
Minggu pagi yang cerah. Burung burung bernyanyi bersahutan, serta gesekan ranting yang terkena angin menjadi instrumen pengiringnya. Kini Nindi tengah berada di ruangan gym nya.
Sudah hampir tiga puluh menit Nindi berolahraga. Ia merasa badannya sekarang sedikit lebih berisi karena Nindi sudah sangat jarang melakukan olahraga.
"Fyuuh udahan kali ya..besok lagi ah, sedikit sedikit." Nindi mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil dan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
"Bang, 2 minggu lagi sekolah ulang tahun. Dan akhirnya saat yang gue tunggu bakal dateng juga. Huhuw." Ucap Nindi bersemangat kepada abangnya itu.
"Ya gue juga nungguin banget sih. Oiya btw, gue udah tau siapa dalang yang bikin sekolah selalu minta dana."
"Serius? Siapa siapa? Si kepsek bangsul itu kan?"
"Iya salah satunya."
"Hah? Jadi bukan dia aja?"
"Bukan. Tapi yang jelas dia yang ngetuain ini semua. Jadi bisa dibilang dia dan kacung kacungnya yang ngorupsi duit sekolah."
"Ishh! Udah gue duga. Kita lapor ke Daddy?" Tanya Nindi.
"Jangan dulu. Kita berdua dulu aja yang handle ini. Nanti kalau udah semua bukti terkumpul baru kita lapor. Soalnya buktinya baru cuma dari video cctv yang kita pasang."
"Oo..oke oke!"
***
Waktu berputar begitu cepat. Kali ini, pukul 13.00 Nindi ingin mengajak abangnya untuk pergi makan di sebuah cafe. Yang jelas kali ini bukan di cafe milik Glenn.
"Bang, ke cafe kuy!" Ajak Nindi kepada Andra yang kini tengah berbaring sambil memainkan ponselnya.
"Mager. Lo aja sono ajak Tata." Ucap Andra datar.
"Aelah bang. Udah lama kita gak makan berdua di luar. Ayo lah, please.." pinta Nindi kepada abangnya sambil mengatupkan kedua tangannya pertanda memohon.
"Sumpah gue mager Nin. Kita pesen aja makanan nanti kita makan bareng di gazebo depan."
Sepertinya, Nindi akan mengubah rencananya. Dari makan di luar menjadi makan berdua dengan Andra di rumah saja.
"Oke oke. Buruan pesenin pizza, pasta, sama sturbacks!"
"Siap tuan putriii!"
"Hehe, buruan!"
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, pesanan pun datang.
"Yuhuu, akhirnya dateng juga."
__ADS_1
"Puas lo? Mau apa lagi?"
"Bang, perasaan seumur hidup gue. Gue kok gak pernah tau lo punya cewek? Gak ada niatan punya cewek?" Tanya Nindi tiba tiba sampai membuat Andra tersedak pasta.
"Uhuk uhuk!"
"Ngapain tiba tiba tanya begitu?"
"Gapapa sih. Gue cuma heran aja lo ganteng, cewek banyak yang ngantri, tapi kok lo gak pernah punya pacar?" Ucap Nindi dengan tatapan curiga dan tiba tiba mengeraskan suaranya.
"Ya ampun! Jangan bilang kalo lo gak suka cewek? Bang tobat please, serius deh cewek banyak diluar sana. Lo tinggal pilih dapet deh." Ucap Nindi dengan kecewa.
"Ngaco lo. Gue masih suka cewe kali gurl, masa iya gue belok? Kalo gue belok udah gue pacarin tuh Dion atau Glenn!" Ucap Andra frustasi.
"Syukurlah kalo lo masih normal. Tapi kenapa lo gak pernah punya cewek?"
"Gapapa sih, sebenernya gue tuh nungguin seseorang. Gue udah suka dia dari lama, cuma dianya aja kek kurang peka gitu deh..." ucap Andra dengan wajah sendu nya.
"Hah? Siapa?" Tanya Nindi kepo.
"Nanti lo juga pasti bakal tau sendiri kok. Udah lah ngapain malah bahas masalah percintaan gue? Lo sendiri gimana?"
"Gue gak gimana gimana. Yang jelas gue udah move on, dan ya gitu deh pengin sendiri gitu."
"Inget kata gue lho, setidaknya lo bales perasaan Dion."
"Iya bang Andraaaa yang setia nunggu satu cewek walau cewek itu gak ngelirik ke abanggg.... hahahahahhaha.." tawa Nindi pecah setelah mengeluarkan kalimat sarkas tersebut.
***
Hari Minggu telah berlalu berganti hari berikutnya. Nindi masih berangkat ke sekolah seperti biasa dengan dandanan culunnya.
Kini, ia dikelas bersama Tata berbincang bincang ngalor-ngidul gak jelas. Sampai tiga orang yang tiba tiba datang mengacaukan pembicaraan mereka.
"Woy Ta, bagi nomer temen lo yang kemaren dong." Ucap Sasha sambil menyerahkan ponselnya.
Nindi yang mendengar tuturan Sasha barusan sempat menyikut lengan Tata kecil.
"Buat apa?" Ucap Tata ketus.
"Ya buat gue simpen lah. Terus juga siapa tau kalo gue mau ajak dia hang out gue tinggal telepon dia."
"Lo ngajakin dia temenan sama lo, karena lo tau dia anak orang kaya kan?"
"Kalo iya kenapa? Lo juga temenan sama dia juga gitu kan?" Ucap Sasha sewot.
"Helloo, gue temenan ama dia bukan karena dia kaya ya, gue udah temenan ama dia dari kecil. Bokap gue ama bokapnya sahabatan!" Ucap Tata tersenyum sinis.
"Ya udah bodo sih. Buruan nih isi nomernya temen lo itu!" Bentak Sasha pada Tata.
__ADS_1
"Bisa baik baik gak sih lo ngomongnya! Lo yang butuh, lo yang gak respect!"
"Oke, Tata gue minta nomer Anindira temen lo itu dong!" Ucap Sasha tersenyum beberapa detik dan kemudian memunculkan wajah judesnya kembali.
"Siniin hp lo!" Tata merebut ponsel Sasha kasar.
"Nih! Gak usah ngajak macem macem sama dia. Jangan lo porotin dia juga!"
"Gue bukan lo!" Ucap Sasha sambil tersenyum sinis.
Sasha dan kedua temannya pun pergi keluar kelas meninggalkan Tata dan Nindi.
"Ta, lo tadi kasih nomer gue beneran?"
"Enggak lah gila. Nanti lo liat aja dia pasti emosi banget."
"Seriusan lo? Emang nomer siapa sih yang lo kasih?"
"Ada lah, tunggu aja. Nanti dia juga pasti nyamperin gue sambil ngamuk ngamuk. Hahahha!" Mereka berdua pun tertawa bersamaan.
***
Sasha dan kedua temannya kini sedang berada di kantin. Seperti biasa, kerjaan mereka bertiga selain centil ke cowo cowo, juga kadang membully mereka yang berpenampilan seperti Nindi. Entah itu kakak kelas, maupun adek kelas. Ia merasa bisa berkuasa karena posisi ayahnya yang sebagai kepala sekolah.
"Girls, akhirnya gue bisa dapetin nomer tuh Temennya Tata."
"Bagus deh, kita ajak jalan aja gimana nanti?" Ucap salah satu teman Sasha.
"Oke, gue telepon sekarang aja kali ya?"
"Okeee!" Ucap kedua teman Sasha bersamaan.
Sasha membuka ponselnya dan mengetikkan nama Anindira di kontak ponselnya. Ia meneleponnya dan,
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu? Permasalahan AC anda tidak akan lama lagi, karena anda menghubungi pihak yang tepat!" Ucap seorang lelaki dari sana dengan menawarkan jasanya untuk memperbaiki AC.
"Wait, gue gak salah telepon orang kan ini? Kok malah tukang AC yang jawab telepon gue?"
"Salah nomer kali lo?"
"Iya kali ya? Tapi disini tulisannya ANINDIRA." Ucap Sasha bingung.
"Arghkh, sialll si Tata ngerjain gue pasti ini!" Sasha bangkit dari tempat duduk nya di kantin dan pergi kembali ke kelas untuk mengahmpiri Tata meminta penjelasan.
"Guys, balik ke kelas!" Ajak Sasha pada kedua temannya dengan nada yang ketus.
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
__ADS_1
____________________________________________________