She Is Nerd?

She Is Nerd?
Sad Ending


__ADS_3

"Yee, gue kan udah bilang ke lo berhenti jadi asisten dia. Hidup lo kusut nanti kalo lo terus jadi asisten dia. Hahahah." Andra tertawa dan hanya mendapatkan decihan kesal dari Nindi.


"Gue gak mau berhenti karena dia juga berguna sih buat jadi tameng gue biar gue gak dibully ama cabe pacar lo itu. Hahaha." Kini giliran Nindi yang tertawa dan membuat Andra kesal.


"Dih, ogah banget gue punya pacar kek dia. Nempel sana mau nempel sini mau."


"Hahah iya juga sih. Dia pernah labrak gue gara gara gue deket ama lo. Eh pas gue deket ama Dion dia labrak gue lagi. Dasar tuh bocah, pengin banget gue keluarin dari sekolah."


"Lah kita kok malah bahas si cabe? Buruan, nanti lo terlambat ampe gang lho."


"Ya udah oke. Duluan ya bang." Nindi berangkat dengan melambaikan tangannya pada sang kakak.


***


Sekarang Nindi sudah berada di dalam mobil milik Dion. Untung saja tadi ia tepat waktu sampai di gang kecil itu.


Hening. Tak ada yang mau memulai pembicaraan seperti pada saat pertama kali Dion menjemput Nindi.


Dion masih terfokus pada jalanan sampai satu kalimat tiba-tiba saja terlontar dari mulutnya.


"Ada hubungan apa lo ama Andra?" Tegas Dion tanpa basa basi.


"Enggak ada kak. Kenapa emangnya?"


Kepo banget, kepo kepo kepo!


Dalam hati Nindi mengatai Dion sambil tersenyum samar.


"Kemaren kok bisa Sih Andra peluk lo?" To the point. Tanpa basa basi yang membuat Nindi sampai terkejut.


"Kemaren kakak liat? Kakak denger apa aja? Gak denger kan?" Sungguh, rasanya ia ingin menghilang dari mobil Dion ini. Nindi gelagapan menjawab tuturan Dion barusan.


"Liat lah. Kalo denger sih gue gak terlalu denger dengan jelas, cuma gue tuh denger lo ngomong bongkar bongkar. Emang bongkar apa sih?" Tanya Dion sesekali menoleh pada Nindi yang menatap lurus jalanan.


"Ehmm, salah denger kali kak."


"Oh, ya udah. Gak penting juga sih." Dion kembali terfokus pada jalanan. Akhirnya sampailah ia di sekolahannya dan menurunkan Nindi di parkiran yang lagi lagi mendapat tatapan benci dari siswi yang berlalu lalang.


"Ya udah kak. Aku mau ke kelas, kalo butuh tinggal samperin aku aja." Nindi berpamitan pada Dion dan segera berjalan menjauh.

__ADS_1


"Ya ya ya!" Malas Dion meladeninya.


Selama perjalanan Nindi tetap menundukan kepalanya.


"Eh Nin! Ke kelas bareng yuk, ada yang perlu lo jelasin ke gue." Tiba-tiba Tata datang dari belakang Nindi yang membuat Nindi sedikit terkejut.


"Eh elo Ta. Gue kira siapa, butuh penjelasan apa lo?" Nindi berucap dengan suara yang lirih.


"Yang masalah lo pacaran ama abang lo lah! Emang bisa apa lo lacaran ama abang lo?" Tanya Tata polos.


"Gue jelasin di kelas. Disini banyak banget setan yang lagi ngawasin gue. Hahaha." Nindi terkekeh sambil melihat kanan dan kirinya melalui ekor matanya.


***


"Jadi, penejalsannya gimana?" Tanya Tata langsung.


"Intinya langsung aja ya. Gini nih, pas itu Dion dateng ke rumah gue. Nah ga mungkin kan gue dandan nerd gitu, bisa curiga dia kok bisa nerd kaya gue ada di rumahnya bang Andra. Nah gue tuh yang bukain pintu dia. Dia heran dong kok ada cewe di rumah abang gue, karena dia gak pernah liat gue karena gue kan selama tujuh tahun netap di Amrik. Terus..." Nindi bernapas saat telah berbicara panjang lebar.


"Terus, daripada gue ngaku kalo gue itu nerd yang ada di sekolah yang udah dia bully, Gue ngaku deh kalo gue pacarnya abang gue. Nah begonya dia percaya. Hahah" Nindi tertawa dan mendapat devaakn kesal dari Tata.


"Lah malah ketawa? Buru lanjutin. Penasaran gue."


"Ya pokoknya gitu lah. Gue masih mau nyamar, dan gue bakal bongkar jati diri gue tepat saat ulang tahun sekolah ini." Nindi tersenyum dan menaikan kedua alisnya.


***


"Tugas tugas tugas! Kenapa mesti ada tugas! Gue capek." Dion kini sedang berada di meja belajarnya untuk menyelesaikan tugas fisika yang diberikan gurunya.


"Ngurusin orang lain lebih bikin gue bahagia daripada harus ngurusin tugas!" Dion mengacak wajahnya sendiri yang sudah terlihat sangat letih.


Dion bangkit dari bangkunya dan menuju kamar mandi.


"Gue ganteng, banyak cewe yang suka sama gue. Tapi si nerd bodoh itu kok kayaknya gak suka sama gue?" Dion sesekali meraup wajahnya dengan air dingin dan kemudian mengelapnya.


"Bodo ah! Gue deketin dia kan pengin tau apa yang dia sembunyiin. Fokus Dion, jangan sampe lo suka sama kutu buku gembel itu. Banyak cewe cantik yang layak lo dapetin." Dion masih terus bermonolog di depan cermin kamar mandinya.


Ia kemudian pergi menuju kasurnya dan memainkan ponselnya sebelum melanjutkan untuk menyelesaikan tugasnya lagi.


Si nerd lagi ngapain sekarang ya? Apa dia lagi perang ama nyamuk di rumahnya? Secara kan rumahnya masuk gang kecil.

__ADS_1


Dion terkekeh sendiri memikirkan apa yang barusan ia bicarakan dalm batinnya. Ia membuka nomor whatsap milik Nindi dan kemudian mengiriminya pesan.


Nindimanamana kaya gembelšŸ¤“


Ya, Dion memberi nama pada kontak Nindi dengan nama seperti itu. Nama yang sangat panjang untuk sekedar nama whatsap.


Ia mengirimkan pesan absurd pada Nindi.


"Woy! Lo lagi perang?"


Tak ada balasan cepat yang masuk pada ponselnya. Biasanya, jika ia mengirimkan pada para wanita di sekolahnya, tak butuh waktu 5 menit untuk mereka membalas pesan Dion.


Tapi sekarang? Nindi adalah satu satunya perempuan yang malah mengabaikannya pesannya.


Di lain tempat, Nindi masih berkutat pada laptopnya. Ia baru saja selesai menonton serial drama korea di netflix.


Drama dengan sad ending, sangat membawa pengaruh terhadap hati dan perasaan Nindi. Ia sangat bisa menerima feel drama tersebut, karena hubungannya sekarang yang sudah berada di ujung tanduk.


Tinggal ia sendiri yang harus berusaha dan memperbanyak doa supaya hubungannya tak berakhir seperti drama yang baru saja ia tonton.


Ponsel yang tiba tiba saja berbunyi membuat Nindi harus beralih dari laptopnya.


Nindi masih terisak karena drama tadi. Hatinya serasa diiris jika ia membayangkan dengan yang terjadi pada hubungannya sekarang.


Ia pikir, Manuel yang baru saja mengirimkan pesan padanya. Membalas pesan yang sudah Nindi kirim sekitar 12 jam lebih yang lalu.


Karena matanya yang masih dipenuhi dengan cairan bening itu, membuat ia tak bisa membaca jelas siapa yang telah mengiriminya pesan.


Nindi langsung saja menekan tombol telepon.


Teleponnya tersambung dan,,


"Nuel, kenapa lo baru bales pesan gue? Sesibuk itukah lo? Kenapa lo berubah? Lo gak kaya Nuel yang gue kenal sekarang! Lo berubah!" Tangisannya semakin menjadi jadi. Sedangkan orang disebrang sana hanya diam tak menjawab.


"Jawab Nuel! Atau lo udah punya seseorang yang bisa bikin lo nyaman disana?" Ia masih terisak.


"Hey! Tenangin diri lo." Tunggu, itu bukan suara Nuel.


"Gue bukan Nuel. Gue Dion woy! Salah orang malu kan lo." Terdengar jelas di telinga Nindi bahwa Dion sedang berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


____________________________________________________


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


__ADS_2