She Is Nerd?

She Is Nerd?
Salah Lempar


__ADS_3

"Jangan bilang lo mau ndeketin adek gue?"


"Nggak, tenang aja. Tapi kalo lo ngerestuin sih bisa bisa aja, hahahha." Keduanya pun tertawa cukup keras membuat Dion merasa kesal.


"Udah belum ngobrolnya woi. Bukannya ngomelin Glenn malah ketawa ketawa lo berdua. Ada apaan?"


"Gak ada apa apa, balik yuk Yon. Kita udah lama banget disini, kasian Andra nya keganggu pacaran nya." Ucap Glenn menggoda Andra.


"Ya udah si, gangguin orang pacaran juga gak baik Hahaha." Tawa Dion mendengar ucapannya sendiri.


"Nin, gue ama Dion balik dulu ya."


"Siap, nanti atau besok kesini lagi ya bang. Nemenin gue." Ucap Nindi dengan menaikan kedua alisnya.


"Busa diatur." Ucap Glenn, sementara Dion hanya mengerutkan kedua alisnya.


"Sejak kapan lo berdua jadi akrab?"


"Sejak tadi, gue bisa cepet akrab ama temen lo itu karena temen lo itu gak nyinyir, pendengar yang baik, intinya kebalikan dari lo deh. Makanya gue gak bisa akrab sama lo, dan gue juga gak mau akrab sih sama lo! Ha ha!" Ucap Nindi dengan malas memutar bola matanya dan kemudian bermain dengan ponsel nya lagi.


"Dih kebangetan lo ya!"


"Pulang pulang yoookkk!" Ucap Glenn sambil menarik tangan Dion supaya tidak ada pertengkaran diantara Don dan Nindi yang akan berbuntut panjang.


***


Keesokan harinya, ruangan serba putih harus Andra lihat lagi. Adiknya, Nindi kini masih tertidur di kasur yang ada di ruang VVIP itu. Nindi sengaja tidak pulang ke rumah untuk menjaga Andra. Pakaian untuk sekolah dan untuk ganti nantinya, sudah diantar oleh supirnya kemarin malam.


Andra terseyum melihat adiknya yang begitu mempedulikannya. Karena sewaktu Nindi sedang di Amerika, dan disaat Andra sedang sakit, tidak ada seorangpun yang memperhatikannya. Hanya Daddy nya saja dan itupun tidak lama. Mungkin menjenguk Andra 10 menit lalu pergi lagi ke kantor nya.


Tapi semenjak Nindi kembali lagi ke hidup Andra, seolah dunia kembali berwarna. Satu satunya teman masa kecil Andra setelah Nando yang ia tau sudah meninggal ketika masih berusia 8 tahun karena penyakit kanker darah.


Andra terus memandangi wajah adiknya itu sambil tersenyum sampai sampai ia tak sadar jika adiknya sudah terbangun dari tidurnya.


"Bang? Ngapain lo senyum senyum? Huaaa.." ucap Nindi dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka sambil sesekali menguap.


"Lo cantik Nin, makasih udah peduli sama gue."


"Aelah bang, santai aja. Gue bakal tetep disini sampai lo sembuh." Nindi tersenyum dan kemudian beranjak dari kasurnya untuk cuci muka.

__ADS_1


"Bang, kalo gue berangkat sekolah, lo kesepian gak? Atau gue disini aja nungguin lo?"


"Terserah lo, kalo mau sekolah juga gak papa. Gue juga udah lumayan sehat sih, paing besok gue pulang."


"Ya udah oke deh. Gue sekolah aja ya, gue mandi dulu."


"Okeeeyyyyy!"


***


Siang yang cukup terik dan panas ini membuat Nindi dan Tata harus memesan masing masing dua gelas es lemon.


"Ta, mau jenguk abang gue gak? Nanti lo ama gue ke rumah sakitnya." Ucap Nindi dengan pelan karena ia yang berpenampilan nerd ini tidak ingin orang tau siapa dirinya yang sebenarnya lebih awal dari yang dia perkirakan.


"Boleh sih. Lo nanti pulangnya dijemput sopir lo apa naik taksi?"


"Gue hari ini minta jemput si biar cepet aja gitu. Kalo pake taksi lama nungguinnya."


"Oke bagus. Gue nebeng!" Mata tergaris sempurna, bibir yang juga melengkung keatas dengan begitu sempurna tergambar di wajah Tata sekarang.


"Dih, gak usah begitu muka lo." Mereka berdua pun tertawa bersama sampai segerombolan kakak kelas yang berada di dua meja depannya terlihat melemparkan wajah jijiknya.


"Ya udah. AC disini gak sedingin di kelas juga si."


Mereka berdua pun pergi menuju kelas mereka. Tapi sebelum menuju kelas, Nindi menyuruh Tata untuk menemaninya ke kamar mandi karena tidak tahan setelah meminum dua gelas es lemon.


"Ta, nanti lo tunggu luar aja. Tapi kalo lo mau masuk juga mungkin lo mau dandan sih terserah. Yang penting temenin gue, soalnya kalo gue sendiri pasti ada aja tu yang nge bully gue."


"Iya iya tuan putriiii!" Tata mengatupkan kedua telapak tangannya dan membungkuk seperti irang yang sedang memberi penghormatan.


Dari kantin menuju kamar mandi memang cukup jauh. Mereka harus melewati lapangan basket outdor yang terbilang cukup luas itu.


Nindi berjelan dengan cepat supaya ia sampai di toilet dengan tepat waktu.


Tapi tanpa terduga, satu bola melayang dan berhasil mengenai kepala indah milik Nindi, membuat kacamata yang ia gunakan patah dan menggores pipinya.


BUG!


"Aduhh!" Nindi segera saja memegangi kepala bagian kirinya itu yang terasa begitu nyeri.

__ADS_1


"Sorry sorry, tadi gue gak sengaaa-"


"Eh nerd, sorry sorry gue tadi terlalu semangat buat lempar bola ke dalam ring, eh malah mleset."


Tata yang tau jika itu hanya disengaja pun mengeluarkan suara indahnya.


"Heh kak Dion, lo bilang gak sengaja? Itu ring ada didepan lo, lo tinggal arahin ke depan masuk deh. Gak usah sok alesan gak sengaja. Gak sengaja kok melenceng sembilan puluh derajat." Suara Tata yang indah nan melengking ini berhasil membuat perhatian dari seluruh siswa siswi.


"Udah Ta, gue gak jadi ke toilet. Anter gue ke UKS." Nindi mengambil kecamatanya yang jatuh dan segera memegang pipi kirinya yang terasa perih dan mengeluarkan darah.


***


"Eh Ta, temen lo mana? Gak bareng lo?" Tanya Dion sambil celingak celinguk ke dalam UKS.


"Ngapain nyariin dia? Sebentar lagi mungkin lo bakal get out dari sekolah ini." Ucap Tata percaya diri dengan senyuman licik khasnya.


"Sok tau lo. Siapa lo? Cenayang lo nebak nebak gitu? Lagipula gue gak bakal dikeluarin juga kali." Dion melipat kedua tangannya didepan dada sambil tersenyum licik membalas.


"Buruan mana temen lo?"


"Nggak usah nyari dia. Gue ama dia mau pergi ada urusan."


"Oh gitu?" Ia menjawab singkat percakapannya dengan Tata karena memang dia sudah cape berbicara dengan makhluk seperti itu. Tapi dengan menjawab singkat seperti itu bukan berati Dion tidak kepo dengan apa yang akan dilakukan Nindi dan Tata. Ia pergi dari hadapan Tata dan mengawasinya dari jauh.


Dari jauh ia melihat Nindi yang keluar dari UKS dengan kapas yang menempel di pipinya.


Dion masih tetap mengawasi Nindi dan Tata yang ternyata sudah masuk ke dalam mobil. Dengan cepat, Dion segera berlari menuju parkiran dan langsung menaiki mobilnya untuk menyusul kedua makhluk berjenis kelamin perempuan itu.


Untung saja alam kini tengah berpihak padanya. Mobil yang ditunggangi Nindi itu harus berhenti karena lampu merah, membuat jarak antar mobil Nindi dan Dion tidak terlampau jauh.


Dion terus mengikuti kedua makhluk itu sampai tiba di suatu tempat.


"Rumah sakit? Ngapain mereka kesini?" Ucap Dion bingung sambil masih dengan mata yang terus menatap pergerakan kedua perempuan itu.


____________________________________________________


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________

__ADS_1


__ADS_2