She Is Nerd?

She Is Nerd?
Salah Tingkah


__ADS_3

Malam malam begini, Dion merasa sangat gabut karena tidak ada kerjaan yang bisa ia lakukan selain mengerjakan tugas sekolah syalan itu yang sangat banyak.


Dion kini sedang berbaring di ranjangnya sambil memainkan ponselnya. Ia hanya mengecek semua sosial media yang ujung ujungnya membuat dia bosan dan emosi.


Menurutnya, sosial media itu sangat lah kejam dan tidak bermutu. Dimana orang orang membuat kekurangannya menjadi bahan candaan, membuat dirinya terlihat begitu bodoh hanya demi ingin terkenal, dan berbagai sensasi sensasi tidak bermutu yang diciptakan oleh para orang orang bodoh.


"Sumpah, rumah gue ini kayak kuburan!" Ucap Dion frustasi.


Ia pergi menuju balkonnya dan duduk di salah satu kursi sambil memandangi langit yang malam ini dipenuhi dengan bintang.


Melihat ini, membuat Dion ingin sekali menghubungi seseorang yang selalu bisa menyinari hidupnya akhir akhir ini.


Tepat sekali, Dion kini menghubungi Nindi.


NINDI🤓


Berdering


Ya, kini Dion sudah mengubah nama akun Nindi. Dari yang namanya sangat panjang bak kereta api, menjadi sependek kurcaci.


Masih berdering dan akhirnya diangkat oleh Nindi.


"Halo kak? Ada apa telepon malem malem?" Ucap Nindi.


"Gapapa sih, gabut aja gue. Di rumah gue sepi. Tapi emang tiap harinya juga sepi sih."


"Oo, mau aku temenin?" Ucap Nindi dari seberang sana.


"Hah?" Ucap Dion bingung, apakah Nindi akan mendatangi rumahnya?


"Aku temenin telepon maksudnya kak, hehe"


Satu hal yang harus kalian sadari. Dion adalah orang yang bisa dibilang irit bicara, tapi mengapa ia menjadi banyak bicara jika itu berhubungan dengan Nindi?


"Oke oke. Lo belum tidur jam segini?" Tanya Dion.


"Belum kak, masih nyelesain tugas."

__ADS_1


"Hadehh, rajin amat. Tugas gue aja, gue tinggal noh di atas meja. Eh btw, lo pernah bilang ke gue kalo abang lo itu satu sekolah sama lo. Namanya siapa?"


Cukup lama tak ada jawaban dari Nindi.


"Eh, maaf maaf kak. Aku sambil mikir jawaban tugas. Emm, ada lah. Aku sebut namanya juga kakak pasti gak akan kenal." Ucap Nindi berbohong.


"Owh gitu, berarti dia seangkatan sama gue dong? Tapi kok gue gak pernah liat lo ama dia jalan bareng?"


"Dia lebih sering berangkat dan pulang bareng temen temennya. Jadi ya, jarang kelihatan aku pulang bareng dia."


"Oo, oke lah. Gue sebenernya pengin tau nama dia siapa, tapi kalo lo gak mau kasih tau gue gak akan paksa."


"Eh kak, aku mau tanya sesuatu. Dulu waktu aku pertama kali masuk ke sekolah, kakak kan benci banget sama aku? Tapi kenapa sekarang kakak malah suka sama aku? Apa yang bikin kakak suka sama aku?"


Di sini, Dion diam mematung. Sebenarnya dia sendiri juga bingung mengapa ia bisa suka sama orang yang jelas jelas bukan tipenya. Apakah itu hanya rasa suka sekedar suka karena kagum akan sifat Nindi? Atau suka yang...?


"Eh, gue baru inget kalo deadline kumpulin tugas gue besok. Gue matiin dulu ya, besok sambung lagi. Byeee!" Dion mematikan sambungan teleponnya dan langsung salah tingkah, ia segera membantingkan tubuhnya ke atas kasur.


***


"Apaan? Di nembak lo?" Ucap Andra sambil melipat kedua telapak tangannya dan tersenyum.


"Bukan nembak sih, dia cuma bilang kalo dia suka sama gue."


"Terus? Lo bilang lo suka juga kan dia?" Tanya Andra.


"Enggak."


"Ya ampun Nin, lo tau gak sih kenapa gue pengen banget lo itu bales perasaan Dion?"


"Kenapa?" Tanya Nindi.


"Lo tau, dia diputusin pacarnya waktu dia masih kelas sepuluh. Dia juga pernah deketin satu cewek dari sekolah lain, dan ditolak mentah mentah. Nah gara gara itu, Dion pergi ke club malam terus mabok mabokan karena frustasi kan jatohnya sama aja kek ditolak dua cewe gitu, walau yang pertama sempet pacaran sama Dion setaun lamanya. Dari situ juga, dia gak pernah lagi deketin cewek. Dia susah buat nerima orang baru. Lo juga pasti bisa liat kan? Banyak cewe cewe ngantri, tapi gak pernah ada yang dia tanggepin." Ucap Andra panjang lebar menjelaskan.


"Dan lo, betapa beruntungnya lo karena lo bukan bagian dari salah satu cewek yang ngantri itu. Tapi lo malah bisa dapetin hati Dion yang udah dia isolasi selama dua tahun."


"Iya bang gue paham. Gue kemaren emang nolak dia, tapi gue bilang ke Dion kalo mungkin bisa aja gue buka hati kalo dia emang mau berjuang. Itu juga biar buat ngeyakinin diri gue sendiri bang, kalo gue emang suka sama Dion karena pure suka. Bukan paksaan dari lo."

__ADS_1


"Oke, tapi kalo lo emang bener bener gak suka sama Dion. Lo jangan paksain juga ya, nanti gue bisa omongin bareng Dion kok. Gimana? Masih mau dilanjut apa udah stop aja? Karena gue emang gak seharusnya memaksakan perasaan lo, maaf."


"Gapapa bang. Tapi gue ini bingung sama diri gue sendiri. Disaat gue berpenampilan Nindi si Nerd, gue kalo ada di deket dia nyaman bang. Beda cerita kalo gue udah berpenampilan kayak gini," ucap Nindi sambil menujukan dirinya yang tidak berpakaian dan berpenampilan Nerd.


"Gue, itu gedeg banget kalo ngeliat dia, gue muak, gue benci! Padahal dia juga sama sama dinginnya kalo sama si nerd atau sama gue yang ini."


"Ehh, untuk yang itu gue gak bisa kasih penjelasan kenapa dan solusi kayaknya deh. Sorry, hehe" Andra nyengir dan kemudian membuka ponselnya.


"Eh bang, gue selalu cerita ke lo tentang masalah gue, apa pun itu entah masalah sekolah atau percintaan. Tapi kenapa lo gak pernah kek gitu ke gue? Apa lo pikir gue bukan tempat yang layak buat lo jadiin sebagai media yang bakal dengerin lo?"


"Nggak bukan gitu Nin," Andra menaruh lagi ponselnya dan duduk menyamping menghadap Tata.


"Masalah gue gak serumit hidup lo Nin. Masalah sekolah, gue gak terlalu ada masalah sih kecuali gue yang sekarang lagi bantu lo buat bongkar dalang dari orang yang selalu menggelapkan dana sekolah. Kalo percintaan?" Ucap Andra menggantung sambil memikir.


"Percintaan gue gak semulus perjalanan cinta lo. Gue nungguin satu orang dari dulu, dan itu gak pernah kesampaian. Gue sempet mau menyerah dan cari cewek lain, tapi entah kenapa dalam hati gue yang paling dalam tetep bilang kalo gue harus stay."


"Dih bodo banget lo bang. Kalo dia emang gak ngelirik sama sekali ke lo, jangan lo paksain. Itu malah bikin lo sakit hati. Sumpah gue penasaran ama tuh cewek. Siapa sih dia?"


"Ada lah, lo juga bakal tau kok." Ucap Andra sambil tersenyum.


"Lo gak ada niatan buat nyatain perasaan lo ke cewek itu?"


"Sempet, tapi ternyata ya dia emang gak suka sama gue. Mau gimana? Jadi gue batalin deh acara ngasih tau perasaan guenya."


"Pfftt, sadboy banget lo. Hahahhaha"


"Syalan, gue curhat lo malah ngetawain gue. Gak ada solusi ya ampunnn! adik yang sangat baik dan bergunaaa sekali." Ucap Amdra sambil tersenyum yang tak bisa Nindi artikan sambil kemudian secara tiba tib mencubit kedua pipi gembul Nindi yang sekarang sudah mengempes.


Itu sebenarnya membuat Andra sedih, ia lebih suka pipi Nindi yang menggembung daripada pipinya yang kurus begini. Ia jadi susah untuk mencubit pipi adiknya itu. Ia tak bisa menguyel nguyel dan menekan pipi chubby nya ke dalam sampai membuat mulut Nindi menjadi sedikit monyong dan hampir tertutupi oleh pipinya.


***


____________________________________________________


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________

__ADS_1


__ADS_2