She Is Nerd?

She Is Nerd?
Akrab


__ADS_3

"Ngapain lo? Ngetawain gue? Apa yang salah emangnya?"


Lo salah karena lo ****! Gue tuh pacarnya Andra, Dion begooo. Nindi berbicara dalam batinnya. Menertawakan Dion dalam diam.


Lo mau laporin gue ke diri gue sendiri? Nindi masih membatin smabil menundukan kepalanya mendengar dua pemuda itu memperdebatkan soal persahabatan.


Tanpa mereka berdua sadari, Nindi berjalan pelan meninggalkan mereka berdua. Telinganya panas jika harus mendengar ocehan tak berguna dari dua mulut seorang lelaki.


***


Bel pulang berbunyi, Nindi sebenarnya akan pulang naik taksi. Tapi Dion lebih dulu menyuruhnya untuk pulang bersama.


Mau tidak mau ia harus menurutinya karena ia juga masih sebagai asistennya.


"Heh! Buruan!" Dion menghampiri Nindi yang masih berdiri di depan kelasnya.


"Oke." Nindi memngikuti Dion berjalan menuju parkiran.


Sesampainya disana, tidak seperti biasanya kini Dion membuka kan pintu untu Nindi. Nindi pun merasa seperti ada yang aneh pada diri Dion.


"Ngapain bengong? Ini udah gue bukain juga!"


"Iya iya kak." Nindi sangat malas sebenarnya untuk berdebat dengan Dion. Ia masih memikirkan tentang kepala sekolah itu.


Mobil dilajukan, tapi mengapa bukan arah pulang? Nindi mu dibawa kemana? Dion mau menculiknya?


"Kak? Ini mau kemana sih, kan bukan arah ke rumah aku."


"Diem. Tinggal duduk aja sih di situ." Tukas Dion dingin.


"Oke." Nindi menunduk lesu. Perkataan dingin Dion barusan mengingatkannya saat ia pertama kali bertemu dengan Manuel. Sosok dingin pujaan hati para wanita di sekolahnya dulu.


Nindi masih menundukan kepala dan saat itu juga untuk menghilangkan rasa bosannya karena terus diam di dalam mobil Dion itu, ia mengambil benda pipih persegi dari dalam tasnya.


Nindi memainkan ponselnya. Membuka satu nama di kontak whatsapnya yang belum kunjung membalas pesannya. Ia tau jika Indonesia dan Amrik memiliki perbedaan waktu yang terbilang jauh. Tapi gak ada waktu kah Nuel untuk sekedar membalas pesan Nindi?


Setidaknya balas agar Nindi tak merasa cemas, agar Nindi tak berpikiran negatif tentangnya, agar Nindi bisa tidur dengan nyenyak.


Ia masih saja menscroll percakapan ia dan Nuel yang dulu dulu. Dimana mereka saling berbalas pesan tanpa harus menunggu. Ia tersenyum jika melihat pesannya bersama dengan Nuel dahulu.


Dion menyadari perubahan raut wajah Nindi. Ia melirik ke arah Nindi yang sedang memainkan ponselnya sambil tersenyum sendiri.


Dion yang emang dasar kepoan tapi gengsi, memulai menanyakan pertanyaan konyol.


"Lo gila? Tadi nunduk diem aja. Sekarang senyum senyum."

__ADS_1


"Eh, enggak kak. Aku cuma baca chat aja." Ucap Nindi tanpa memalingkan wajahnya ke arah Dion.


"Siapa sih liat!" Dion langsung saja merebut ponsel milik Nindi. Ia memegang di tangan kanan nya dengan tangan kiri yang masih memegang stir mobilnya. Ia melihat ke arah nama tersebut dan ya,,,


Terdapat nama MINEnuel🙄 yang menurut Dion itu adalah nama kekasih Nindi yang ia sebut sebut semalam saat salah menelponnya.


"Ini pacar lo?" Tukas Dion langsung. Harapannya seakan pupus untuk Nindi.


"I--iya kak. Kenapa ya?" Tanya Nindi gugup.


"Oh. Ya udah nih." Ucap Dion dan mengembalikan ponsel Nindi tanpa menjawab pertanyaan Nindi. Raut wajahnya berubah menjadi masam, kini ia masih fokus untuk menyetir.


Sampailah mereka berdua di sebuah cafe. Cafe yabg cukup jauh dari sekolahnya.


Dion membukakan pintu Nindi, yang membuat Nindi semakin yakin ada yang salah dengan Dion. Bahkan saat pertama kali Dion menurunkan Nindi di parkiran sekolah, Dion sendiri yang bilang tidak akan pernah mau membuka kan pintu untuk Nindi. Tapi sekarang?


"Buruan!" Ucap Dion dengan nada yang datar.


"Iya kak."


Mereka berdua memasuki cafe tersebut. Para pengunjung wanita yang melihat kedua pemuda ber seragama SMA berjalan berdamingan pun langsung saling berbisik.


"Eh cowoknya ganteng kaya malaikat, eh ceweknya bentukannya kek begitu."


"Jomplang! Hahah kaya mata air di pegunungan sama satunya kaya air di sungai ciliwung!"


Ucapan membenci terlontar dari berbagai mulut pengunjung disana. Dion yang jengah mendengarnya pun langsung membentak salah satu pengunjung yang tadi juga mengejek Nindi.


"Gak usah hina dia. Bahkan lo jauh lebih hina dari dia! Bisanya kok ngomongin orang!" Ucap tegas Dion datar dengan nanda yang super dingin.


Dion langsung menggandeng Nindi dan meleggang pergi menuju ruang yang sedikit memiliki privacy.


Mereka duduk berhadapan. Nindi masih kenundukan kepalanya, sedangkan Dion menatap tajam kepala Nindi.


Nindi yang merasa diperhatikan tak berani mendongakkan kepalanya. Tatapan tajam Dion pasti akan bertemu dengannya.


"Udah berapa lama lo pacaran sama pacar lo?" Dion bertanya yang membuat Nindi otomatis mendongakkan kepalanya tapi langsung membuang mukanya.


"2 tahun kak. Tapi akhir akhir ini dia berubah. Dia gak pernah kirim aku pesan." Tak sadar. Ini benar benar diucap secara tidak sadar. Nindi bru saja curhat mengenai isi hatinya pada Dion?


Dion yang mendengar itu sedikit iba, tatapan tajam nya melunak.


"Kalo lo ada masalah cerita ke gue aja. Mungkin gue bisa bantu." Dion memberikan senyuman super langka yang akhir akhir ini sering Nindi dapatkan.


"I--iya kak. Kakak belum punya pacar?" Nindi memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Belum, banyak sih yang suka ke gue. Tapi ada satu cewek yang udah berhasil nolak gue semalem." Ucap Dion menyindir Nindi yang memang semalam tak membalas pesannya.


"Oo. Mungkin cewek itu udah suka sama orang lain kali kak. Atau kakak gak menarik bagi dia?" Ucap Nindi polos tanpa menyadari bahwa Dion sedang menyindirnya.


"Iya kali ya. " Dion tersenyum lesu.


Pesanan mereka pun datang yang mengharuskan mereka untuk berhenti mengobrol sejenak.


Entah perasaan Nindi saja atau bagaimana, tapi saat, waktu, dan di tempat itu juga Nindi merasa sangat akrab dengan Dion. Bercanda bersama, saling mecurahkan isi hatinya, atau hanya sekedar bermain permainan ayam ayaman.


***


"Makasih kak. Aku jadi bisa ngelupain masalah ku walau cuma sebentar." Nindi tersenyum pada Dion. Ia segera keluar dari mobilnya. Ia berdiri di depan gang menunggu Dion pergi dengan mobilnya.


"Gak pulang kak?" Ucap Nindi bingung.


"Ehmm, gue cuma mau bilang sama sama. Kalo lo butuh temen curhat bisa ke gue. Gue duluan." Dion memperlihatkan senyuman langkanya sekali lagi ke Nindi.


Mobil yang dipakainya melaju dengan cepat.


Nindi segera memesan taksi online untuk pulang ke rumahnya.


Selama perjalanan Nindi masih memabayangkan sewaktu ia berada di cafe tadi bersama Dion.


Ternyata Dion tak se menyebalkan yang dia kira. Dion cukup asik untuk di ajak mengobrol.


Ponselnya berbunyi. Tertera nama MINEnuel🙄disana.


Manuel membalas pesannya, Pesan yang membuat Nindi harus menunggu selama satu hari lamanya.


MINEnuel🙄


"Sorry, aku banyak tugas yang harus aku selesaiin."


"Tolong ngertiin aku. Fokus aku gak hanya ke kamu aja."


"Semenjak kamu pulang ke negaramu, aku menyuruh diriku sendiri supaya bisa fokus ke tugas tugas aku."


Tiga pesan yang menurut Nindi sangat singkat. Apalagi pada pesan ke tiga, dia bilang mau fokus. Apakah berarti selama ini Nindi telah mengganggunya? Tapi tidak apa, setidaknya Nuel membalas pesannya.


Taksi berhenti dan menginterupsi Nindi yang masih berkutat pada ponselnya itu.


"Udah sampe Neng."


____________________________________________________

__ADS_1


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________


__ADS_2