klepek klepek." Tata membuka suaranya dengan suara yang cukup keras.


"Husst! Jangan keras keras. Nanti abang gue denger, dan itu bisa jadi salah paham. Jangan ngomongin Dion kalo lagi di rumah gue. Sekali lagi, gue udah punya pacar Ta."


"Ehehe, sorry sorry. Mana abang lo? Katanya tadi mau ngenalin ke gue. Eh malah lo kelupaan."


"Kuy masuk."


Disana ada Andra yang sedang duduk di minibar nya sambil meminkan ponselnya.

__ADS_1


"Bang! Kenalin dia Tata. Temen baru gue." Nindi mengenalkan Tata pada Andra.


"Oh, gue Andra." Singkat padat dan jelas.


Dalam hati Tata membatin dingin amat boss, kaya setan baru meninggal dinginnya. Eh emang setan bisa meninggal yak. Tata menoyor kepalanya sendiri.


"Mau jalan lo ama dia?" Tanya Andra sangat irit, yang membuat Nindi terheran heran.


"Iya lah. Gue udah dandan begini mau kemana emangnya? Gali kubur?" Nindi memutar bola matanya kesal.


"Buruan! Masih ada waktu 25 menit buat lo jalan." Nindi masih bingung dengan yang Andra ucapkan. Tapi seketika itu juga, ia ingat kalau abangnya juga akan keluar bersama Dion jam 7.


"Oiya, buruan Ta. 25 menit lagi."


"Kenapa sih lo? Ada apa 25 menit lagi?" Tata mengernyikan keningnya heran.


"Buruan. Urgent!"


***


Tata dan Nindi sampai di sebuah cafe yang Nindi ketahui adalah milik ayah Tata.


"Ta, ini cafe bokap lo?" Tanya Nindi sambil melihat sekeliling.


"Yoi. Buruan yuk masuk, udah gue pesen tempatnya." Tata berjalan di samping Nindi yang juga sedang memperhatikan sekitar.


"Selamat malam nona Tania. Tempat sudah tersedia. Makanan dan minuman akan kami antar." Manger cafe itu tersenyum kepada Tania.


Tania? Mungkin cuma namanya aja yang mirip.


"Tapi maaf nona, ada tiga orang yang ternyata juga memesan tempat di satu ruangan dengan nona. Apa nona keberatan? Jika ia, kami bisa meng cancel pesanan orang tersebut." Tutur manager cafe itu dengan sopan.


"Tidak apa. Mungkin mereka juga butuh privacy seperti kita. Kita duluan pak."


Tata dan Nindi kemudian berjalan maniki tangga ke lantai dua cafe. Pemandangannya cukup indah walau hanya di lantai dua. Setidaknya ada sebagian ruangan yang tidak tertutup atap. Membuat bintang terlihat jelas bagai taburan berlian.


"Gue suka pemandangan disini." Nindi bergumam dan kemudian mengulas senyuman kecil di wajahnya.


"Eh Tata, nama lo Tania? Gue baru tau." Nindi menginterupsi Tata yang sedang berfokus pada ponselnya.


"Eh, iya. Masa lo gak tau sih. Kita kan sekelas?" Tata mengernyit keheranan.


Mereka duduk dan menunggu pesanan datang.


Tapi sepertinya, lantai dua tidak benar benar kosong. Tiga orang pemuda berjalan menaiki tangga dan menuju tempat yang beralaskan sofa.


Nindi melihat sebentar dan yap!


Dua orang diantara mereka Nindi kenal. Dion dan Andra.


Nindi kemudian bertanya pada Tata mengenai nama cafe yang sedang mereka singgahi ini.


"Nama cafe lo apa Ta?"


"Cafe Lunar. Kenapa? Aneh ya namanya. Sebenernya namanya ga--" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Nindi lebih dulu memotongnya.


"Aduh tamat riwayat gue. Ketahuan pasti!" Nindi menunduk lesu dan menempelkan kedua telapak tangan ke wajahnya.


"Hei! Kenapa lo?" Tata heran sekaligus khawatir kepada sahabatnya itu.


"Lo liat tiga laki laki yang ada di pojok sana?" Nindi menunjukkannya dengan menggunakan lidah yang ditonjolkan ke salah satu pipinya seperti bakso.


"Iya gue liat. Terus kenapa? Lo kenal?"

__ADS_1


"Lo perhatiin deh baju salah satu dri mereka. Lo merasa ada yang aneh gak?"


"Ehmmm..." Tata terus memperhatikan ketiga laki laki tersebut.


"Oh iya. Itu baju yang dipake abang lo tadi pas kenalan ama gue."


"Nah! Pasti itu ada Dion. Gue gak mau ketahuan Ta. Gue masih belum nyelesain misi gue."


"Misi?" Tata bingung dan menaikkan salah satu alisnya.


"Nanti lo juga bakal gue ceritain."


Percakapan mereka terpecah saat pelayan datang dan mengantarkan makanan.


Tiga orang lelaki diujung sana merasa kesal.


"Loh. Nganterin kemana tuh pelayan? Kita kan disini. Gak liat apa mereka?" Dion emosi dan hendak menghampiri pelayan tersebut, namun Andra cegah.


"Mungkin ada orang lain di luar sana? Chill aja lah Yon. Ini si Glenn aja gak protes, padahal dia kan yang boking tempat ini."


"Tapi gak bisa didiemin. Gue bakal samperin tuh orang." Dion mulai emosi, ia keluar dari ruangan itu dan menuju tempat outdor, didapatkannya dua orang perempuan yang sedang bergurau.


"Woy! Lo siapa sih? Temen gue udah boking tempat ini semua kok lo masih bisa ada disini?" Dion kesal. Sangat kesal.


Pelayan yang mendapati akan ada perdebatn pun segera memisahkan dirinya. Takut jika ia akan menjadi lampaisan kemarahan.


Nindi masih menundukkan kepalanya semenjak tau kehadiran Dion.


"Udah lah. Biar aja, gue juga gapapa kali. Selagi mereka gak ganggu kita, gue mah fine fine aja." Glenn menepuk pundak Dion.


Siapa dia? Suaranya bukan suara bang Andra. Apa mungkin teman satunya lagi? Nindi membatin sambil tetap menundukan kepalanya.


"Nunduk bae lo! Kenapa? takut?"


Kini Tata berdiri di hadapan Dion sambil menatapnya dengan penuh amarah.


"Kenapa? Gue ama Nindi udah boking duluan tempat ini. Lagian gue juga gak ganggu lo. Belajar etika deh lo sama temen lo itu. Dia lebih waras dari lo ternyata. Haha!" Tata mengeluarkan senyuman yang sangat menakutkan.


"Nindi?" Andra terbelalak melihat adeknya yang sedang menundukkan kepalanya lekat lekat.


"Lo? Lo kok bisa ama si Tata? Lo kenal ama dia?" Dion menatap Tata curiga.


"Kenal lah orang di--" ucapan Tata lagi lagi terpotong oleh Nindi.


"Iya, gue temennya Tata. Kenapa lo? Emang gak boleh gue bertemen ma dia?" Nindi kini berdiri dan melemparkan tatapan nya tepat di manik mata milik Dion.


Dion yang merasa ada yang aneh langsung memalingkan wajahnya.


"Ta? Lo kenal ama pacarnya Andra dari mana?" Tata terheran heran dengan pertanyaan Dion.


"Pacar? Ora--" terpotong lagi dan lagi.


"Iya dia pacar gue Ta. Gimana sih lo, lo kan yang dukung banget gue sama Nindi. Iya kan??" Andra menggandeng Nindi dan mengedipkan sebelah matanya pada Tata supaya mengangguk menyetujui.


"Ohh..hmm, iya." Tata bingung dengan apa yang terjadi sekarang.


Sedangkan satu orang dengan pakaian merah maroon nya masih diam tak bergeming.


Kejadian apa aja yang gue lewatin selama gue pergi?


_____________


Yang udah baca like nya dong🥺

__ADS_1


Butuh support dan dukungan aku nya supaya rajin up😁


__ADS_2