She Is Nerd?

She Is Nerd?
Renggang


__ADS_3

"Pacar? Ora--" terpotong lagi dan lagi.


"Iya dia pacar gue Ta. Gimana sih lo, lo kan yang dukung banget gue sama Nindi. Iya kan??" Andra menggandeng Nindi dan mengedipkan sebelah matanya pada Tata supaya mengangguk menyetujui.


"Ohh..hmm, iya." Tata bingung dengan apa yang terjadi sekarang.


Sedangkan satu orang dengan pakaian merah maroon nya masih diam tak bergeming.


Kejadian apa aja yang gue lewatin selama gue pergi?


Glenn membatin sambil tetap menyaksikan keempat pemuda yang masih terus memperdebatkan soal pelayanan.


"Udah kali, balik ke tempat kita lagi yuk ah. Ribut ama cewe buat apa?" Glenn menepuk pundak Dion yang masih saja mengomel pada Tata dan Nindi.


"Itu juga ada pacarnya Andra. Nggak enak kali. Apa kalian berdua mau gabung sama kita?" Glenn kini bersuara setelah tadi ia hanya berdiam diri.


"Terima kasih sebelumnya ya, tapi kita bisa disini aja kok. Mungkin kalian juga butuh privacy." Tata berucap dan kemudian memberikan senyuman manisnya kepada Glenn.


"Owh, ya udah. Udah lah Yon, balik lagi yuk ah!" Glenn meninggikan suaranya.


"Awas lo ya! Dasar Matre!" Lagi lagi, Dion berbisik di telinga Nindi yang membuat Nindi merasa semakin kesal karena ia terus terusan di tuduh sebagai seorang yang matre.


"Bukan urusan lo!" Nindi yang tadinya hanya menatap lurus kini menoleh membuat jarak wajah antar Dion dan Nindi sangatlah dekat.


Menyadari itu, Nindi segera membuang mukanya dan kemudian duduk di kurisinya lagi.


***


"Oiya Ndra, tadi pas gue ke rumah lo katanya mau ada yang diomongin ama gue? Apa sih?" Dion bertanya sambil sesekali menyeruput vanila latte miliknya.


"Pas gue ama si nerd lagi di taman sekolah, lo denger apa aja?" Andra memicingkan matanya ke arah Dion, seolah ingin melahapnya hidup hidup.


"Gu--gue, gak tau kalo lo ada di taman sekolah kok Ndra." Dion gugup, bagaimana Andra tahu kalau dirinya waktu itu menguntit dan menguping pembicaraan mereka? Walau sebenarnya gak semuanya bisa ia dengar sih.


"Wait wait, nerd siapa? Anak baru? Ada apa aja sih selama gue student exchange kemaren? Keliatannya banyak banget yang gue lewatin." Glenn bertanya pada Dion dan Andra, ia benar benar ketinggalan masalah dan berita yang ada di CIHS.

__ADS_1


"Itu di sekolah ada anak baru gitu, nerd gitu sih orangnya. Tapi inti masalah yang lagi gue omongin sekarang tuh, kemaren pas gue sama si nerd lagi ngobrol di taman belakang sekolah, tapi taman yang udah jarang di datengin murid itu lho. Gue kan lagi ngobrol, eh ada yang nguping. Akhirnya gue selesaiin deh ngobrolnya ama si nerd." Andra menyindir tegas Dion yang sedang gelagapan mendengar tuturan Andra barusan.


"Ngobrol ngobrol, orang lo juga pelukan kok." Tanpa sadar, Dion membuka kartunya sendiri bahwa memang benar ia kemarin menguntit.


"Nah kan lo! Berarti lo nguntitin kita kan? Kalo gak nguntit, dari mana lo tau gue ama si nerd pelukan?" Andra menaikan salah satu alisnya meminta penjelasan.


"Udah udah lah. Masalah gitu doang pake diributin. Jadi gue ngajak kalian kesini tuh buat ngomongin sesuatu."


***


Rumah bak istana nya sangat sepi. Walau banyak pelayan yang menginap, Nindi merasa sangat kesepian setelah kehilangan sosok ibu.


Sosok ibu yang kini sangat ia benci. Bisa bisanya setelah tau perusahaan Daddy nya akan bangkrut, ia pergi dan menceraikan Daddy nya.


Tapi baguslah, ia jadi tau sifat asli dari sosok ibunya. Mungkin kini ia tengah menyesal karena terlalu cepat menceraikan Daddy nya. Atau sekarang ia sudah menikah lagi? Terserah! Itu bukan menjadi urusan Nindi lagi.


"Huuuh! Kabarnya Manuel gimana ya?" Nindi tersenyum dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas kamarnya.


Ia mencari nama Manuel dan kemudian mengiriminya pesan.


MINEnuel🙄


"I miss u so bad😭"


"Please jawab:)"


"Kamu baik baik aja kan? Aku disini baik baik aja."


"Selama aku pulang ke Indonesia, kamu jarang meneleponku. Bahkan sekedar mengirim pesan pun tidak pernah:')"


Banyak sekali pesan yang dikirim Nindi kepada sosok Manuel. Ia adalah pacar Nindi di Amrik.


Nindi merasa sedih ketika Manuel akhir akhir ini jarang mengiriminya pesan. Bahkan FaceTime pun tidak pernah. Padahal dulu sewaktu Nindi masih berada di Amrik, tidak pernah ada waktu terlupa untuk saling FaceTime.


Nindi merindukan itu.

__ADS_1


Pesan tidak kunjung dibalas, dibaca pun belum. Apa Manuel sedang ada masalah?


"Manuel, gue kangen sama lo." Nindi mulai berkaca kaca melihat pesannya yang tak kunjung dibaca, padahal dulu tidak ada satu menit untuk Manuel membalasnya.


"Apa lo udah ada yang baru disana? Apa lo udah bosen sama gue? Atau mungkin lo udah nyaman sama orang lain setelah gue pergi ke Indonesia?" Nindi terus bermonolog sambil memandangi fotonya bersama Manuel, sampai ia tak sadar bahwa Andra sedang melihat dirinya yang sedang menangis.


Andra sudah ada sejak tadi, sebenarnya ia akan mengajak Nindi untuk makan malam keluarga. Namun langkahnya terhenti saat mendapati Adiknya yang sedang menangis.


"Gue tau lo lagi sedih, gue kesini cuma mau ngajak lo turun buat makan. Daddy udah nungguin. Mungkin Manuel lagi banyak tugas yang harus dia selesaiin. Lo jangan mikir aneh aneh sama dia." Nindi terkejut saat mendapati abangnya yang tiba tiba masuk ke dalam kamarnya. Ia segera menyeka air matanya.


"Tapi bang, Manuel akhir akhir ini berubah." Matanya kembali berkaca kaca.


"Udah udah. Lo harus percaya sama dia, dia gak mungkin kok macem macem di belakang lo. Lo ama dia udah pacaran dua tahun lebih kan. Jangan pikirin yang negatif negatif. Lo harus positive thinking." Andra menenangkan adiknya itu sambil mengelus puncak kepalanya.


"Makasih bang. Lo emang abang yang terbaik buat gue." Nindi bangkit dan kemudian memeluk Andra.


"Iyaa. Buruan turun makan, Daddy udah nungguin kasian." Andra dan Nindi turun bersama menuju ruang makan.


Gue pastiin gak akan ada yang bisa nyakitin lo Nin, sekalipun pacar lo itu.


***


"Berangkat bareng gue apa naik taksi?"


"Gue naik taksi lah. Pasti si Diondel ondel udah nungguin gue di gang. Oh iya bang, gue tuh sebenernya sebel banget ama tuh orang. Masa kemaren gue udah nunggu dia nih di depan gang, eh dianya tiba tiba WA gue katanya gak bisa jemput. Awas aja kalo dia sampe gak jemput lagi." Nindi melipat kedua tangannya dan menghentakan kakinya kesal.


"Yee, gue kan udah bilang ke lo berhenti jadi asisten dia. Hidup lo kusut nanti kalo lo terus jadi asisten dia. Hahahah." Andra tertawa dan hanya mendapatkan decihan kesal dari Nindi.


"Gue gak mau berhenti karena dia juga berguna sih buat jadi tameng gue biar gue gak dibully ama cabe pacar lo itu. Hahaha." Kini giliran Nindi yang tertawa dan membuat Andra kesal.


"Dih, ogah banget gue punya pacar kek dia. Nempel sana mau nempel sini mau."


"Hahah iya juga sih. Dia pernah labrak gue gara gara gue deket ama lo. Eh pas gue deket ama Dion dia labrak gue lagi. Dasar tuh bocah, pengin banget gue keluarin dia dari sekolah."


____________________________________________________

__ADS_1


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________


__ADS_2