
Nindi segera memasuki rumahnya itu. Ternyata Andra masih duduk di gazebo depan rumah.
"Yee, udah sampe lo?"
"Brisik lo! Kenapa pas gue chat tadi disekolah gak dibales sih?"
"Yaelah lowbat hp gue. Eh ngomong ngomong lo jadi asistennya si Dion?"
"Yah gitulah. Katanya si biar gue gak dibully lagi. Gak tau juga sih maksud dia apa?"
"Atau jangan jangan Dion suka sama Lo!"
"Kalo ngomong di filter bang! Die suka ama gue? Jih, kelakuannya ke gue juga kasar banget." Nindi segara duduk di samping Andra dan meletakkan kedua tangannya di meja bulat yang berada di dalam gazebo.
"Ya kan tadi gue bilang jangan jangan. Kok lo langsung ngegas begitu? Atau lo yang suka ya sama Dion?" Kini Andra melirik pada Nindi dengan tatapan menggoda dan sesekali menoel pipi Nindi.
"Ngapain sih! Gak usah noel noel. Lagian siapa juga yang suka sama laki modelan kaya dia?"
"Ya bagus deh."
"Kok bagus?" Nindi menatap Andra dengan wajah bingungnya.
"Ya bagus aja. Kenapa lo?"
"Gak papa sih."
***
Dion sudah sampai dirumahnya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Ia masih bingung dan kepikiran soal Andra dan para wanitanya.
"Andra kan sahabat gue. Kok dia gak pernah cerita cerita ya?" Dion bertanya pada dirinya sendiri dan sesekali membuka instagram milik Nindi Wijaya.
"Wjynindi. Akunnya si nerd? Gue follow ah."
Dion sudah memfollow akun tersebut dan kemudian secara tidak sengaja, ia menekan satu foto sewaktu si nerd sudah seperti sekarang. Tapi mengapa wajahnya ia tutup?
wjynindi
❤️disukai oleh andracpl dan 397 lainnya
wjynindi aiskrim luvyuuu🙄
12 komentar
andracpl yah,, ngapain ditutup muka lo?
Andra mengomentari postingan si nerd lagi?
Dion membatin dalam hatinya.
Dion terus memperhatikan postingan itu sampai ia tersadar suatu hal.
Si nerd gak pake kacamata? Kuciran nya tumben kaya gitu? Gak kucir samping kaya di sekolah?
***
"Nindi, Daddy mau bicara sama kamu." Daddy nya menginterupsi Nindi yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
__ADS_1
"Mm, ada apa Dad? Serius banget keliatannya?" Nindi berjalan mendekati sang Ayah dan kemudian duduk disampingnya.
"Gini, sekolah minta uang lagi katanya untuk pembangunan. Gimana? Kita kasih gak?"
"Dad, gini ya. Kemarin aku jalan keliling keliling sekolah, sama sekali gak ada yang di renovasi tuh. Nindi makin yakin kalo ada yang korupsi di sekolah kita."
"Aku punya rencana. Dan aku bakal pastiin, sebelum ulang tahun sekolah, pelakunya bakal ketahuan."
"Iya Daddy tau. Cuma ini sekarang gimana? Daddy kasih atau gak? Kalau gak dikasih nanti pasti sekolah nganggep Daddy gak serius ngurus sekolah."
"Gapapa Dad. Kasih aja, tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Aku pastiin aku bakal bisa bongkar dalang dibalik ini semua. Kalau bisa aku permaluin nanti di depan semua siswa CIHS." Nindi mengeluarkan seringai kecil yang cukup mengerikan jika dikeluarkan oleh seorang perempuan.
"Ya udah terserah kamu aja. Nonton tv lagi gih sama abangmu."
"Ay ay captain!"
***
Pagi ini harus bangun lebih awal. Karena seperti perintah Dion, ia harus sudah ada didepan gang pukul 6 tepat.
Nindi bangun dri tidurnya pada pukul 5 lewat 15 menit. Masih ada waktu sekitar 45 menit untuk ia siap siap.
"Masih setengah jam lebih. Huh, males banget gue jam enam harus kudu bernagkat." Nindi mengomel dengan dirinya sendiri di atas kasurnya dan sesekali meregangkan tubuhnya.
Ketika ia sedang asik meregangkan tubuhnya. Ia teringat suatu hal.
"Oiya! Gue kan harus tunggu depan gang. Sini sampe gang sono kan butuh sepuluh menit. Haduuuhhh, si Diondel ondel ganggu banget sumpah!" Nindi beranjak dari kasurnya dan segera menuju kamar mandi yang masih berada di dalam kamarnya.
Tak butuh waktu lima menit untuk Nindi mandi sekarang. Ia langsung bersiap siap dengan berdandan layaknya seorang nerd, dan langsung memesan taksi online.
"Pagi bang! Gue berangkat yak!" Nindi berjalan begitu saja melewati Andra yang masih memakai baju tidurnya dan sedang memainkan ponselnya.
"Gue kemaren diajak Dion buat berangkat bareng. Gila banget tuh orang ngajak berangkat sekolah jam enam. Gue harus tunggu di depan gang kecil itu pulak, butuh waktu sepuluh menit dari sini ke sono." Nindi menjelaskan pada Andra sambil menunggu taksinya datang.
"Ciee makin sering aja nih bareng Dion. Awas nanti suka." Andra sesekali menggoda adiknya itu.
"Dih ogah gue seneng ama diondel ondel."
"Tuhkan, udah ada panggilan sayangnya."
"Tau ah!"
"Noh taksi lo dah dateng berangkat sono! Akhirnya ada yang anter lo jadi gak nyusahin gue, hahahha." Andra tertawa puas dan dibalas gerutuan kesal dari Nindi.
"Ish! Awas lo ya, gue bakal bilang ke si cabe kalo lo suka ama dia. Hahah." Nindi langsung berjalan menuju gerbang depan meninggalkan Andra yang masih berdiri didepan pintu rumahnya.
"Heh! Awas lo ya sampe lo bilang yang enggak enggak. Gue bilang ke Dion kalo lo tuh adek gue!" Andra berteriak. Namun sayang, yang diteriaki itu sudah pergi menggunakan taksi yang dipesannya.
***
"Haduh sempet gak ya, kurang lima menit lagi."
"Pak cepetan dikit ya."
"Iya neng, ini juga udah cepet kok."
Masih sekitar lima puluh meter lagi untuk Nindi supaya sampai ke tempat tujuan.
Namun daru jauh sudah terlihat mobil Dion yang terparkir di depan gang.
"Eh pak, berhenti sini aja." Supir taksi itu segera mengerem mobilnya dan menurunkan Nindi.
__ADS_1
Nindi segera berlari menuju mobil milik Dion.
"Eh kak, maaf terlambat."
"Dari mana lo? Kok gue gak liat lo keluar gang?" Ucap Dion yang tersadar akan kedatangan dari Nindi.
"Kakak gak liat kali, kan lagi main hp."
"Ya udah masuk!" Ketus Dion dengan suara dinginnya yang khas.
Nindi segera membuka pintu belakang mobil. Belum sempat ia masuk dan duduk, Dion lebih dulu menginterupsi nya.
"Duduk belakang? Lo kira gue sopir lo!"
"Ooh, maaf kak."
"Masuk!"
Selama perjalanan, keadaan didalam mobil sangatlah hening. Tak ada yang mau memulai percakapan terlebih dahulu.
Nindi ingin sekali membuka suara terlebih dahulu untuk bertanya apa tujuan Dion harus mengantarnya ke sekolah bersamanya? Bukankah itu malah akan membuat Nindi tambah dibully oleh fans nya Dion?
Tak ingin berlama lama, Nindi akhirnya mulai membuka suaranya.
"Emm, kak. Boleh tanya?"
Tak ada jawaban apapun dari Dion. Ia masih tetap fokus menyetir.
"Emm, oke." Suara Nindi melemah dan kemudian menundukan kepalanya. Dion yang tersadar pun langsung melirik ke arah Nindi.
"Kalo ngomong sama gue, tinggal ngomong aja kali. Gak usah ijin ijin. Yang punya mulut kan lo. Gue tinggal ndengerin. Mau tanya apa lo?"
"Gini, kakak ngajak aku berangkat sekolah gini, bukannya malah bikin aku tambah di bully ya sama fans kakak? Kan kakak janjinya kalo aku jadi asistennya kakak, aku gak bakal dibully?"
"Itu yang mau lo tanyain?" Dion melihat ke arah Nindi sekilas dan mengeluarkan senyumnya yang jarang orang orang lihat.
"Yaelah lo polos banget sih, gue juga bakal turunin lo didepan kali. Gak masuk sampai parkiran."
Nindi yang mendengarkan tuturan Dion barusan langsung membulatkan matanya.
"Terus gunanya kakak ngajak berangkat bareng untuk?" Tanya Nindi.
"Mending berangkat ama abang! Diturunin ampe parkiran." Nindi menggumam dengan suara yang sangat lirih. Tapi pendengaran Dion yang tajam masih bisa menangkap kalimat yang dilontarkan Nindi.
"Lo punya abang? Abanglo sekolah di CIHS?" Tanya Dion memicingkan matanya.
"Iya lah!" Tanpa sadar sosok Nindi yang asli keluar dari dirinya yang berpenampilan nerd.
"Lah? Lo bisa ngegas juga? Tapi suara lo kok kaya mirip ama seseorang. Tapi siapa ya?" Dion masih tetap fokus menyetir dan juga memikirkan banyak hal.
"Eh maaf, kelepasan kak. Gak mungkin lah suaraku mirip seseorang."
"Oh ya udah. Ini udah sampe, lo gak mau turun?"
"Em, em. Katanya mau nuruni aku didepan sekolah? Gak jadi kak?"
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
____________________________________________________
__ADS_1