She Is Nerd?

She Is Nerd?
Intensive Care Unit


__ADS_3

"Misi tuan, ada ambulans di luar." Security rumahnya datang menghampiri Nindi dan Daddynya.


"Baik. Bilang biar saya aja yang bawa Andra."


Ayah Nindi dengan sigap membopong Andra dan memasukannya segera ke mobil ambulans.


"Cepat, saya gak mau anak saya kenapa kenapa."


Sirine ambulans berbunyi dengan keras mengisi keheningan malam, dan mobil melaju dengan sangat kencang.


Di dalam ambulans, Ayah Andra dan Nindi tak henti hentinya menangis melihat keadaan Andra yang sudah sangat pucat.


Dengan secepat kilat, ambulans pun sampai dirumah sakit. Dengan segera Andra langsung saja dibawa menuju IGD untuk penanganan awal.


Para perawat dengan cepat mengeluarkan brankar dari ambulans untuk ditukar dengan brankar IGD, dan kemudian mendorongnya menuju ruang IGD.


"Bapak dan mba, tunggu diluar dulu ya." Seorang perawat menahan Nindi dan Daddy nya saat akan masuk menemani Andra.


"Ooo, baik baik. Tolong lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya."


"Iya Pak." Perawat tersebut menutup pintu dan kemudian masuk untuk menangani Andra.


Beberapa jam kemudian.


"Keluarga pasien Andra?" Seorang suster keluar dari ruang IGD.


"Saya ayahnya. Gimana keadaan putra saya."


"Putra bapak mengalami anemia. Dan Andra harus segera dibawa ke ICU untuk perawatan intensif. Jika bapak bersedia, silahkan tanda tangan disini." Suster tersebut menyodorkan surat persetujuan untuk segera ditanda tangani. Daddy Andra dengan cepat pun segera menanda tanganinya.


"Untuk pertanyaan lebih lanjut, bapak bisa ke ruangan dokter Effendy."


"Baik baik. Terima kasih sus."


Para perawat dengan segera membawa Andra untuk segera dimasukkan ke ruang CU (Intensive Care Unit)


"Kira kira bang Andra di ICU berapa lama ya Dad?" Tanya Nindi dengan tatapan kosong.


"Daddy juga kurang tau. Kita berdoa aja, semoga Andra cepat keluar dri ruangan itu dan segera di pindahkan ke ruangan VVIP."


"Iya, Dad. Ini udah jam lima pagi, Daddy bukannya harus berangkat kerja?"


"Iya sih, tapi kamu juga harus sekolah hari ini. Nanti gak ada yang nungguin Andra?"


"Bang Andra baik baik aja pasti kok Dad. Di ruangan itu pastinya banyak perawat yang siap sedia buat jagain bang Andra. Kita pulang aja sekarang. Nanti kalo aku udah pulang sekolah aku juga bakal balik ke sini lagi kok." Nindi tersenyum meyakinkan Daddy nya.


"Ya udah. Kita pulang dulu sekarang."

__ADS_1


***


"Jam setengah enam. Berangkat sekolaha apa enggak ya? Gue pengin jagain bng Andra tapi." Nindi bergumam sambil menjungkat jungkitkan ponselnya di tangannya.


"Oke Nindi, lo harus berangkat sekolah. Sepulang sekolah langsung ke rumah sakit. Nah iya iya, ini paling tepat sih." Nindi dengan mantap keluar dari mansionnya dan segera memesan taksi online seperti biasa.


Setelah menunggu beberapa menit, taksi pun datang.


"Kak Nindi?" Ucap supir itu memastikan.


"Iya pak." Nindi pun segera menaiki taksi tersebut.


"Kalau boleh tanya, kakak ini anak dari yang punya rumah ini, atau anak asisten rumah tangga?" Tanya supir itu. Mungkin karena penampilan Nindi yang lusuh.


"Emm, saya anak yang punya rumah."


"Wihh, berarti kakak ini anak dari keluarga Beawijaya? Wah, tapi setau saya keluarga Brawijaya cuma punya satu anak?"


"Owh, itu kakak saya. Saya dari kecil sudah di Amrik. Sebelum di Amrik, rumah saya dan keluarga bukan disitu."


"Oh gitu. Maaf ya kak udah tanya tanya."


"Gak papa pak."


Tak terasa dengan obrolan singkat tersebut. Nindi pun sampai di depan gerbang sekolahnya.


"Sudah sampai kak."


Nindi memasuki sekolah. Seperti biasa, setiap harinya Nindi selalu dipandangi aneh oleh para wanita dari adik tingkatnya, sampai kakak tingkatnya yang melihat Nindi dengan tatapan jijik dan benci.


Biasa aja ngeliatnya mbak mbak!


Nindi berjalan dengan cepat menuju kelasnya untuk memberi tahu keadaan abangnya itu kepada sahabatnya, Tata.


"Ta, gue mau curhat." Nindi duduk di kursinya dan berbicara dengan pelan.


"Apaan? Rumah lo berubah jadi kecil? Hahhaa."


"Ish gue serius. Gue stress banget, gue dirumah bakal gak ada temen buat perang lagi. Abang gue masuk rumah sakit. Tapi lo jangan kasih tau siapa siapa. Ini cukup jadi rahasia kita."


"Hah? Bang Andra masuk rumah sakit?" Tanpa sadar, suara nyaring Tata membuat seisi kelas menoleh dan tampak terkejut.


"Hah Kak Andra masuk rumah sakit?"


"Kok si nerd tau sih?"


"Hey nerd, eh Nin. Lo tau dari siapa kalo kak Nara masuk rumah sakit? Jangan bikin berita hoax ya lo!"

__ADS_1


"Emm, aku cuma denger aja sih. Aku gak tau bener apa gak."


"Oh, kalo cuma denger aja tuh gak usah nyebar nyebarin berita!" Ucap salah satu perempuan dengan dandanan yang mirip dengan Sasha.


"Iya maaf." Nindi melirik Tata dengan lirikan tajam.


"Ta, lo bisa gak sih belajar kalo kaget jangan ngebeo plus jangan keras keras suara lo." Nindi sedikit kesal dengan Tata, karena pasti sehabis ini akan banyak para wanita yang akan mendatangi Andra.


"Sorry sorry, mereka juga gak percaya kali kalo bang Andra masuk rumah sakit."


"Hmmm!"


***


"Ta, gue duduk disini. Lo pesenin gue salad buah aja."


"Baik tuan putri." Tata pergi menuju tempat pembelian di kantin untuk memesan makanan miliknya dan milik Nindi sahabatnya.


Nindi masih duduk diam sendiri di ujung meja kantin. Banyak tatapan yang menatap Nindi sekarang. Ada yang berbisik atau bahakan berbicara dengan begitu keras.


"Eh gue denger denger ada yang bikin berita hoax nih!"


"Gue juga denger. Masa iya sih orang bentukan begitu bisa deket ama Andra? Gak mungkin kan?"


"TAU TUH SI GEMBEL, GAK YSAH BIKIN BERITA YANG ENGGAK ENGGAK TENTANG ANDRA!" Ucap salah satu siswi dengan terang terangan dan suara yang keras.


Nindi muak mendengar itu semua. Ia kemudian berdiri dan meneriakan sesuatu.


"Terserah kalo kalian gak percaya. Yang jelas aku gak nyebarin berita bohong! Kalau kalian gak percaya kalian bisa pergi ke rumah sakit Medika!" Emosinya meledak, sampai sampai ia dengan cerobohnya memberi tahu nama ruma sakit yang sedang Andra singgahi.


Nindi berlari pergi menuju taman belakang sekolah yang sudah lumayan tua dan jarang dikunjungi oleh siswa siswi. Ia meninggalkan begitu saja pesanannya yang sudah ia pesan kepada Tata.


Nindi menangis sambil terduduk di salah satu bangku.


"Bang, mungkin gue harus hentiin penyamaran gue. Maaf gue gak bisa nerusin ini semua, gue capek bang. Apalagi dengan keadaan lo yang lagi begini." Nindi menangis sampai sampai ia hampir tak bisa melihat karena air mata yang tertahan oleh kacamat membanjiri nya.


"Aelah kacamata ni ganggu banget!" Nindi melepas kacamata dengan kasar.


Nindi kembali menangis. Ia menggunakan kesempatan ini untuk menangis. Mumpung tempatnya sepi dan juga ini merupakan tempat yang sering ia kunjungi bersama Andra.


"Bang, kalau gue boleh jujur gue kangen sama lo. Pokoknya kalau lo udah sadar, gue bakal maafin lo deh." Nindi terus saja bermonolog.


"Gue pengin main bareng lo lagi. Gue pengin perang bareng lo lagi. Cepet sehat bang." Nindi terus bermonolog dengan tatapan kosong lurus ke depan.


"Jangan nangis. Abang lo kalo tau lo nangis pasti dia juga sedih. Harusnya lo semangat, semangat doain dia biar cepet sembuh, semangat lah pokoknya." Suara seseorang dari balik punggungnya membuyarkan lamunan Nindi.


____________________________________________________

__ADS_1


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________


__ADS_2